30.1.12

ENTIKONG-TEBEDU; KITA DAN TETANGGA


Perbatasan dari kejauhan
Melanjutkan cerita yang tertunda tengtang negeri batas. Setelah menikmati malam di penginapan sekedarnya yang jauh dari kata layak, pagi itu kami coba mengamati kehidupan sekitar Entikong. Penginapan kami hanya berjarak 50 meter dari perbatasan. Ini sungguh memudahkan kami untuk mengamati kehidupan di negeri batas. Pemandangan pertama yang kami liat adalah kantor imigrasi dan kantor karantina pertanian dimana salah seorang temanku bertugas. Kantor imigrasinya tergolong cukup sederhana dibandingkan kantor imigrasi disebelahnya. Dari wajah dan tampang petugas di sana  secara kasat mata pun terlihat bahwa mereka memang lebih baik dari kita. Tapi cukup disayangkan tempat ini tidak boleh diabadikan dalam bidikan kamera. ketika aku mengeluarkan kamera seorang petugas disana langsung menghampiri ku dan menyampaikan larangannya. sampai saat ini masih belum menemukan jawaban kenapa  tidak diperbolehkan mengabadikan gambar di daerah ini. 


Kantor Karantina Pertanian Entikong
Kantor Imigrasi di perbatasan ENTIKONG-TEBEDU


Setelah mengamati bangunan di negeri batas ini kami pun mengamati masyarakat yang lalu lalang di pintu batas ini. Setelah bertanya-tanya pada beberapa orang ternyata mereka adalah penduduk Entikong yang akan berangkat kerja di negara sebelah. Info lain menyebutkan mereka kebanyakan bekerja pada sektor perkebunan terutama sawit.  Keren yah mereka, kerja aja harus beda negara. :p  Dan yang lebih menyedihkan adalah bahwa di negeri batas ini bahasa melayu malaysia lebih kentara terdengar dibandingkan bahasa indonesia atau bahasa dayak. Transaksi perdagangan pun lebih banyak menggunakan ringgit dibandingkan dengan rupiah. Sebagian dari masyarakatpun lebih memilih untuk berbelanja ke kota Khucing dibandingkan Pontianak. disamping harganya murah, akses ke kota Kuching pun terasa lebih mudah dibandingkan ke kota Pontianak. 
Suasana Perbatasan yang sempat terekam
Yaps inilah yang banyak di alami oleh masyarakat di perbatasan. Tentang rasa Nasionalisme dan tuntutan kehidupan. Negeri-negeri kita di ujung-ujung peradaban memang harus di akui jauh tertinggal dari tetamgga sebelah. Jauh dari kata layak secara kemanusiaan. ketika mereka mencoba mencari penghidupan ke negeri tetangga mereka pun diklaim tidak nasionalis. Dilema penduduk perbatasan kelangsungan hidup atau hidup dalam keterbatasan demi sebuah kata nasionalisme?

Pada negeri batas inilah sejatinya kita bisa melihat siapa dan bagaimana kita dibandingkan tetangga. Yang pasti jika berdiri di garis batas Entikong ke arah kota Kuching, kita bisa melihat jalanan yang rapi, mulus dan indah  tapi jika kita coba memutar badan ke arah Pontianak pemandangan sebaliknyalah yang akan kita lihat. Inilah cerita yang harus menjadi pelajaran terutama buat ku bahwa kita ternyata masih sangat jauh tertinggal dari negeri tetangga ini. Dan saya akhirnya memahami mengapa orang-orang di negeri batas ini lebih memilih menghabiskan hidupnya untuk negara tetangga. 
Menju Entikong
Dan tiba-tiba aku pun tertegun siapakah yang peduli mereka? kapankah peradaban di perbatasan ini akan berubah...hmmmmmm saat ini hanya  cuma bisa mereniung. belum bisa lebih dari itu...:D
(catatan perbatasan, April 2011)
Armada Tua Pontianak_ENTIKONG

Read More......

27.1.12

DIALOG KECIL DENGAN MEREKA

Huaha waktu sudah mengalir saja ke tahun 2012. Tiba-tiba aku  tersentak dan sedikit terkaget. Begitu cepat dan teramat cepat. Sementara masih banyak ceceran mimpi, tugas, hutang dan tanggung jawab yang masih harus diselesaikan. Lagi-lagi hanya berguman andaikan waktu yang kita miliki lebih banyak dari tugas dan tanggung jawab yang kita punya. hu..hu...berdoa dan berharap semoga menjadi manusia yang lebih bijak dan efektif memanfaatkan waktu... toh dalam kitab suciku Allah pun telah menyampaikan pesannya untuk kita...tapi lagi- lalai dan lalai.

Lalu suatu siang beberapa waktu yang lalu, profesorku  tiba-tiba bertanya, bagaimana tahun 2011 bagi hidupmu. Tertegun sebentar mencoba menelaah pertanyaan pak prof. karena nga nyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya.  biasanya selalu bertanya nga jauh-jauh tentang report dan paper.   kujawab pertanyaan yang masih terasa asing itu, sebenarnya lebih ke curcol sih..he..he..(aji mumpung ...ada yang dengarin gundahan hati :P ).  "Jika ku coba mengkalkulasi hanya 30 % dari mimpi dan harapan yang terwujud di tahun 2011. sempat kecewa dan   bahkan sempat sedikit berputus asa. but come what may, i would do the best. Tapi luar biasa pak , aku mendapatkan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini akhirnya mampu menghapus kekecewaan dihati. Akhirnya saya percaya akan kata-kata keadilan pak, gagal di satu bagian,  insyallah dipermudah dibagian yang lain".Si bapak hanya manggut-manggut mendengarkan curhatan nga jelas dari ku. Tapi setelah itu si bapak kembali bertanya report yang selalu membuatku pusing...hu..hu....

Tak lama setelah itu tiba-tiba si bapak melanjutkan pertanyaannya...then what next plan?  dan tidakkah kamu memikirkan untuk segera menikah?. Huaha pertanyaan ini terasa lebih memusingkan dari report dan paper. Hanya bisa tersenyum dan terdiam menanggapi pertanyaan si bapak. "semua akan datang, jika kamu dinilai sudah siap untuk menjalaninya"  si bapak menimpali. Timpalan si bapak  mengakhiri pertemuan siang itu...Dalam hati aku berguman; berarti aku memang belum siap yah untuk menjalaninya... 

Dialog kecil inilah yang kadang dibelakannya membawa ku pada pikiran panjang. termasuk dengan orang-orang yang setia dan tulus membimbingku. celoteh sederhana yang kadang hanya disampaikan dengan kata singkat dan sulit dimengerti. Tapi itulah cara mereka mengajariku.

Read More......

6.12.11

ENTIKONG_TEBEDU;CERITA NEGERI BATAS


Entah mengapa Garis batas bagiku adalah sesuatu yang menarik. Sedikit terinspirasi oleh  kumpulan catatan perjalanan "Garis Batas" kang Agustinus Wibowo yang bercerita tentang garis batas di Timur Tengah . Dahsyat memanng.. Buku ini bercerita tentang dunia yang utuh namun tercerai berai oleh politik, perang, budaya, geografi bahkan kadang agama. Sempat berhayal dan berimajinasi konyol tentang dunia yang tak terkotak  dalam bentuk negara dan bangsa. everyone can go anywhere without passport  and  visa..he..he...(visa: masalah  utama para traveler)

Garis Batas Tepedu Entikong

Lalu bagaimana dengan garis batas di negera kita tercinta ini.  Perbatasan laut mungkin tidak se unik perbatasan darat. Laut telah  menjadi pembatas yang nyata bagi negara kita  dan negara tetangga. Namun sebaliknya pada Garis batas darat kita  menyaksikan secara nyata sebuah aris yang benar-benar memisahkan manusia dalam budaya dan aturan yang sungguh berbeda.  Bahkan di pulau sebatik Kalimantan Timur ada sebuah rumah penduduk  masuk dalam administrasi 2 negara. unikya..he..he..Sebuah sensasi yang memang harus ku rasakan. Setidaknya  ada tiga garis batas darat yang telah  masuk  dalam daftar tempat yang harus ku kunjungi, Entikog-Tepedu, Papua-PNG dan Atambua-timor leste. Semoga terkabul Amin.

Dan Akhirnya Bulan April 2011 kemaren saya merasakan salah satu sensasi garis batas  itu  Entikong-Tepedu. Berbekal Informasi dari Pak Wawan, seorang teman prajabatan yang  bertugas di karantina pertanian Entikong, Aku dan seorang teman yang kebetulan bernama yeli juga tapi beda spelling 'Yelly (duo yeli je..) memulai perjalanan ini. Sayang pada saat kedatangan ke Entikong Pak Wawan sedang training di Bandung. Tapi itu tak masalah bagi kami.

Perjalanan yang sudah kami rencanakan ini ternyata tak berjalan mulus. Yellly, my buddy ternyata ketinggalan tiket pesawatnya...Alhamdulilah masalah itu teratasi karena Yelly masih ingat kode bookingnya. Di itinerary yang kami buat,  Kami  terbang ke Pontianak dengan penerbangan sore dan berencana malam harinya pukul 21.00 langsung menuju Entikong dengan pilihan beberapa armada bis (prefer menggunakan Damri). Tapi rencana tinggal rencana. Setelah masuk boarding gate, Yelly  baru sadar bahwa pasportnya ketinggalan.  Beruntung pesawat delay 1 jam, Yelly nekat untuk kembali ke kosan untuk mengambil pasporntya itu. Nasib memang belum berkata baik, sampai pesawat take off yelly pun  tak muncul. sesat sebelum take off  ku sempat menghubungi Yelly . Informasi yang kudapat Yelily terjebak macet parah. Tapi yelly meyakinkan ku bahwa dia akan menyusul dengan penerbangan yang paling pagi esok harinya.
Sudah Jatuh Tertimpa tangga pula, itulah kata yang tepat menggambarkan nasib Yelly Inilah pelajaran moral kehidupan bahwa kelalain sekecil apapun itu fatal akibatnya. Yelliy telah mengeluarkan uang 150 ribu untuk menyewa sebuah ojeg dan terpaksa membayar harga tiket 2 kali  harga tiket semula. Dan mungkinn yang tak terlupakan adalah malam itu harus tidur di Bandara. Pengalaman yang tak terlupakan. Akhirnya aku pun harus iklas dan rela menunggu Yelliy esok harinya.

Tepat pukul 9 malam aku mendarat di Supadio. Setelah  tanya sana-sini akhirnya aku menginap di hotel sederhana Hotel Khatulistiwa  tepatnya. Beruntung menemukan sopir taksi yang sangat baik. seorang bapak yang akhirnya menjadi guide.  Tak banyak yang kulakukan malam itu, berbersih, SHolat dan langsung istirahat.  

Esok harinya  Jam 9  pagi  yelly sampai di hotel tempatku menginap. Wajahnya terlihat amat dan teramat kucel. maklum malam itu yeli memilih untuk tidak tidur demi kesalamatan katanya. Dan ternyata tak sempat mandi pula..Senyum dan iba dua ekspresi itu akhirnya muncul setelah Yelly menceritakan semuanya. Pelajaran paling berharga dalam hidup kadang  memang terlahir dari pengalaman konyol. semoga kejadian ini tak terulangi...

Dan kekonyolan belum selesai. Demi tiket murah untuk kembali ke Jakarta, kami  membeli tiket atas nama orang lain yang batal berangkat.. Sempat bimbang awalnya karena salah satunmya atas nama laki-laki.  karena tak lagi punya money kami pun sepakat membelinya. Maklumlah  harganya setengah dari harga tiket resmi saat itu. Demi keamanan,  Mba-mba penjaga travel itu akhirnya mencity cek in kan tiket kami.  Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh jua.  Kami berhasil masuk bandara dengan selamat...tapi jeng..jeng ketika masuk boarding gate, seorang petugas memperhatikan dengan seksama boarding pass ku, dan dengan tatapan aneh sang petugas pun bertanya. "lho ini kok namanya laki-laki"...dalam hati ku berguman " tamat deh riwayatku". Dewi fortuna masih berpihak pada ku  Sang petugas mengizinkan setelah tiba-tiba aku mengatakan bahwa tiket itu adalah tiket suamiku yang batal berangkat dan sayang kalo tidak digunakan. Konyol dan benar-benar konyol. Merasa teramat berdosa melakukan ini.. semoga Allah mengampuniku. Amin

Menuju Entikong

Karena semua armada darat menuju Entikong beroperasi malam hari, maka siang itu kami habiskan untuk mengexplore kota Pontianak dan menikmati beberapa kulinernya. Es nona dan es lidah buaya salah duanya. Tak banyak memang yang bisa di nikmati di kota khatulistiwa ini. Tempat yang pertama  kami tuju tentu dan jelas adalah tugu khatulistiwa. Konon katanya nga afdhal kalo ke pontianak  jika tidak  bertandang ke tugu khatulistiwa.  killing the time, kami pun sempat mengunjungi beberapa museum.. Bada' magrib kami kembali menjadi gelandang di sebuah mesjid. Beristirahat sejenak  menunggu Travel yang akan menjemput kami.

Dan perjalanan Pontianak_Entikong dimulai. Tak banyak yang bisa kami nikmati dalam perjalanan ini. Maklum sudah malam. Menelusuri jalanan panjang yang sebagian besar masih jauh dari kata layak. Hamparan perkebunan sawit adalah pemandangan utamanya. Yaps lahan gambut kita memang telah dirubah secara besar-besaran menjadi lahan sawit. Dengan kondisi jalan seperti itu, susah sekali memang untuk tidur nyenyak. Akhirnya kucoba menikmati perjalanan dengan  bercerita dan  mendengarkan   seksama percakapan penumpang lainnya. Aku pun berkesimpulan bahwa 2 orang  di dalam travel itu adalah TKW dan satu lainnya penyalurnya. Aku pun mulai mecoba mengali informasi lebih banyak tentang  dunia perte KWAan. Mereka kelihatan sangat hati-hati sekali menjawab setiap pertanyaanku.  Kesempatan baik untuk melihat bagaimana  hitam dan putihnya cerita TKW  yang  memang tak pernah habis.

Setelah menerima telpon dari rekannya, Sopir travel yang kami tumpangi tiba-tiba gelisah dan mewanti-wanti penumpangnya agar waspada. Ternyata ada razia TKW di salah satu kantor kepolisian. Bila ketauan membawa TKW ilegal maka penyalur  dan sopir akan berurusan dengan yang namanya duit dan penjara. Jika mereka bisa memberikan uang sesuia yang diminta para aparat itu maka mereka di bebaskan dan jika tidak maka para TKW tidak diizinkan oleh pihak kepolisian menuju negara tetangga. Mereka akan di tahan dan  setelah itu terserah polisinya. Mobil sang sopir pun akan di tahan. dan harus ditebus dengan tebusan yang aduhai...keserakahan manusia atas harapan dan mimpi-mimpi orang lain (TKW tepatnya). Kasian sekali mereka sudah diperas penyalur, pun harus diperas oleh oknum polisi.

Dan ternyata benar adanya. Ada razia. dan demi melindungi penumpangnya yang TKW ini, aku lah yang diminta pak sopir untuk menghadapi sang polisi. Karena sopir itu memang tau bahwa tujuanku hanyalah akan melancong bukan untuk menjadi TKW. Berhadapan dengan polisi  intinya aku ditanya mau kemana dan mengapa. setelah ku jawab jujur pak polisi tak percaya. Eh pak sopir malah tiba-tiba menyeletuk bahwa saya adalah orang kementan yang sedang dinas ke Karantina Entikong. Faktanya adalah orang orang kementan yang sedang melancong (he..he..) Pak polisi akhirnya memaksa ku untuk  menujukkann surat  penugsana .  bingung, memang tidak ada surat tugas karena memang bukan perjalanan dinas. Setelah mampu menunjukkan bahwa aku adalah PNS dan memperlihatkan tiket pulang kejakarta  mereka akhinya pun percaya.. 

Dini hari kami sampai di Entikong. Letih luar biasa. Merasa masih butuh istirahat kami pun menyewa sebuah kamar yang jauh dari kata layak  berjarak  sekitar  200 meter dari pintu perbatasan. Tak ada pilihan lain , ini satu-satunya penginapan yang kami  tau ada di sini. Desa ini terasa kota mati memang. Tak ada kasur tebal je, cuma ada kasur palembang yang tipis dan dinding kamar yang masih belum di plester , ruat dan kasarnya batako harus kami nikmati dalam lelah malam itu\.  Tapi sebandinglah dengan harga yang  hanya Rp.25.000 untuk dua orang. Penginapan ini menjadi cerita pertama kami di Entikong ...cerita kedua, ketiga dan seterusnya???? tunggu cerita selanjutnya :D
kompleks keimigrasian Tepedu Malaysia.

Read More......

24.11.11

Menanti Tunainya sebuah Janji

Huaha...malam ini tiba-tiba ingin membahas ini. " kapan nikah?"mungkin ini adalah pertanyaan yang saat ini paling menakutkan, paling sulit dijawab dan paling tidak ingin ku dengar. Tapi malah intensitasnya semakin meningkat. (menyedihkan memang). Sampai terbesit untuk mencoba menghitung berapa kalinya dan mencoba memnbuat analisis statistiknnya he.he....(ide gila).

Kadang  terpaksa  pertanyaan itu kuangap sebagai angin lalu.  dan  kadang membawa ku untuk berfikir panjang. Sadar-se sadarnya, usiaku yang telah 28 tahun ini memang dinilai banyak orang adalah usia yang seharusnya sudah menikah( tapi nasib baik memang belum berpihak pada saya :(( ). Dan jauh di lubuk hati ini pun sudah sangat ingin  menyudahi drama kesendirian yang kadang cukup mendera ini.  Tapi lagi-lagi takdir belum mengantarkan saya ke magligai ini.  Mungkin memang Allah simpan ia  (pangeran berkuda  putih:p) dengan mesranya dariku untuk menguji seberapa taat, dan sabarnya aku mendapat anugrah ini.  

dan selalu ada getar aneh ketika membicarakan hal ini dengan ibu.  Selalu ada harap yang dalam dari setiap tutur katanya.  Harap yang tak pernah ku tau akan ku penuhi atau tidak. Lagi-lagi kita tak pernah tau.
Jodoh adalah misteri. Tak pernah tau siapa, kapan dan dengan cara apa datangnya. Yah kemungkinan terburuk  adalah memang tidak ada jodoh ku di dunia ini. Dan aku harus bersiap dengan kemungkinan terjelek itu.

Di belakang sana,  sudah pasti banyak mengalir ejekan, cibiran dan  bahkan sedikit cercaan, mulai dari yang terlalu pilih-pilih sampai statement  nga laku. Jadi ingat lagunya wali band..he..yang belum nikah pasti pada hapal nih kayaknya…atau jangan-jangan jadi lagu kebangsaan :p.  Masalah memilih,  Salahkah jika aku memilih. Ini bukan keputusan sembarang, sebuah keputusan besar yang akan dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat.  Masalah laku, mungkin saat ini  aku sedang menunggu pembeli yang tepat  (lha memang barang dagangan??).

Ya Allah lewat tulisan ini aku tak pernah berputus harapan dari menanti dan menanti tunai JanjiMU, tentang seseorang, tentang dia tempat tulang rusukku bersandar. Jika sudah sampai saatnya nanti, Tuntunlah aku untuk memulainya dan menjalaninya  dalam kesucian ajaran MU. Karena ia suci, penyempurna Dienku maka  harus ditempuh dengan cara yang suci pula.

Yang tercinta ku puja Kau dalam setiap sujudku
dan dalam menunggu kuurai pengertianku
lewat beragam kisah
hingga nanti saat telah engkau sampaikan langkahnya kepadaku

Galau,Tuban, 23 November 2011

Read More......

14.10.11

MENGHARU-BIRU DI ATAP PULAU JAWA (Baca: MAHAMERU)

Puncak Mahameru dan Sunsetnya
Bangga, dan kembali saya berbangga menjadi manusia yang pernah menginjakkan kaki di atap pulau jawa. Yap akhirnya dengan perjuangan tertatih kaki lemahku pun menginjak puncak mahameru, negerinya para dewa versi dewa 19.  Ketertarikan untuk menaklukkan mahameru berawal ketika membaca novel 5 cm. bagi yang pernah membaca novel ini pasti punya keinginan yang sama dengan saya he..he.. dan tak hanya itu secara tak sengaja beberapa tahun yang lalu saya pun mendengarkan sair  lagu Mahameru dewa 19 yang baik-bainya cukup menggugah.. secara sempurna mampu menggambarkan keindahan mahamaeru dan  perjuangan menempuhnya. Dan Thanks God,  akhirnya awal Juni 2011 keinginan itu terwujud. Bahkan seorang teman mengatakan "jangan berani mengaku sebagai pencinta gunung, apalagi pencinta alam jika belum menginjakkan kaki ke puncak gunung ini..." (kompor meledug..he..he..)
romantisnya Ranukumbolo
Mahameru by Dewa 19
Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa

Actually, ini adalah unplanned trip.  Bingung dengan jadwal cuti bersama yang mendadak., tiba-tiba ada sebuah pesan di Blackberry messenger  dari dheva, salah satu teman membolang saya, mengajak  ke semeru. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya ajakan itu jelas saya sambut. dengan bahagia. Sayang petualangan kali ini tidak bersama anak-anak share traveller (tim menggunung biasanya). But it is not big problem.  Senang,  akan berpetualang dengan teman-teman baru. yap petualangan kali ini bersama anak-anak stapala (Pencinta alam stand)..Awalnya sempat berkata" oh no mahasiswa", berasa sudah tua sekali...he..he..but it just first response. Yaps teman saya, dheva mendapatkan ajakan dari 8 orang anak stapala ini dari kaskus. dan dalam perjalanannya  kami mendapatkan satu orang lagi dari kaskus  juga yaitu mba ipeh. Setelah ngobrol panjang lebar, mba ipeh ternyata adalah sahabat dari salah satu sahabat menggunungku juga..*tepuk jidat  ternyata dunia memang sempit ya.. Dan akhirnya tim kali ini berjumlah 11 orang.

Cerita bermula dari matarremaja
Perjalanan dimulai dari stasiun senen. kereta ekonomi matarremaja menjadi sahabat yang akan menghantarkan kami menuju malang selama lebih kurang 18 jam. Kereta ekonomi kedua saya setelah ekonomi progo (dalam perjalanan menuju slamet).  Alhamdulilah kami  dapat tempat duduk  walau harus duduk 18 jam tanpa bisa bergerak kemana-kemana karena lorong kereta pun penuh berisi manusia dengan berbagai gayanya. Benar-benar  membuat tubuh ini  mencapai titik terlelahnya. Keringat mengalir deras sampai bisa diperas. Pedagang hilir mudik dengan gembolan barang dagangannya dan yang membuat sangat mengganggu adalah sauaranya merdu teriakan daganganya . Tidur nyenyak menjadi barang mahal . Potret kemiskinan bangsa tergambar jelas di kereta matarremaja ini.

Jam 6 pagi kereta kami sampai di Stasiun Kota Baru, Malang. Dan demi mengejar waktu , perjalanan dilanjutkan menunju Pasar Tumpang Malang. Dari pasar tumpang, kami harus naik mobil artop (Jip) menuju Ranu Pani, Lumajang. Ini adalah pos pendaftaran bagi mereka yang akan menuju mahameru. Di ranu Pani ini kembali Me Re-Packing seluruh logistik dan akomodasi yang akan kami bawa nanti.
Jip dari Pasar Tumapng-RanuPani
Tepat jam 2 siang kami baru memulai perjalanan menapaki jengkal-demi jengkal tanah negeri para dewa ini melewati perkebunan masyarakat, jalanan mendatar kadang menanjak, dan kadang berbelok dan melipir. . Setelah lelah, keringat dan gerimis hujan bersatu, tepat pukul 7 malam kami sampai di Ranukombulo. Danau yang akan selalu dikenang jika menginjjakkan kaki ke kawasan semeru ini. Karena sudah gelap malam ini kami tak bisa menatap keindahanyya. Tapi esok harinya ketika pagi menjelang dan mentari tersibak keindahannya pun tak terbantahkan.  di sisi lain ranukumbolo, kita pun bisa menyaksikan bukit cinta, hai,,hai...entah dari mana orang menamakanyya tapi kata teman kalo diperhartikan bukit tersebut mirip lgambar hati... tapi terus terang saya tidak bisa menemukannya.  Great moment,kami bisa menikmati keindahan ranu kumbolo ini dari berbagai di mensi..sunset, sunrise dan bahkan keindahannya dalam hujan..he..he..tak hanya itu kami pun sempat menikmati suhu -4 Derajat, menyaksikan sendiri bongkahan es telah menutupi sebagian tenda kami...
Ranu Kumbolo dan esnya
Padang savana Ranu Kumbolo
Menikmati pagi di Ranukumbolo
Tenda di Ranu Kumbolo
Tanjakan Cinta
Dan Pagi itu kami habiskan dengan bercengkarama, memasak, bercerita, bernyanyi dan bergiosip ria di pinggir danau ranukumbo.  agak siang perjalanan kami lanjutkan dengan tujuan akhir hari kedua adalah  tanjakan tajam  Arcopodo.

Dari Ranukumbolo kami melewati bukit cinta. tapai gagal memperttahankan satu mitos yang dipercaya sebagian orang yang kesana. konon katanya bagi siapa yang punya kekasih, tidak boleh menioleh ke belakang jika berada di bukit ini. jika menoleh sesuatu yang buruk akan  terjadi dalam hubungan percintaannya. Karena saya orang yang tak percaya mitos, larangan itu tidak saya indahkan..luar biasa. oh luar biasa indahnya ketika menatap ranu kumbolo dari bukit ini.  Setelah lama tertegun menikmati Maha Besarnya ciptaan tuhan perjalanan di lanjutkan dan kami dihadapkan dengan pemandangan yang maha indah lainnya.  ini lah yang namanya oro-oro ombo.   hamparan rumput dan bunga berwarna ungu sungguh  tertkira... Tuhan terima kasih telah kau ciptakan keindahan ini...damai dan damai batin ini  menyaksikan ungu dan hijau silih berganti terpantul dari retina mata. 

 akhirnya pukul 14,00 kami sampai di kalimati.  Sebagian besar pendaki memilih ngecamp di kalimati ini sebelum selanjutnya menuju puncak. tapi kami bersepakat akan menghabiskan malam  sebelum summit attact di arcopodo. konsekwensinya adalah harus membawa semua logistik menuju tanjakan-tanjakan tajam yang didominasi oleh akar-akar pepohonan. Arcopodo memang aduhai dahsyatnya. ketika  lutut bertemu kepala dan ketika tagan-tangan kami pun harus memegang erat setiap pohon dan rerantingan. pukul 17.00 kami sampai di Arcopodo. memasang tenda dan segera beristirahat karena tengah malam nanti kami akan summit menuju puncak mahameru.
Kali Mati
Perjalanan Summit.
Perjalanan summit menuju puncak mahameru kami mulai tepat pukul 12 malam. berbekal  headlamp dan logistik secukupnya kami siap menapaki tanjakan paling tajam dengan trek pasir. inilah trek yang paling susah karena ketika kita melangkah, pasirpun turun sehingga perpindahan jarak yang terjadi cukup kecil sekali. belum lagi jalanannnya yang sempit. head lamp pendaki lain menyala dengan indahnya membetuk konfigurasi garis sampai pada ketinggian yang masih sempat ditangkap oleh retina mata kami. dan ujung lampu ini kadang membuat saya berguman, waw ternyata perjuangan masih sangat panjang saudara. Waktu pun berjalan dan samar perlahan tapi pasti batas gariscakrawala pun mulai menampakkan warna kejinggaan. inilah yang disebut fajar. pertanda sebentar lagi subuh akan datang....
Oro-Oro  Obo
Oro-Oro Ombo
Saya di Oro-Oro Ombo
Langkah demi langkah, keringat demi keringat terus mengalir, dan akhirnya puncak mahameru saya tapaki. tak hanya bersujud syukur disana. lebih dari itu saya pun sholat shubuh di puncak gunung itu. inilah kesempatan pertama saya menikmati sholat di puncak gunung, ketika tak ada satu pun yang menghallangi saya dan Dia. Thanks God..mengharu biru...biru pergilah bersama keharuan ku (lho..????)

seperti biasa kemenangan ini pun kami nikmati. berfoto dan bernarsis ria sambil menungggu sang mentari muncul. sebuah episode yang di nanti. dan akhirnya  keindahan sun-rise di puncak mahameru ini menyempurnakan perjuangan kami menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa ini...
Puncak Ei

Tim Kami di Puncak Mahameru

Read More......

8.8.11

Gunung Sindoro: Pendakian menembus kabut dan Hujan

Pendakian menuju puncak SIndoro (3153 mdpl) adalah pendakian terrempong yang pernah saya alami. Tapi tetap dimaklumi karena pendakian ini kami lakukan pada musim hujan awal Februari 2011 yang lalu. Perjalanan pun dimulai dengan hujan dan kembalipu masih di hiasi hujan. Malam tenda kamipun sempat dihantam badai. Beruntung kami bisa kembali dalam keadaan selamat, hanya kaki-kaki kami yang somplak. Alhamdulilah juga kami masih bisa sampai kepuncak SIndoro walau disana kami hanya menikmati kabut, kesegala arah memandang hanya ada putih dan putih. 
masih ada senyum disini..menjelang pos 1
Jalur menuju sindoro dominan adalah jalur batuan..nah jalur batuan ini yang paling tidak saya sukai dalam menggunung. Karena dengan jalur batuan ini kita seperti menaiki anak tangga. Dan dengan  membawa cariel  , Baik naik maupun turun akan terasa sangat berat sekali. Bagian kaki yang paling menderita adalah lutut. (jadi ingat iklan produk susu berkalsium tinggi: p).  Dan jika tak hati-hati sering kali terjatuh dan tentu mengakibatkan luka atau benturan yang keras karena langsung berhadapan dengan tajamnya batuan.  Belum lagi hujan, batuan menjadi licin dan beban kami berasa bertambah berat. 
Bersiap menyambut hujan
Sebenarnya dari Sindoro kita bisa menikmati Indahnya gunung Sumbing. Jika cuaca cerah kita bisa menikmati sunset yang indah. dimana pendaran jingga mentara menyelip dibalik gunung tersebut. Jika keadaan berawan maka pada ketinggian 3/4 tinggi gunung tersebut biasanya terdapat awan yang menyerupai kap topi gunung dan seolah-olah puncak gunungnya adalah kerucut dari topi tersebut.  Awan Topi inilah yang sebenarnya dicari oleh para pendaki yang berekpedisi ke Sindoro. Tapi nasib kami memang kurang beruntung sehingga tidak bisa menikmatinya. 
kami di puncak Sindoro
The Ladies in the top of Sindoro
 Pendakian ini awalnya direncanakan untuk dua gunung sekaligus yaitu SIndoro dan Sumbing. karena posisinya yang memang berdekatan. Tapi karena semua kami kakinya sudah somplak semua maka pendakian ini dicukupkan untuk SIndoro saja dan sisa waktunya kami sempatkan untuk ke Dien dan sekitarnya.
Kayuan matid an kabut sindoro
Whateverlah, yang penting kaki sudah menginjak puncak . Dan perjalanan ini tetap indah bersama sahabat-sahabat luar biasa yang pernah hadir. Kebersamaan yang luar biasa. Canda dan tawa adalah milik bersama yang selalu menghiasi setiap perjalanan kami. 

Pendakian Sindoro ini meninggalkan pelajaran moral buat ku," berfikir ulanglah kembali jika melakukan pendakian pada musim  hujan"

Read More......

4.8.11

Menapaki keindahan belitung 5: Melihat Sisi Lain Kota Tanjung Pandan

Cerita tentang kota  Tanjung Pandan ini menjadi penuntas perjalanan kami di Pulau Belitung. Tanjung  Pandan adalah kota kecil  pusat pemerintahan dan ekonomi masyarakat di Pulau Belitung. Puanas itulah kata pertama yang keluar dari mulutku ketika menginjakkan kaki di kota ini. Harap makluim, pinggir pantai. Tapi di kota ini kita  bisa menikmati banyak suguhan budaya dan cerita. Dan itu tentu wajib dinikmati terutama bagi para photographer (sunda-aksen: p). Karena banyak spot-spot foto yang siap dijadikan bahan bidikan.
di depan museum Tanjung Pandan

Musem Belitung adalah tujuan pertama kami di kota ini. Museum yang tidak terlalu besar ini merekan jejak sejarah kota belitung dan yang tak kalah penting adalah sejarah penambangan timahnya. berbagai macam bentuk penambangan mulai tradisional sampai berteknologi tinggi dipamerkan di museum ini. Jenis batuan dan timahnya pun tak luput dari perhatian para arkelog pengelola museum ini. sedikit disayangkan museum ini kurang terawat. Debu dimana-mana dan bangunannya terlalu kecil. Dibelakang museum ini terdapat beberapa permainan yang lebih cocok untuk anak-anak menurut saiya.

Pelabuhan
Inilah pusat lalu lintas Bangka-Belitung. Dari sini pun banyak kapal-kapal  kecil yang melayani perjalanan menuju pulau-pulau sekitar  belitung. Bagi anda yang tidak suka kesemrautan maka not recommended ke sini. Jika mencari spot foto terutama bertema human activities tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan.
Gerbang Pelabuhan dan bangunan tuanya
satu sisi pelabuhan tanjung pandan
Rumah adat Belitung
Di kota tanjung pandan kita bisa menikmati dan melihat rumah adat kebanggaan bangsa Belitung. Kebetulan pas kedatangan kami ke rumah adat ini sedang ada ritual keagaaman orang-orang Budha dari  Laos yang konon katanya punya keterkaitan masa lalu yang kuat dengan penduduk belitung yang sebagian besar memang dihuni oleh penduduk Tionhoa.  Lumayan dapat tontonan gratisa karena kebetulan mereka tidak keberatan untuk disaksikan malah boleh di foto.
Rumah Adat Belitung

Ritual Keagamaan di rumah adat belitung
salah satu saprodi pertanian masyarakt belitung


Pusat Oleh-oleh Belitung
Nah ini yang tak boleh ketinggalan jika berkunjung ke tempat wisata, itupun kalo punya budget lebih. Karena dengan membeli oleh-oleh di daerah wisata itu artinya kita membantu membagkitkan roda ekonomi masyarakat setempat. di Kota Tanjung Pandan terdapat pusat UMKM Belitung. Berbagai macam makanan yang tentu terbuat dari ikan tersaji ditempat ini.. Souvenir dan cindera mata pun tersedia termasuk kaos.

Pusat Oleh-oleh di tanjung pandan
cinderamata

WELL.BELITUNG LAYAK DAN HARUS MASUK DALAM SALAH SATU LIST DESTINASI WISATA ANDA....Heee..He....

Read More......

15.7.11

Menapaki keindahan belitung 4: Menyusuri Cerita Laskar Pelangi di Belitung Timur

di SD muhammadiah Gantong

Setelah puas mengekplore keindahan pantai belitung di pesisir barat, perjalanan di hari ketiga di Belitung kami lanjutkan menuju belitung timur tepatnya ke daerah manggar.  Bagi anda yang pernah menonton film laskar pelangi tentu tak asing dengan nama daerah yang satu ini. Ya inilah kota kecil dimana Andrea Hirata dilahirkan dan dibesarkan. Jujur alam  belitung timur ini tak seindah belitung di pesisir barat. Tapi memangkedatangan kami ke belitung timur tidak untuk mengekplore alamnya tapi ingin menyusuri jejak film laskar pelangi. Sebagian besar diantara kami memang ke Belitung banyak terinspirasi oleh film ini.

Dari Tanjung Pandan, Manggar kami tempuh selama lebih kurang 3 jam. Tempat pertama yang kami kunjungan tentu adalah sekolah dasar Muhammadiayah gantong. Karena inilah latar  fillm laskar Pelangi. Ternyata di Manggar ada dua sekolah SD ini. Versi asli dan versi  duplikasi yang memang di buat khusus oleh Pemda setempat untuk kunjungan wisata. Karena penasaran kami pun mengunjungi ke dua versi ini. sempat masuk ke dalam kelas dan pura-pura belajar di sini..he.he.. tentu berharap  semangat -semangat anak-anak laskar pelangi menular pada kami. 
New Laskar Pelangi
Original Version
Duplikat SD Muhammadiyah
Perjalanan dilanjutkan menuju ke pertokoan lama yang kondisinya masih asli. sayang pada hari itu toko ini tutup. ya sudah lah  kami pun berfoto saja di sana. Yah inilah toko si alin. di dalam film laskar pelangi.  di Toko inilah mahar membeli kapur tulis  awal dari kisah cintanya pada alin. Cinta memang aneh ya, jatuh cinta bisa hanya dari tangan dan jemari.he..he..
Toko Bapak e Alin
SMU Nasional
SMU nasional Manggar adalah tempat selanjutnya yang kami pijaki. SMU ini memang tidak ada dalam film laskar pelangi, tapi sekolah ini muncul dalam film sang pemimpi. Sekolahnya masih di rawat untuh dan memang masih di pakai untuk kegiatan belajar mengajar.  Setelah puas jingkrak foto-foto, kami kemudian di ajak ke pabrik timah tempat dimana sang ayah bekerja..he..he...Bangunannya sudah sangat tua..Konon masih di pakai untuk produksi tapi tidak semuanya. karena sudah banyak yang rusak dan tak berfungsi.
Pabrik Timah
Sebelum kembali ke Tanjung Pandang kami sempat mampir ke rumah bu Muslimah yang asli. berharap bisa bertemu dan bercerita dengan si ibuk. Tapi sayang pada hari itu kami tidak bisa menemui beliau karena beliau sedang ke Jakarta. Dan kami hanya bertemu dengan anaknya. oh ya di manggar juga ada  dibangung pasar rakyat laskar pelangi. Tempat ini dulu di bangun sebagai tempat penyelenggaraan  festival laskar pelangi pada tahun 2010.
Tempat merenung seperti di cover novel Laskar Pelangi
Pasar Rakyat Laskar Pelangi
Senang juga berwisata menelusuri jejak para laskar pelangi ini...dan setiap kami pun mencoba merangkai mimpi-mimpi kami di sini. kembali menyusun semangat di sini. he..he...Disamping itu kami pun masih sempat singgah di beberapa tempat yang memang tak ada hubungannya dengan film laskar pelangi. Pantai Burung Mandi ini adalah salah satu pantaii di Belitung Timur. Di Pantai ini banyak burung.  Tapi sayang kami tidak menemuinya karena kami datang siang hari bolong yang terik. Pantai ini memang tak seindah pantai di pesisir barat Belitung tapi lumayan lah. sekedar melepas lelah karena perjalanan panjang  Tanjung pandan-Manggar. Kami pun sempat singgah di sebuah klenteng di Belitung Timur. Usianya klenteng ini sudah sangat tua. dan pemerintahan belitung timur sudah memasukkan klenteng ini dalam salah destinasi wisatanya.
Di klenteng
Pantai Burung Mandi
Perjalanan luar biasa 
benar-benar mendapatkan semangat yang luar biasa..
Kembali merangkai mimpi di negeri Laskar Pelangi
Manggar-Februari 2011

Read More......

Menapi Keindahan Belitung 3: Pulau Lengkuas

me in action...18th floor
Pulau Lengkuas  wajib anda kunjungi jika ke Belitung. Pulau kecil ini menyimpan banyak keindahan tak hanya alamnya tapi  juga menyimpang sejarah dunia pernavigasian indonesia. Dari pulau kecil ini kita bisa menikmati sunset dan sunrise yang so pasti dilihat dari dua sisi yang berbeda. Hamparan Batuan dan pasirnya yang ciamik pun tak kalah dengan pulau-pulau lain. Dan yang membuat sempurna, di pulau ini terdapat sebuah mercusuar 18 lantai yang usianya ratusan tahun. Dari ketinggian 18 lantai ini kita bisa memangdang lautan lepas nan biru yang dihiasi oleh batuan-batuan granit yang memang menjadi ciri khas pantai-pantai di belitung. Beruntung saat kedatang di Pulau ini kami bertemu dengan beberapa anak  laskar pelangi lagi .Mereka memang sedang mengadakan acara di sana.
kembali bertemu para laskar pelangi
Pulau lengkuas dari kejauhan
Di sinilah kami meghabiskan malam. karena disini memang tidak ada penginapan maka kami memang memilih untuk menenda di pulau ini. di pulau ini ada beberapa orang petugas penjaga mercusuar. Banyak hal yang dapat dilakukan di pulau ini. Memancing so pasti. Beruntung bapak  kapal kami baik sekali. Dengan senang hati bersama anaknya beliau kembali melaut mencarikan ikan untuk kami..dan  tentu kembali dengan membawa ikan yang lumayan banyak. akhirnya kami pun bakar-bakar ikan di sore itu. Setelah perut kenyang, ngantuk pun mendera. Luar biasa nikmaknya ketika tidur dipinggir pantai dengan angin sepoi-sepoi.hm...hm....

Tentang mercusuar
share traveler in lengkuas island
Inilah mahkota dari pulau lengkuas. Bangunan ini konon katanya di bangun pada tahun 1882. Saya tidak mendapatkan dengan pasti berapa ketinggian mercusuar ini. setiap pengunjung yang datang bisa dengan bebas naik menuju puncak mercusuar.Memang agak berat menapaki anak tangga demi anak tangga tapi percayalah kalori dan energi yang dikeluarkan terbayarkan dengan indahnya memandang dari ketinggian 18 lantai. Mata anda bisa menikmati keindahan dari segala penjuru. Angin nan sepoipun menghembuskan kekuatannya pada tubuh. Luar biasa...kadang terlalu susah untuk menceritakan bagaimana keindahan alam hanya dengan kata-kata. 
mercusuar 18 lantai   
dari puncak tertinggi mercusuar

batuan dari ketinggina 18 lantai
Tak jauh dari pulau lengkuas ini ada pulau kecil yang bisa diseberangi dari pulau lengkuas. pada pagi hari kedalamannya sekitar sedada saya. tapi kalo sore karena sudah pasang airnya akan tinggi dan susah untuk di seberangi. dari pulau ini kita bisa menyaksikan pulau lengkuas dan mercusuarnya. sensasi keindahan yang berbeda yang harus dinikmati.
pulau di seberang lengkuas
Pagi hari disini, banyak sekali para keturunan tionghoa yang beribadah. mereka berdoa dan menghadap ke arah matahari. yaps suku tioghoa adalah salah satu suku besar  di belitung. Sunrisenya pun tak kalah indah dengan sunsetnya...
sunrise di belitung

Read More......