19.2.19

BUKU MENGGENGGAM EMPAT BENUA

Menulis buku adalah satu dari sekian mimpi-mimpi yang selalu saya tulis di dalam agenda/planner saya. Setiap ganti agenda di awal tahun, mimpi menulis buku itu selalu saya tulis. Sudah tak terhitung bilangan tahun mimpi itu selalu saya tulis yang artinya butuh perjuangan panjang ternyata mewujudkan mimpi itu.  Sampai akhirnya tahun 2018 bisa mencentang mimpi ini menjadi nyata.. yes... buku saya terbit... Lalu apakah di agenda tahun 2019 mimpi itu sudah tidak ditulis lagi? ternyata masih ada.. Berharap ada buku kedua, ketiga dan seterusnya.Ternyata menulis buku itu ibarat candu.. Begitu banyak ide berseliweran, serasa semuanya ingin di tulis.. Tapi jadi bingung sendiri bagaimana menyelesaikannya..

Buku yang saya tulis ini sebenarnya adalah kumpulan dari catatan-catatan saya di blog dan juga tulisan saya pada berbagai media online. Pengalaman unik saya menempuh pendidikan di empat negara adalah pengalaman yang menurut saya perlu dibagi kepada semua orang.  Seluk beluk perjuangan, sistem pendidikan dan bagaimana suka dan dukanya kuliah dan hidup berpindah.. Awalnya saya kira ini adalah bagian yang paling menarik dari program ini, tapi ternyata setelah dijalani adalah ini the most challenging part. Tapi saya benar-benar sangat bersyukur atas semua itu..Pengalaman menyelami kehidupan di berbagai negara adalah kekayaan yang saya miliki. Saya tak punya harta dan tahtah hehehe.. tapi saya punya pengalaman ini.

Namun tak hanya itu, atas saran editor, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai tips mulai dari persiapan beasiswa itu sendiri sampai bagaimana menjalani perkuliahan di Luar Negeri. Semua yang saya tulis tentu adalah persepsi dan berdasarkan pengalaman saya pribadi. Setiap orang yang pernah mendapatkan beasiswa di luar negeri pasti memiliki pengalaman persiapan beasiswa yang berbeda, so dalam buku ini adalah pengalaman saya sendiri ya.. 

The main message dari buku ini sebenarnya adalah tentang mimpi dan perjuangan... setiap orang, siapapun itu berhak memimiliki mimpi setinggi apapun. Segala keterbatasan adalah peluang dan tantangan. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa dengan keyakinan dan perjuangan mimpi yang tak mungkin menjadi mungkin dan nyata. 

Hal ini tentu tak hanya untuk perjuangan memperoleh beasiswa tapi juga perjuangan bagian kehidupan lain nya. Hanya orang-orang yang bernyali tinggi yang bisa memenangkan kehidupan ini. Bahwa apapun haru dijalani dengan semangat membaja..

Beberapa testimoni dari pembaca saya tampilkan di halaman ini...  














Yang berminat dengan buku ini bisa chat FB atau IG saya ya : yelisarvina..


12.2.19

KELILING DUNIA DENGAN BEASISWA KENAPA TIDAK?

Judul tulisan ini memutar kembali memoriku pada dialog 10 tahun lalu. Sebuah dialog singkat dan sebenarnya sangat sederhana. Namun dialog itulah yang membuat aku sangat yakin dan sangat percaya diri untuk bermimpi tentang apapun setinggi-setingginya.Kadang memang inspirasi itu datang dengan cara yang kita tak pernah duga.

Dialog itu bermula saat temanku sebut namanya Eza membuat blog dengan nama yang sangat fantastis (http://eza-kelilingdunia.blogspot.com/).
" Za, blog lu namanya songong amat" , Tanyaku memulai obrolan. Aku yang saat itu sedang semangat-semangatnya jadi blogger hanya menuliskan inisial namuku untuk blog itu dan menurutku itu sudah cukup.
" Iya yel, kenapa namanya fantastis ya?" Response Eza sambil kembali bertanya padaku
" Aku yakin yel, suatu saat aku akan mampu keliling dunia, entah dengan apa caranya. Ini bukan songong, tapi mimpi dan doa yel", Eza menambahkan.
" wow...aku mah nga berani bermimpi setinggi itu za", tambahku lagi
" Hidup harus yakin yel, dan percayalah sama gue, lue InsyaAllah akan bisa keliling dunia dan entah dengan cara apapun itu juga, dan mungkin dengan beasiswa salah satu caranya"
" won amin... ?" aku menimpali perkataan eza.
 Kebetulan saat itu aku memang sedang berjuang sekuat tenaga berjuang untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku.  Eza memang sering menjadi "korban" ajakanku menemaniku menghadiri berbagai pameran beasiswa atau workshop apapun yang aku ikuti.  Eza dengan senang hati selalu menemani. "iseng, sambil nambah ilmu" itu komen Eza setiap aku tanya mengapa mau nemanin aku.. hehehhe..

Anyway Thanks Za sudah jadi bagian perjuanganku..

Itu cuplikan dialog singkat itu.. Sederhana sekali bukan?. Tapi siapa yang menyangka obrolan sederhana ini, hari ini menjadi nyata.. Jadi merinding..
Alhamdulilah setelah sepuluh tahun berlalu dari dialog itu hari ini aku menulis di sini mengabarkan pada dunia bahwa aku sudah keliling dunia, menginjakkan kaki di lima benua. Amazingly, semuanya dengan sponsorship dan beasiswa. Peristiwa dialog di atas pada akhirnya mengajarkanku banyak hal beberapa diantaranya selalu membangun kalimat positif dalam kehidupan, membangun mimpi tak boleh tanggung-tanggung, dan terakhir adalah berupayalah mencari sahabat yang membangun mimpi  dan hindari orang-orang yang mencuri mimpi. Sadar atau tidak sadar itu akan mempengaruhi alam bawah sadar dan kehidupan kita. 

Petualanganku mengembara dunia berawal dari bergabungnya aku di program Flood Risk Management Erasmus Mundus Program. Program ini membawaku menginjakkan kaki dan mewujdukan mimpi menempuh pendidikan di benua biru, Benua Eropa.   Tak pernah disangka, program ini pulalah yang telah membawaku menginjakkan kaki di benua lain yaitu Amerika, Asia dan Afrika. Cerita perjuangan di empat benua ini sudah aku  bukukan dalam buku  bertajuk " Menggenggam Empat benua" (yang minat bisa Japri ya hehhehe.. maaf cerita mengandung iklan). Lalu bagaimana dengan Australia? Alhamdulilah tahun 2018 kemaren melalui perjuangan yang tidak mudah juga saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di benua Australia melalui beasiswa conference. Finally tahun 2018 menjadi sejarah besar dalam hidupku, pernah menginjakkan kaki di lima benua.
Benua kelima; Australia...
Berikut adalah scholarship dan Beasiswa yang pernah saya peroleh:
Flood Risk Management Erasmus Mundus Master Program  (2013-2015)
Unesco Water Ambasador 2014 ( Florida USA)
Netherland Fellowship Program (Nfp)  2012
Asian Pacific Climate Center Scholarship  (South Korea) 2012
Asian Pacific Climate Center Scholarship  (South Korea) 2015
Asian Pacific Climate Center Scholarship  (South Korea) 2017
Uncecar– Un Nation ( Jepang- Srilangka) 2014
Conference Scholarship  Australia  2018
Asean Science Diplomat 2018 

Insya Allah dalam waktu singkat  akan share semua pengalaman ini dalam beberapa acara dan rencananya melalui kuliah wathsapp juga.. Be Ready ya!  hehehehhe...

Dalam kehidupan tak ada yang tak mungkin...
anak petani desa, di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat telah menunjukkan pada dunia bahwa kekuatan mimpi itu nyata..
Aku bisa, kenapa kamu tidak?

Tulislah mimpi-mimpi sebagai doa yang akan melangit tinggi dan suatu hari nanti semoga kembali menjelma menjadi nyata....
Maka Bermimpilah !
Lalu Tulislah !
Tulislah mimpi-mimpi itu...

6.2.19

Welcome back my blog

Huahaa... akhirnya kembali ke halaman ini. Entah berapa purnama terlewatkan.. . Lama menghilang ditelan hiruk pikuk dunia yang membuat saya sedikit oleng dan tidak bisa membagi banyak waktu untuk bercerita banyak hal di sini.  Alhamdulilah kini hadir di sini dengan status dan semangat baru tentunya. Semoga bisa berbagi banyak hal dan berharap bisa bermanfaat untuk semuanya.

Sebenarnya setahun yang lalu saya coba untuk memulai bercerita di halaman ini, dilalahnya waktu itu tidak bisa login.  Lupa pasword...yah begitulah penyakit manusia yang sudah mulai menua. Coba reset paswor lagi-lagi tak bisa. Metode pemulihan yang saya gunakan adalah nomor HP, dan ternyatanya lagi nomor HP yang saya gunakan  sudah tidak saya gunakan lagi. So give up..

Dan entah mengapa pagi-pagi ini tiba-tiba saja ini ingin kembali menulis di sini. Login lagi step by step, mengingat lagi paswordnya and  finally login succesfully.
Bingung mau mulai bercerita tentang apa  saking banyaknya hal yang hendak diceritakan..hehhehe... Baiklah saya mulai dulu dengan peristiwa besar yang terjadi 4 tahun belakangan ini.. Pertama saat ini telah menjadi istri seorang laki-laki dan ibu dari seorang anak laki-laki. Status yang luar biasa... hehehhe. membuat saya terharu.  I think it is my first story here after marriage life.. Kehidupaan rumah tangga yang nano-nano rasanya.

Saat ini sedang menempuh pendidikan lagi... yaps I am phd candidate. Rasanya bagai mimpi bisa menapaki jenjang pendidikan tertinggi itu. Jadi mak-mak yang phd itu ternyata berat saudara-saudara.
Oh ya saya juga sudah membukukan catatan perjalanan saya selama menempuh pendidikan S2 di eropa yang saya beri judul " Menggenggam Empat Benua.". Penerbitan buku ini juga luar biasa perjuangannya. Tapi sungguh banyak pelajaran dan hikmah yang didapat.  Insyallah the next posting saya akan bercerita tentang buku saya..Apa isinya dan lika-liku perjuangan menerbitkanya.  Semoga buku tersebut bisa memberikan semangat dan inspirasi.. amin




Yang mau pesan bisa hubungi saya di IG : Yeli Sarvina...

10.8.16

Melirik Real Time Control untuk mengatasi banjir di Kota-Kota Besar Indonesia


Banjir adalah salah satu bencana alam yang sangat akrab dengan masyarakat  Indonesia  saat ini. Frekwensi dan intensitas kejadiannya pun terus meningkat. Intensitas curah hujan yang tinggi dalam waktu yang singkat serta semakin berkurangnya daerah resapan air disinyalir sebagai penyebab banjir  terutama yang terjadi di kota-kota besar. Konversi lahan-lahan terbuka hijau sebagai tuntunan peradaban manusia  adalah fakta yang memang sangat sulit dicegah.
Perubahan pola dan intensitas curah hujan adalah salah satu dampak perubahan iklim yang menjadi isu paling hangat bagi para pemerhati lingkungan beberapa dasawarsa belakangan ini.  Daerah-daerah perkotaan yang curah hujannya diproyeksikan akan meningkat, memiliki peluang ancaman banjir  yang semakin besar pula. Oleh karenanya perlu berbagai upaya  untuk mengurangi  peluang kejadian serta dampak resiko banjir tersebut.
Salah satu solusi untuk mengurangi peluang kejadian banjir di kota-kota besar seperti  Jakarta adalah pembangunan penampungan air bawah tanah yang dibangun dengan sistem otomatis ( Real time control). Bangunan bawah tanah yang saat ini telah banyak digunakan sebagai lapangan parkir bisa digunakan untuk mengembangkan sistem ini.  Secara sederhana konsep penampungan ini adalah dengan membangun beberapa lapis ruangan di bawah tanah.  Lapisan paling bawah adalah lapisan utama untuk penampungan air, kita sebut lapisan ini lapisan pertama pertama, lapisan kedua dan lapisan ketiga bisa digunakan untuk parkir kendaraan atau untuk kepentingan lainnya.
Konsep Real Time Control untuk mengurangi banjir di kota-kota besar
Pada saat  hujan besar  terjadi, air masuk dalam penampungan melalui pintu utama menuju  lapisan pertama. Pada penampungan pertama ini dibangun real time control  berdasarkan tinggi muka air. Jika air sudah sampai pada nilai ambang (threshold) tertentu, sistem kontrol akan memberikan sinyal bahwa penampungan akan segera penuh terisi air.  Penampungan kedua yang pada keadaan normal bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain (misal untuk parkir) sudah harus dipersiapkan dan dikosongkan untuk menampung air. Ketika penampung pertama sudah penuh, maka secara otomatis pintu tampungan kedua akan terbuka dan air akan mengalir pada tampungan kedua ini. Jika genangan semakin besar, pada keadaan yang sangat ekstrim dan dadurat, penampungan ketiga yang merupakan tempat parkir kendaraan bisa digunakan dengan sistem kerja yang sama. Air-air yang ada pada sistem tampungan ini akan dilepaskan secara otomatsi pula menuju saluran-saluran buangan seperti muara sungai atau untuk pemanfaatan lainnya. 
Pembangunan sistem ini, dalam pandangan saya,  di kota-kota besar seperti Jakarta sudah harus mulai dipertimbangkan pengaplikasiannya. Jakarta adalah pusat ekonomi dan pusat pemerintahan Indonesia.  Hampir 70% ekonomi Indonesia ada di Jakarta. Lumpuhnya Jakarta akibat banjir, artinya juga kelumpuhan ekonomi Bangsa Indonesia. Disamping itu sistem ini juga perlu diaplikasikan di pusat-pusat pemerintahan utama seperti pusat pemerintahan. Sungguh ironis sekali  jika istana kepresidenan harus tergenang banjir seperti yang pernah terjadi di Indonesia. Terakhir yang tak kalah penting juga adalah di pusat-pusat cagar budaya karena tempat itu adalah tempat bersemayamnya beribu nilai historis yang tidak akan tergantikan oleh nilai yang lain.

12.3.15

Welcome Back Dresden... Dan Perjuangan ini akan saya selesaikan di kota ini

Dan perjuangan akhir dimulai
Dan hari ini saya kembali menulis dari Dresden, kota diperbatasan German dan Republik Ceko. 1,5 tahun yang lalu perjuangan saya mulai di kota ini, dan In Sha Allah perjuangan ini pun akan diakhiri dengan manis di kota ini. Tak terasa sudah sebulan disini. Saya kembali ke kota ini, setelah keputusan akhir concortium meeting di program FRM menyatakan saya harus melakukan master thesis saya di Technical University of Dresden. Walau pada awalnya sedikit kecewa dengan keputusan ini, karen tidak mendapatkan pilihan pertama  untuk topik thesis, tapi ya sudahlah saya tak punya pilihan lain  and  just said : welcome back Dresden.  Semoga ini menjadi jalan terbaik untuk jalan hidup saya selanjutnya.  Yaps rencana Allah maha indah dari rencana kita. 

Karena sudah pernah tinggal dan hidup enam bulan di kota ini, jadi datang kembali ke Dresden sudah tidak menjadi masalah besar buat saya. Satu yang saya garis bawahi, dari petualangan saya tinggal di beberapa negara, ikatakan kekeluargaan Indonesia di Dresden adalah yang paling kuat. So hal ini pulalah yang memantapkan hati saya kembali ke kota ini.

Pertama datang kembali ke Kota ini, saya sedikit ragu dan cemas. Karena di German, khususnya di Dresden sedang hangat-hangatnya isu anti Islam. Dan di Dresden ada sebuah gerakan  anti Islam yang mereka menyebut kelompok mereka dengan nama PEGIDA. Hampir tiap minggu mereka mengadakan demonstrasi. Intinya mereka mulai resah dengan banyaknya pendatang muslim di Dresden, dan beberapa sektor ekonomi di kota ini pun mulai dikuasai oleh pendatang muslim terutama dari Turky.  Walau sempat hangat, karena sempat ada pembunuhan satu orang muslim dari Afrika, tapi saat saya menulis ini, semangat dari gerakan ini pun sudah mulai melayu dan menurun. So till now, everything is going fine here.

Untuk masyarakat Indonesia sendiri,  Bapak kedubes  Indonesia di German, Bapak Fauzi Wibowo (ex Gubernur DKI) sengaja datang ke Dresden, bertemu walikota di sini dan tentu juga bertemu dengan penduduk Indonesia di sini. Intinya beliau meyakinkan bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik-baik saja. So jangan takut dan panik hanya perlu berhati-hati dan waspada.

yeah kampus saya ditengah hutan 
Sebulan pertama di kota ini, saya memang harus berjibaku dengan proposal master thesis. Butuh waktu hampir tiga minggu buat saya untuk mengerti ini sebenarnya penelitian saya tentang apa. Dan untuk itu saya harus membaca lebih kurang 100 jurnal.  Prestasi pertama dalam hidup saya. Walau sebenarnya ini bukan hal baru bagi saya tapi tetap saja it was very challenging. Alhamdulilah hari ini saya bisa submit proposal saya. Dan akhirnya  punya waktu sejenak untuk bertandang dan bercerita di blog ini. 



Pelajaran pertama yang saya pelajari pada tahap awal thesis,  menjaga semangat merupakan hal yang paling penting dan susah. Memotivasi orang lain ternyata kadang lebih mudah dari pada memotivasi diri sendiri. Maka memang kita harus pandai-pandai mencari jalan agar semangat tetap menyala. Hal yang saya lakukan so far ketika saya benar-benar kehilangan semangat adalah pergi ke slub (perpustakaan). Bukan untuk mencari buku atau apa, hanya untuk melihat orang lain belajar... and somehow itu kembali memotivasi saya. Dan hal lain yang saya lakukan adalah lari atau jogging.. hahaha entah bagaimana hubungannya, tapi itu ampuh untuk kembali menjaga semangat saya. 


detik-detik menjelang submit
Alhamdulilah saya sudah melewati tahap awal thesis saya, dan saya siap menghadapi fase selanjutnya. Mohon doanya ya saudara-saudra. Dan buat teman-teman yang juga sedang berjuang menyelesaikan master thesisnya selamat berjuang kawan, kita tau ini tidak mudah, tapi kita yakin, kita bisa. 








Salam pusing dan rindu 
dari lembah peradaban elbe 




28.4.14

Sylt Island, Bagaimana German Melindungi Pulaunya

Meskipun German bukanlah negara kepulauan, tapi tau kah anda German punya sebuah pulau kecil di laut utara yang bernama pulau Sylt. Pulau ini pun berlokasi di Utara German dan berdekatan dengan Denmark. Yaps dari Dresden, tempat ini harus kami tempuh dengan kereta dengan lama perjalanan lebih kurang 8 jam. Pada tahun 2009 Unesco pun menetapkan pulau ini sebagai salah satu warisan budaya, " world Heritage'. Pulau ini memiliki garis pantai 40 Km. Merupan wadden sea, dan zona intertidal dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Uniknya pulau ini terhubung dengan sebuah jembatan sepanjang 11 KM dari dataran German yang telah dibangung sejak tahun 1927an. Jadi menuju pulau ini kita tak perlu berkapal atau berkano ria. 

Pada saat summer Pulau ini merupakan tujuan wisata  favorite di German. Dan di pulau ini pun terdapat kompleks perumahan mewah yang tentu hanya dimiliki oleh para konglomerat. Konon katanya beberapa artis terkenal dunia punya rumah di sini. Segala fasilitas lengkap di sini. Bukan seperti pulau-pulau kecil di Indonesia. Sistem transportasi di dalam pulau ini pun sudah di design seperti transportasi di dataran German, dengan sarana dan prasarana yang super lengkap. Kalo punya rumah di sini, maka sudah ketauhuan deh level kekayaannya hehee. Karena disamping harganya yang maha dasyat, pajak rumah di pulau ini pun tak tangung-tanggung.

Pemerintah German telah mengeluarkan investasi yang tak tanggung-tanggung untuk membangun pariwisata di pulau ini. Maka hal ini  mendorong mereka untuk melindungi pulau ini dari abrasi, ancaman badai dan kenaikan muka air laut. Bagaimana mereka melindungi pulau ini, sangat patut diancungi jempol.  Dan itulah salah satu alasan mengapa pada akhirnya saya sampai ke pulau ini. kunjungan saya, dan teman-teman FRM3 ke pulau ini adalah untuk belajar dan melihat langsung bagaimana sistem perlindungan dan penjagaan pulau ini dari Banjir. Ini merupakan bagian dari matakuliah Flood Risk Managemen. Intinya di pulau ini kami melaksanakan workshop Coastal Flooding dan sekaligus melakukan study lapangan.  Belajar sampir jalan-jalan.. namun faktanya jalan-jalan sambil belajar.. hehehe 

Coastal Flooding Workshop
Workshop yang diikuti oleh 23 orang students ini dilaksanakan di sebuah vila, milik sebuah gereja di Dresden.  Karena ini kepunyaan gereja jadi kami tidak perlu menyewa bangunan ini.  Workshop ini  di design disamping untuk menambah wawasan kami, tapi juga untuk menjalin kedekatan sesama kami. Jadi workshop yang dilaksanakan selama 4 hari ini memang harus melibatkan kerja sama pesertanya.  Segala akomodasi kami laksanakan dan urus sendiri, termasuk dalam hal masak-memasak. Jadi kamipun punya jadwal piket siapa yang masak, siapa yang bersih-bersih, siapa yang belanja dan mengurus tetek bengek lainnya.
Rekam suasana workshop
Workshop ini pun dimulai dengan pemberian wawasan oleh seorang profesor dari  Gent University yang intinya menjelaskan bagaimana perlindungan pulau Sylt ini dari coastal flooding dari pendekatan hydrology  dan  engineering.  Sebuah pembahasan yan cukup menarik. Dan setelah itu kami pun mendapatkan materi yang sama tapi dengan perpekstif yang berbeda yaitu dari pendekatan  social dan ekonomi. Yaps at the end we came up with the integrated understanding about this island. Setelah mendapatkan materi tersebut kami yang memang sudah dibagi perkelompok, harus melakukan presentasi dengan mengkombine materi yang didapat dengan study pustaka dan literature. Namun sedikit berbeda, presentasi yang biasa dilakukan  dengan slide power point maka kali ini kami harus melakukan presentasi dengan  menggunakan poster. Membuat poster dalam waktu 3 jam itu adalah sebuah challenge yang menuntut kami  memang harus membagi tugas dengan baik.  Walau dengan napas tersenggal-senggal akhirnya tiga kelompok pun bisa mempresentasikan posternya. 

Selesai dengan challenge pertama maka kami pun berlanjut dengan challenge kedua.. yaps yang kedua ini kami harus menyusuri pantai, mengamati berbagai komponen perlindungan pantai di sini. Dan kemudia mengkombine informasi tersebut dengan materi yang telah kami dapat.  At the end kami pun harus melakukan presentasi, tapi kali ini dengan presentasi seperti biasanya.  Secara garis besar itulah kegiatan utama workshop ini. di akhir acara sebelum kami pulang kami pun diajak  ke sebuah  museum tentang rekam sejarah dan perkembangan pulau sylt.
struggling with poster presentation
Fakta tentang Sylt Island 
Keindahan Pulau Sylt 
Yaps tak pernah terbayangkan oleh saya, bahwa pada akhrinya saya bisa menikmati sebuah keindahan pulau kecil di German ini.  untuk tujuan wisata pulau ini memang di desain sangat apik dengan pasir yang bersih. walaupun sebenarnya pasirnya yang bersih bukan karena kondisi alamnya, tapi mereka dalam jangka waktu tertentu melakukan pencucian terhadap pasir-pasir di beberapa pantai yang menjadi tujuan utama para turis. Dan untuk melakukan itu biayanya tak tanggung-tanggung mamen... 
Sylt Island dan Mercusuarnya
Untuk alasan keindahan dan perlindungan, pemerintah pun membagi daerah ini beberapa zona. Zona perlindungan dimana di zona ini tidak boleh dibangun bangunan apapun, zona wisata dimana di zona ini terdapat beberapa fasilitas wisata seperti vila, kafe dan restoran dan teralhir adalah kawasan pemukiman dan fasilitas umum lainnya seperti sekolah dan rumah sakit.

Vila-vila di pulau ini pun dibangun dengan arsitektur yang unik. Dengan atap seperti ilalang membawa imaginasi kita bahwa bangunan-bangunan ini sangat dekat dengan alam.  Lokasi satu vila dengan vila lainya pun cukup berjauhan. Sehingga sangat menjaga sekali provasi tamu yang menginap di vila ini. Intinya ini tempat paling cocok buat honeymoon hehehe. Hehehe.. tapi sewanya nga nahan booo..
Ini pantainya
Disanping itu satu hal lain yang menjadi ciri khas sylt adalah mercusuarnya.  Dan tak heran di postcard2nya menara ini selalu menunjukkan dirinya.. hehehe.. Mercusuarnya tidak terlalu tinggi dengan bentuk kerucut dengan warna belang-belang  merah dan putih. Dari kejauhan mengabadikan keindahan mercusuar ini merupakan tantangan tersendiri.

Fakta tentang abrasi
Sylt tersusun oleh sedimen lepas yang berasal dari proses glassiasi. Kondisi ini menyebabkan perpindahan sedimen rata – rata 4 meter per tahun oleh angin, sangat dinamis untuk area seluas 91 km2. Pada saat terjadi badai di musim dingin, muka air laut naik rata – rata setinggi 3 meter. Pada 1870 – 1952, garis pantai mengalami kemunduran sejauh 0,9 meter/tahun dan meningkat menjadi 1,5 meter/tahun untuk periode 1952 – 1984. Sebuah badai besar pada tahun 1984 menyebabkan kemunduran garis pantai sepanjang 20 meter di bagian selatan Pulau Sylt atau setara dengan hilangnya setengah juta m3 sedimen.

Lembaga riset bernama Alfred Wegener Institut dan Nature Science Center pun didirikan untuk mengamati kondisi terkini dan memberikan informasi serta pendidikan bagi masyarakat tentang proses alam yang telah, sedang dan akan terjadi di Pulau Sylt. Waktu akan terjadinya pasang – surut dan badai diumumkan kepada masyarakat secara berkala. Lembaga riset bersama pemerintah, LSM dan wartawan serta pihak – pihak yang terlibat lainnya saling bekerja sama sesuai peran masing – masing. Bencana alam memang tidak bisa dicegah, tetapi mengurangi dampak yang mungkin terjadi merupakan kewajiban bersama untuk melindungi masyarakat.


Perlindungan daerah pesisir

Perlindungan daerah pesisir sudah dilaksanakan sejak 130 tahun yang lalu.  Flood defence yang dibangun di sini terdiri dari natural defences  seperti foreshore, dunes, bank and beaches. sedangkan  made man defences yang dibangun adalah dikes, walls, dan wave breakwater.  Untuk pembangunan breakwater dan seawall  menelan biaya sekitar 2,15 miliar euro. 

Coastal dune di pulau sylt ini kebanyakan adalah sand dunes yang ditanami beberapa varietas grasses 
seperti  jenis Ammophila arenaria dan Leontodon sp. Untuk mengganti sedimen yang hilang, pasir dari laut pun dihisap dan disalurkan menuju pantai melalui pipa khusus. Total 36 juta m3 pasir telah ditransportasikan dengan biaya 3,5 juta euro per tahun. Disanping itu dalam waktu berkali beach nourishment pun dilakukan
Beberapa perlindungan Coastal Flooding di Sylt Island
sejarah perlindungan pulau sylt 
tahun 1867: pembangunan groins 
tahun 1906:  pembanguan sea wall
tahun 1960 : tetrapode 
Tahun 1968: Beach nourishment

Disamping pembanguan fisik, pemerintah pun memberikan edukasi tentang abrasi, coastal flooding dan hal-hal terkait.  Early warning system dan real time control pun sudah dibangun dan semuanya telah berfungsi dengan baik

Lalu bagaimana dengan perlindungan pulau-pulau di Indonesia 
Setelah mengunjungi pulau ini, saya pun bertanya pada diri saya sendiri sebagai seorang yang dilhairkan di negara kepulauan yang konon katanya punya lebih dari 13.000 pulau. Jika kita coba-coba membandingkan, maka memang kita tertinggal cukup jauh dalam hal perlindungan ini.  Sebagai contoh pembangunan  dike di utara jakarta saja, pemerintah tidak mau membiayai, padahal kenaikan muka laut semakin jelas dan land subsidence di jakarta bagian utara  telah mencapai angka 7,5 cm pertahun. Maka jakarta tenggelam adalah hal yang sangat mungkin dan tinggal menunggu waktu jika kita memang tak berbuat apa-apa.  Berapa banyak nyawa manusia di kota metropolitan jakarta yang harus dipikirkan keselamatannya dari sea disaster seperti coastal flooding dan kehilangan lahan-lahan kita.  And the end memang saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa nyawa di negara kita memang tidak terlalu dihargai sementara di negara maju let say German, satu nyawa manusia itu sangat berharga kawan. 

Kadang saya pun sadar, selalu membandingkan keadaan Indonesia dengan negara-negara yang saya kunjungi memang tak baik adanya. Tapi jika itu buat kebaikan kita mengapa kita tak mencobanya.
Dan tiba-tiba rindu memantai di hangatnya khatulistiwa...

9.12.13

TAPAK KAKIKU; SABANG-MERAUKE

Tugu O kilometer
"Dari Sabang-Merauke berjajar pulau-pulau", masih ingatkah anda lagu itu? he..he.. lagu yang sering kita nyanyikan semasa SD dulu. Yah itulah Indonesia. Lalu apa hubungannya lagu itu dengan tulisan ini? Sedikit agak berlebay.com sih.  "saya sudah resmi jadi warga negara Indonesia ciiiin ". Pengakuan pada diri sendiri, karena telah menginjakkan kaki di ujung timur dan barat Indonesia. Yaps Sabang dan Merauke. Dan semua itu terjadi pada tahun  yang sama yaitu tahun 2012 lalu.

Itulah mungkin keuntungan bekerja pada lembaga penelitian Nasional yang wilayah kajiannya  seluruh Indonesia. Pekerjaan dan kegiatan penelitianlah yang akhirnya membawa saya bisa menginjakkan kaki di ujung barat dan timur Indonesia bahkan diseluruh provinsi Indonesia ini. Gratis tentunya bahkan di bayar pula. hehehe.  Tentu memang, harus-harus pintar mencuri waktu, agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.  Dan tentunya tidak melewatkan kesempatan untuk berplesir. Biasanya saya  akan extend beberapa hari setelah semua pekerjaan selesai.

Batas PNG dan Indonesia dari arah PNG
Meskipun pada tahun 2008 saya pernah hidup di tanah Papua selama lebih kurang 6 bulan, tapi kala  itu saya belum punya kesempatan mengunjungi garis batas Indonesia di timur itu. Baru akhirnya Oktober 2012 kemaren, saya bisa kembali ke Papua. Dan kesempatan itu tentu tidak saya lewatkan begitu saja. hehe. semaksimalkan digunakan untuk mengunjungi perbatasan dan list tempat-tempat lainya. Sedangkan perjalanan saiya ke Sabang, Pulau Weh juga di tahun yang sama yaitu pada bulan Mei 2012 lalu. Kebetulan pada tahun 2012 lalu saya menjadi penangung  jawab sebuah kegiatan penelitian yang mengharuskan saya melakuka survey  di seluruh provinsi di Pulau Sumatera.

Perjalanan ke Pulau Weh, adalah solo trip saya berikutnya. Keindahan tentang Pulau Weh akan saya tulis dalam bab tersendiri. Ternyata pulau kecil diujung utara provinsi Aceh ini adalah syurga  destinasi wisata Indonesia yang patut anda datangi. Pantai dan alam bawah lautnya tidak kalah dengan bunaken dan wakatobi..hehehe.Budaya aceh yang unik, memberikan cerita lain dari perjalanan ini. Dan perjalanan ke titik ujung pulau ini (titik Nol Indonesia) tentu adalah kebanggaan tersendiri. Sebenarnya bagi yang berminat, setelah mengunjungi pulau ini, kita bisa mendapatkan sertifikat..hehehe dengan membayar 20 ribu kalo nga salah. Tapi bagi saya itu tidak penting.

Perjalanan saya menuju titik 0 derjat saya lakukan sore hari. Alhamdulilah menikmati sunset yang Indah. Dan itu artinya, pada hari itu saya adalah penikmat terakhir matahari Indonesia hehehe. Sayang titik nol ini agak kurang terawat. Bekas vandalism ada dimana-mana. Ranting dan daun dibiarkan saya di rumah tempat dimana tugu ini berada. Oh ya di kawasan ini banyak sekali monyet berkeliaran, sehingga sangat disarankan untuk hati-hati dengan barang bawaan yang anda bawa.
Batas Indoenesia PNG arah Indoenisa 
Kesan berbeda, akan ditemukan di ujung timur Indonesia. Jika titik 0 ada di ujung pulau dan mendekati laut, maka ujung barat indonesia Indonesia adalah garis batas  darat Indonesia dengan negara tetangga, Papua Nugini. Kesan menakutkan perbatasan terasa sekali. hehehe. Polisi dan TNI dengan senjata lengkapnya siap siaga. Memasuki kawasan ini, kita pun harus menjalani proses pemeriksaan yang maha ketat. Yah itulah ciri khas negeri batas. lagi-lagi kadang bertanya mengapa kita harus disekat-disekat dengan garis batas ini..Arrrrrrggggg.

Yaps at least inilah salah satu bukti kecintaan saya pada Indonesia. Menginjakkan kaki di ujung barat dan timur sebelum berkelena jauh ke negeri orang. Melihat dan mengunjungi hampis sebagian besar wilayah Indonesia ini, semakin saya sadar bahwa  kita adalah negara maha kaya. Dan saya semakin mencintai negara ini. Hiks..hiks tiba-tiba rindu hangatnya negara tropis, Indonesia. :D