7.4.12

TORAJA; HIDUP UNTUK KEMATIAN

-->
Terinspirasi menulis cerita ini setelah melihat liputan tentang Toraja di salah tv swasta. Sempat gagal beberapa kali ,akhirnya bulan juni tahun kemaren (2011)  punya kesempatan untuk ber-solo trip menuju segumpal tanah unik yang berjarak sekitar 300 KM dari  kota makasar.  Sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampui itulah kalimat yang tepat menggambarkan trip ini. Yaps perjalanan ini aku lakukan setelah menyelesaikan tugas survey 10 hari di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Rombongan survey yang sebenarnya berjumlah 5 orang memutuskan untuk segera pulang ke Bogor, tapi tidak dengan ku. Dengan tekad bulat dan membaja aku extend dua hari menuju toraja termasuk waktu untuk perjalanan pergi dan pulang menuju makasar. Waktu yang sangat-sangat kurang  sebenarnya, bahkan sebagian temanku menganggapnya sebagai  pekerjaan konyol. :D
Karena hanya 2 hari, aku memutuskan menyewa mobil sendiri menuju Toraja. Menggunakan kendaraan umum tidak memungkin. Dan beruntung, driver, pak Andi,  yang kami gunakan untuk survey sangat mengerti tentang toraja. Tanpa pikir panjang akhirnya aku putuskan pak andi jadi teman dan guide perjalananku selain alasan keamanan tentunya. Karena track recordnya sudah teruji.

Perjalanan di mulai dari makasar. Dalam waktu 8 jam, kami sudah bisa berada di kota rantepao sebagai ibu kota kabupaten toraja utara. Salah satu keuntungan menyewa mobil sendiri adalah bisa mengekplore kota-kota yang  dilewati seperti pare-pare dan engrekang. Dua kota ini cukup berkesan juga buat ku. Dari engrekang perjalanan yang dilalui semakin menanjak dan berkelok-kelok. sampailah di salah satu panorama yang sayang dilewatkan. Orang kebanyakan menyebutnya bukit nona. Konon katanya bukit ini mirip kelamin perempuan. Tapi saya tidak bisa menangkapnya..lemot kali ya. Nah sepanjang jalanan bukit nona ini,  banyak warung-warung yang patut dan harus disinggahi sekedar menyeruput kopi hangat...slurrrrrp nikmatnya.
Bukit nona, Engrekang
Sangat disayangkan juga tidak semua tempat yang di list bisa dikunjungi. Tapi sungguh sangat terkesan dengan budaya toraja. Waw Indonesia itu benar-benar kaya saudara-saudara. Semakin cinta dan cinta deh. Tempat pertama yang aku kunjugi adalah lemo. Karena dari arah makasar ini adalah tempat wisata yang aku temui pertama kali. Siang itu, lemo sangat sepi, maklum lagi gerimis. Hanya bertemu dengan satu turis eropa yang merupakan seorang arkeolog. Jadilah perjalnan semakin asyik dengan cerita-ceritanya.


lemo 
Lemo
Lemo, ini adalah salah satu  karya suku toraja yang kukagumi.  Gambar Lemo ini pertama kali, kulihat di kalender salah satu produk rokok waktu SD puluhan tahun lalu. Dan tak disangka dan diduga sampai juga aku di hadapan pemakaman yang dikenal sebagai rumah para arwah ini. Intinya lemo adalah pemakaman pada sebuah dinding batu konon katanya ada 75 lubang. Dibagian depan dinding lemo ini dipasang replika orang-orang yang dimakamkan di lubang batu itu (disebut tau-tau).  Konon katanya pakaian dari tau-tau akan diganti pada upacara adat  Ma-Nene.


Kettesu
Waw tempat ini yang paling ku suka dari perjalanan ke Toraja ini. Ini adalah komplek perumahan adat toraja yang masih asli yang umurnya tentu sudah sangat tua. Disini kita bisa menyaksikan jejeran rumah adat toraja yang terdiri dari tongkonan dan lumbung padinya. Disini juga ada tempat upacara pemakaman (rante), kuburan purba dan makam-makam modern yang masih tetap menggambarkan budaya tanah toraja. Kuburan purba di belakang kettesu ini merupakan situs pemakaman tebing dengan pemakaman gantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar.

kettesu
kettesu

Kettesu dalam sketsa hitam dan putih
situs pemakaman tebing di belakang kettesu
 
Londa
Hampir mirip dengan lemo, londa adalah salah satu pemakaman purba   dengan dinding berbatu dan tau-tau. Di dalamnya terdapat banyak tengkorak yang berserakan. Konon katanya susunan peti jenazah di susun berdasarkan silsilah keluarga.  Dari beberapa literatur yang sempat ku baca, panjang gowa ini mencapai 1 km, untuk bisa menjelajah sampai 1 km ini diperlukan perizinan dan persyaratan khusus. Tapi jangan cemas, kita bisa kok masuk dalam gua ini tapi hanya sampai kedalaman tertentu. Di depan goa banyak penduduk setempat yang menyewakan lampu sekaligus sebagai guide yang menjelaskan sedikit banyaknya tentang londa. 
Pintu masuk Londa
Seberapa banyak orang yang telah dimakamkan di londa ini bisa diketahui dari jumlah tau-tau yang digantung di depan goa ini. Yang bisa dimakamkan di londa ini adalah petinggi di toraja tentunya dan harus melalui upacara adat Tallulolo. Konon upacara ini sangat menarik dan terkenal seantero.  Dan yang fantastis, untuk upacara adat ini ahli waris harus menyediakan minimal 24 kerbau..wow.....

Tengkorak di dalam londa

Hari kedua di toraja hanya bisa ku explore beberapa jam saja. Karena harus mengejar penerbangan jam 6 sore. Cukup berkesan menikmati malam di kota rantepao..cukup dingin kala itu. Tapi bagi muslim memang harus hati-hati dalam memilih makan. Jika ragu, tanyakan saja rumah makan muslim dimana. Penduduk disana dengan senang hati akan menjawab.
Batutumonga
Pagi hari perjalanan ku lanjutkan menuju puncaknya Toraja, batutumonga. Sayang sekali, cuaca kurang bersahabat. Seharusnya dari batu tumonga ini kita bisa melihat kota toraja dari ketinggian. Tapi hari itu aku hanya melihat kabut dan awan. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat rumah-rumah adat toraja, dan jejeran batuan yang dijadikan sebagai tempat pemakaman.  Di daerah ini terdapat 56 menhir dengan susunan yang sangat unik. Karena waktu, perjalanan yang masih menggantung ini harus diakhiri.


situs pemakaman di batutomonga

hamparan sawah di batutumonga
KAMBIRA
KAMBIRA
Dalam perjalanan pulang menuju makasar, aku masih sempat  mengunjungi kambira (burrial cave). Ternyata tempatnya jauh dan gara-gara kambira ini, aku nyaris ketinggalan pesawat. Untung pak andi sopir yang sangat lihai mampu menembus makasar dalam waktu 6 jam.  But whatever, aku merasa tak rugi mengunjungi tempat ini. Dari salah  satu liputan hotspot trans-tv ku ketahui bahwa kambira adalah salah satu bentuk pemakaman terunik di dunia.
pohon Tarra
Tempatnya hanya sederhana, sebatang pohon yang dipagiri...tapi cerita adat dan budayanya yang menjadikannya unik. Pohon ini ternyata bernama pohon tarra dengan umur hampir 300 tahun. Pemakaman kambira ini hanya ditujukan untuk bayi-bayi meninggal disaat belum tumbuh gigi. Pohon kayu tara ini dilubangi, setelah dimasukkan mayat bayi, pohon ini akan ditutup dengan pelepah enau dan dipasak dengan ijuk, jumlah ijuk ini konon katanya menunjukkan strata sosial. Pemakaman di kambira ini pun dilaksanakan dengan rangkain upacara yang unik pula.
disinilah bayi-bayi itu dimakamkan
Kambira akhrinya mengakhiri perjalanan ku di toraja. Sebelum benar-benar meninggalkannya, ku sempatkan untuk menikmati minumam jus khas toraja, jus terung belanda (Jus tamarella). Sueger rek, walau sedikit kecup:p. Kesimpulan dari perjalananku,  suku toraja  benar-benar unik karena proses pemakaman dan perkuburannya. All about kematin. Yaps ternyata kehidupan ini memang untuk kematian...

jus tamarella

30.1.12

ENTIKONG-TEBEDU; KITA DAN TETANGGA


Perbatasan dari kejauhan
Melanjutkan cerita yang tertunda tengtang negeri batas. Setelah menikmati malam di penginapan sekedarnya yang jauh dari kata layak, pagi itu kami coba mengamati kehidupan sekitar Entikong. Penginapan kami hanya berjarak 50 meter dari perbatasan. Ini sungguh memudahkan kami untuk mengamati kehidupan di negeri batas. Pemandangan pertama yang kami liat adalah kantor imigrasi dan kantor karantina pertanian dimana salah seorang temanku bertugas. Kantor imigrasinya tergolong cukup sederhana dibandingkan kantor imigrasi disebelahnya. Dari wajah dan tampang petugas di sana  secara kasat mata pun terlihat bahwa mereka memang lebih baik dari kita. Tapi cukup disayangkan tempat ini tidak boleh diabadikan dalam bidikan kamera. ketika aku mengeluarkan kamera seorang petugas disana langsung menghampiri ku dan menyampaikan larangannya. sampai saat ini masih belum menemukan jawaban kenapa  tidak diperbolehkan mengabadikan gambar di daerah ini. 


Kantor Karantina Pertanian Entikong
Kantor Imigrasi di perbatasan ENTIKONG-TEBEDU


Setelah mengamati bangunan di negeri batas ini kami pun mengamati masyarakat yang lalu lalang di pintu batas ini. Setelah bertanya-tanya pada beberapa orang ternyata mereka adalah penduduk Entikong yang akan berangkat kerja di negara sebelah. Info lain menyebutkan mereka kebanyakan bekerja pada sektor perkebunan terutama sawit.  Keren yah mereka, kerja aja harus beda negara. :p  Dan yang lebih menyedihkan adalah bahwa di negeri batas ini bahasa melayu malaysia lebih kentara terdengar dibandingkan bahasa indonesia atau bahasa dayak. Transaksi perdagangan pun lebih banyak menggunakan ringgit dibandingkan dengan rupiah. Sebagian dari masyarakatpun lebih memilih untuk berbelanja ke kota Khucing dibandingkan Pontianak. disamping harganya murah, akses ke kota Kuching pun terasa lebih mudah dibandingkan ke kota Pontianak. 
Suasana Perbatasan yang sempat terekam
Yaps inilah yang banyak di alami oleh masyarakat di perbatasan. Tentang rasa Nasionalisme dan tuntutan kehidupan. Negeri-negeri kita di ujung-ujung peradaban memang harus di akui jauh tertinggal dari tetamgga sebelah. Jauh dari kata layak secara kemanusiaan. ketika mereka mencoba mencari penghidupan ke negeri tetangga mereka pun diklaim tidak nasionalis. Dilema penduduk perbatasan kelangsungan hidup atau hidup dalam keterbatasan demi sebuah kata nasionalisme?

Pada negeri batas inilah sejatinya kita bisa melihat siapa dan bagaimana kita dibandingkan tetangga. Yang pasti jika berdiri di garis batas Entikong ke arah kota Kuching, kita bisa melihat jalanan yang rapi, mulus dan indah  tapi jika kita coba memutar badan ke arah Pontianak pemandangan sebaliknyalah yang akan kita lihat. Inilah cerita yang harus menjadi pelajaran terutama buat ku bahwa kita ternyata masih sangat jauh tertinggal dari negeri tetangga ini. Dan saya akhirnya memahami mengapa orang-orang di negeri batas ini lebih memilih menghabiskan hidupnya untuk negara tetangga. 
Menju Entikong
Dan tiba-tiba aku pun tertegun siapakah yang peduli mereka? kapankah peradaban di perbatasan ini akan berubah...hmmmmmm saat ini hanya  cuma bisa mereniung. belum bisa lebih dari itu...:D
(catatan perbatasan, April 2011)
Armada Tua Pontianak_ENTIKONG

27.1.12

DIALOG KECIL DENGAN MEREKA

Huaha waktu sudah mengalir saja ke tahun 2012. Tiba-tiba aku  tersentak dan sedikit terkaget. Begitu cepat dan teramat cepat. Sementara masih banyak ceceran mimpi, tugas, hutang dan tanggung jawab yang masih harus diselesaikan. Lagi-lagi hanya berguman andaikan waktu yang kita miliki lebih banyak dari tugas dan tanggung jawab yang kita punya. hu..hu...berdoa dan berharap semoga menjadi manusia yang lebih bijak dan efektif memanfaatkan waktu... toh dalam kitab suciku Allah pun telah menyampaikan pesannya untuk kita...tapi lagi- lalai dan lalai.

Lalu suatu siang beberapa waktu yang lalu, profesorku  tiba-tiba bertanya, bagaimana tahun 2011 bagi hidupmu. Tertegun sebentar mencoba menelaah pertanyaan pak prof. karena nga nyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya.  biasanya selalu bertanya nga jauh-jauh tentang report dan paper.   kujawab pertanyaan yang masih terasa asing itu, sebenarnya lebih ke curcol sih..he..he..(aji mumpung ...ada yang dengarin gundahan hati :P ).  "Jika ku coba mengkalkulasi hanya 30 % dari mimpi dan harapan yang terwujud di tahun 2011. sempat kecewa dan   bahkan sempat sedikit berputus asa. but come what may, i would do the best. Tapi luar biasa pak , aku mendapatkan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini akhirnya mampu menghapus kekecewaan dihati. Akhirnya saya percaya akan kata-kata keadilan pak, gagal di satu bagian,  insyallah dipermudah dibagian yang lain".Si bapak hanya manggut-manggut mendengarkan curhatan nga jelas dari ku. Tapi setelah itu si bapak kembali bertanya report yang selalu membuatku pusing...hu..hu....

Tak lama setelah itu tiba-tiba si bapak melanjutkan pertanyaannya...then what next plan?  dan tidakkah kamu memikirkan untuk segera menikah?. Huaha pertanyaan ini terasa lebih memusingkan dari report dan paper. Hanya bisa tersenyum dan terdiam menanggapi pertanyaan si bapak. "semua akan datang, jika kamu dinilai sudah siap untuk menjalaninya"  si bapak menimpali. Timpalan si bapak  mengakhiri pertemuan siang itu...Dalam hati aku berguman; berarti aku memang belum siap yah untuk menjalaninya... 

Dialog kecil inilah yang kadang dibelakannya membawa ku pada pikiran panjang. termasuk dengan orang-orang yang setia dan tulus membimbingku. celoteh sederhana yang kadang hanya disampaikan dengan kata singkat dan sulit dimengerti. Tapi itulah cara mereka mengajariku.

6.12.11

ENTIKONG_TEBEDU;CERITA NEGERI BATAS


-->
Entah mengapa Garis batas bagiku adalah sesuatu yang menarik. Sedikit terinspirasi oleh  kumpulan catatan perjalanan "Garis Batas" kang Agustinus Wibowo yang bercerita tentang garis batas di Timur Tengah . Dahsyat memanng.. Buku ini bercerita tentang dunia yang utuh namun tercerai berai oleh politik, perang, budaya, geografi bahkan kadang agama. Sempat berhayal dan berimajinasi konyol tentang dunia yang tak terkotak  dalam bentuk negara dan bangsa. everyone can go anywhere without passport  and  visa..he..he...(visa: masalah  utama para traveler)

Garis Batas Tepedu Entikong

Lalu bagaimana dengan garis batas di negera kita tercinta ini.  Perbatasan laut mungkin tidak se unik perbatasan darat. Laut telah  menjadi pembatas yang nyata bagi negara kita  dan negara tetangga. Namun sebaliknya pada Garis batas darat kita  menyaksikan secara nyata sebuah aris yang benar-benar memisahkan manusia dalam budaya dan aturan yang sungguh berbeda.  Bahkan di pulau sebatik Kalimantan Timur ada sebuah rumah penduduk  masuk dalam administrasi 2 negara. unikya..he..he..Sebuah sensasi yang memang harus ku rasakan. Setidaknya  ada tiga garis batas darat yang telah  masuk  dalam daftar tempat yang harus ku kunjungi, Entikog-Tepedu, Papua-PNG dan Atambua-timor leste. Semoga terkabul Amin.

Dan Akhirnya Bulan April 2011 kemaren saya merasakan salah satu sensasi garis batas  itu  Entikong-Tepedu. Berbekal Informasi dari Pak Wawan, seorang teman prajabatan yang  bertugas di karantina pertanian Entikong, Aku dan seorang teman yang kebetulan bernama yeli juga tapi beda spelling 'Yelly (duo yeli je..) memulai perjalanan ini. Sayang pada saat kedatangan ke Entikong Pak Wawan sedang training di Bandung. Tapi itu tak masalah bagi kami.

Perjalanan yang sudah kami rencanakan ini ternyata tak berjalan mulus. Yellly, my buddy ternyata ketinggalan tiket pesawatnya...Alhamdulilah masalah itu teratasi karena Yelly masih ingat kode bookingnya. Di itinerary yang kami buat,  Kami  terbang ke Pontianak dengan penerbangan sore dan berencana malam harinya pukul 21.00 langsung menuju Entikong dengan pilihan beberapa armada bis (prefer menggunakan Damri). Tapi rencana tinggal rencana. Setelah masuk boarding gate, Yelly  baru sadar bahwa pasportnya ketinggalan.  Beruntung pesawat delay 1 jam, Yelly nekat untuk kembali ke kosan untuk mengambil pasporntya itu. Nasib memang belum berkata baik, sampai pesawat take off yelly pun  tak muncul. sesat sebelum take off  ku sempat menghubungi Yelly . Informasi yang kudapat Yelily terjebak macet parah. Tapi yelly meyakinkan ku bahwa dia akan menyusul dengan penerbangan yang paling pagi esok harinya.
Sudah Jatuh Tertimpa tangga pula, itulah kata yang tepat menggambarkan nasib Yelly Inilah pelajaran moral kehidupan bahwa kelalain sekecil apapun itu fatal akibatnya. Yelliy telah mengeluarkan uang 150 ribu untuk menyewa sebuah ojeg dan terpaksa membayar harga tiket 2 kali  harga tiket semula. Dan mungkinn yang tak terlupakan adalah malam itu harus tidur di Bandara. Pengalaman yang tak terlupakan. Akhirnya aku pun harus iklas dan rela menunggu Yelliy esok harinya.

Tepat pukul 9 malam aku mendarat di Supadio. Setelah  tanya sana-sini akhirnya aku menginap di hotel sederhana Hotel Khatulistiwa  tepatnya. Beruntung menemukan sopir taksi yang sangat baik. seorang bapak yang akhirnya menjadi guide.  Tak banyak yang kulakukan malam itu, berbersih, SHolat dan langsung istirahat.  

Esok harinya  Jam 9  pagi  yelly sampai di hotel tempatku menginap. Wajahnya terlihat amat dan teramat kucel. maklum malam itu yeli memilih untuk tidak tidur demi kesalamatan katanya. Dan ternyata tak sempat mandi pula..Senyum dan iba dua ekspresi itu akhirnya muncul setelah Yelly menceritakan semuanya. Pelajaran paling berharga dalam hidup kadang  memang terlahir dari pengalaman konyol. semoga kejadian ini tak terulangi...

Dan kekonyolan belum selesai. Demi tiket murah untuk kembali ke Jakarta, kami  membeli tiket atas nama orang lain yang batal berangkat.. Sempat bimbang awalnya karena salah satunmya atas nama laki-laki.  karena tak lagi punya money kami pun sepakat membelinya. Maklumlah  harganya setengah dari harga tiket resmi saat itu. Demi keamanan,  Mba-mba penjaga travel itu akhirnya mencity cek in kan tiket kami.  Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh jua.  Kami berhasil masuk bandara dengan selamat...tapi jeng..jeng ketika masuk boarding gate, seorang petugas memperhatikan dengan seksama boarding pass ku, dan dengan tatapan aneh sang petugas pun bertanya. "lho ini kok namanya laki-laki"...dalam hati ku berguman " tamat deh riwayatku". Dewi fortuna masih berpihak pada ku  Sang petugas mengizinkan setelah tiba-tiba aku mengatakan bahwa tiket itu adalah tiket suamiku yang batal berangkat dan sayang kalo tidak digunakan. Konyol dan benar-benar konyol. Merasa teramat berdosa melakukan ini.. semoga Allah mengampuniku. Amin

Menuju Entikong

Karena semua armada darat menuju Entikong beroperasi malam hari, maka siang itu kami habiskan untuk mengexplore kota Pontianak dan menikmati beberapa kulinernya. Es nona dan es lidah buaya salah duanya. Tak banyak memang yang bisa di nikmati di kota khatulistiwa ini. Tempat yang pertama  kami tuju tentu dan jelas adalah tugu khatulistiwa. Konon katanya nga afdhal kalo ke pontianak  jika tidak  bertandang ke tugu khatulistiwa.  killing the time, kami pun sempat mengunjungi beberapa museum.. Bada' magrib kami kembali menjadi gelandang di sebuah mesjid. Beristirahat sejenak  menunggu Travel yang akan menjemput kami.

Dan perjalanan Pontianak_Entikong dimulai. Tak banyak yang bisa kami nikmati dalam perjalanan ini. Maklum sudah malam. Menelusuri jalanan panjang yang sebagian besar masih jauh dari kata layak. Hamparan perkebunan sawit adalah pemandangan utamanya. Yaps lahan gambut kita memang telah dirubah secara besar-besaran menjadi lahan sawit. Dengan kondisi jalan seperti itu, susah sekali memang untuk tidur nyenyak. Akhirnya kucoba menikmati perjalanan dengan  bercerita dan  mendengarkan   seksama percakapan penumpang lainnya. Aku pun berkesimpulan bahwa 2 orang  di dalam travel itu adalah TKW dan satu lainnya penyalurnya. Aku pun mulai mecoba mengali informasi lebih banyak tentang  dunia perte KWAan. Mereka kelihatan sangat hati-hati sekali menjawab setiap pertanyaanku.  Kesempatan baik untuk melihat bagaimana  hitam dan putihnya cerita TKW  yang  memang tak pernah habis.

Setelah menerima telpon dari rekannya, Sopir travel yang kami tumpangi tiba-tiba gelisah dan mewanti-wanti penumpangnya agar waspada. Ternyata ada razia TKW di salah satu kantor kepolisian. Bila ketauan membawa TKW ilegal maka penyalur  dan sopir akan berurusan dengan yang namanya duit dan penjara. Jika mereka bisa memberikan uang sesuia yang diminta para aparat itu maka mereka di bebaskan dan jika tidak maka para TKW tidak diizinkan oleh pihak kepolisian menuju negara tetangga. Mereka akan di tahan dan  setelah itu terserah polisinya. Mobil sang sopir pun akan di tahan. dan harus ditebus dengan tebusan yang aduhai...keserakahan manusia atas harapan dan mimpi-mimpi orang lain (TKW tepatnya). Kasian sekali mereka sudah diperas penyalur, pun harus diperas oleh oknum polisi.

Dan ternyata benar adanya. Ada razia. dan demi melindungi penumpangnya yang TKW ini, aku lah yang diminta pak sopir untuk menghadapi sang polisi. Karena sopir itu memang tau bahwa tujuanku hanyalah akan melancong bukan untuk menjadi TKW. Berhadapan dengan polisi  intinya aku ditanya mau kemana dan mengapa. setelah ku jawab jujur pak polisi tak percaya. Eh pak sopir malah tiba-tiba menyeletuk bahwa saya adalah orang kementan yang sedang dinas ke Karantina Entikong. Faktanya adalah orang orang kementan yang sedang melancong (he..he..) Pak polisi akhirnya memaksa ku untuk  menujukkann surat  penugsana .  bingung, memang tidak ada surat tugas karena memang bukan perjalanan dinas. Setelah mampu menunjukkan bahwa aku adalah PNS dan memperlihatkan tiket pulang kejakarta  mereka akhinya pun percaya.. 

Dini hari kami sampai di Entikong. Letih luar biasa. Merasa masih butuh istirahat kami pun menyewa sebuah kamar yang jauh dari kata layak  berjarak  sekitar  200 meter dari pintu perbatasan. Tak ada pilihan lain , ini satu-satunya penginapan yang kami  tau ada di sini. Desa ini terasa kota mati memang. Tak ada kasur tebal je, cuma ada kasur palembang yang tipis dan dinding kamar yang masih belum di plester , ruat dan kasarnya batako harus kami nikmati dalam lelah malam itu\.  Tapi sebandinglah dengan harga yang  hanya Rp.25.000 untuk dua orang. Penginapan ini menjadi cerita pertama kami di Entikong ...cerita kedua, ketiga dan seterusnya???? tunggu cerita selanjutnya :D
kompleks keimigrasian Tepedu Malaysia.

24.11.11

Menanti Tunainya sebuah Janji

Huaha...malam ini tiba-tiba ingin membahas ini. " kapan nikah?"mungkin ini adalah pertanyaan yang saat ini paling menakutkan, paling sulit dijawab dan paling tidak ingin ku dengar. Tapi malah intensitasnya semakin meningkat. (menyedihkan memang). Sampai terbesit untuk mencoba menghitung berapa kalinya dan mencoba memnbuat analisis statistiknnya he.he....(ide gila).

Kadang  terpaksa  pertanyaan itu kuangap sebagai angin lalu.  dan  kadang membawa ku untuk berfikir panjang. Sadar-se sadarnya, usiaku yang telah 28 tahun ini memang dinilai banyak orang adalah usia yang seharusnya sudah menikah( tapi nasib baik memang belum berpihak pada saya :(( ). Dan jauh di lubuk hati ini pun sudah sangat ingin  menyudahi drama kesendirian yang kadang cukup mendera ini.  Tapi lagi-lagi takdir belum mengantarkan saya ke magligai ini.  Mungkin memang Allah simpan ia  (pangeran berkuda  putih:p) dengan mesranya dariku untuk menguji seberapa taat, dan sabarnya aku mendapat anugrah ini.  

dan selalu ada getar aneh ketika membicarakan hal ini dengan ibu.  Selalu ada harap yang dalam dari setiap tutur katanya.  Harap yang tak pernah ku tau akan ku penuhi atau tidak. Lagi-lagi kita tak pernah tau.
Jodoh adalah misteri. Tak pernah tau siapa, kapan dan dengan cara apa datangnya. Yah kemungkinan terburuk  adalah memang tidak ada jodoh ku di dunia ini. Dan aku harus bersiap dengan kemungkinan terjelek itu.

Di belakang sana,  sudah pasti banyak mengalir ejekan, cibiran dan  bahkan sedikit cercaan, mulai dari yang terlalu pilih-pilih sampai statement  nga laku. Jadi ingat lagunya wali band..he..yang belum nikah pasti pada hapal nih kayaknya…atau jangan-jangan jadi lagu kebangsaan :p.  Masalah memilih,  Salahkah jika aku memilih. Ini bukan keputusan sembarang, sebuah keputusan besar yang akan dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat.  Masalah laku, mungkin saat ini  aku sedang menunggu pembeli yang tepat  (lha memang barang dagangan??).

Ya Allah lewat tulisan ini aku tak pernah berputus harapan dari menanti dan menanti tunai JanjiMU, tentang seseorang, tentang dia tempat tulang rusukku bersandar. Jika sudah sampai saatnya nanti, Tuntunlah aku untuk memulainya dan menjalaninya  dalam kesucian ajaran MU. Karena ia suci, penyempurna Dienku maka  harus ditempuh dengan cara yang suci pula.

Yang tercinta ku puja Kau dalam setiap sujudku
dan dalam menunggu kuurai pengertianku
lewat beragam kisah
hingga nanti saat telah engkau sampaikan langkahnya kepadaku

Galau,Tuban, 23 November 2011

8.8.11

Gunung Sindoro: Pendakian menembus kabut dan Hujan

Pendakian menuju puncak SIndoro (3153 mdpl) adalah pendakian terrempong yang pernah saya alami. Tapi tetap dimaklumi karena pendakian ini kami lakukan pada musim hujan awal Februari 2011 yang lalu. Perjalanan pun dimulai dengan hujan dan kembalipu masih di hiasi hujan. Malam tenda kamipun sempat dihantam badai. Beruntung kami bisa kembali dalam keadaan selamat, hanya kaki-kaki kami yang somplak. Alhamdulilah juga kami masih bisa sampai kepuncak SIndoro walau disana kami hanya menikmati kabut, kesegala arah memandang hanya ada putih dan putih. 
masih ada senyum disini..menjelang pos 1
Jalur menuju sindoro dominan adalah jalur batuan..nah jalur batuan ini yang paling tidak saya sukai dalam menggunung. Karena dengan jalur batuan ini kita seperti menaiki anak tangga. Dan dengan  membawa cariel  , Baik naik maupun turun akan terasa sangat berat sekali. Bagian kaki yang paling menderita adalah lutut. (jadi ingat iklan produk susu berkalsium tinggi: p).  Dan jika tak hati-hati sering kali terjatuh dan tentu mengakibatkan luka atau benturan yang keras karena langsung berhadapan dengan tajamnya batuan.  Belum lagi hujan, batuan menjadi licin dan beban kami berasa bertambah berat. 
Bersiap menyambut hujan
Sebenarnya dari Sindoro kita bisa menikmati Indahnya gunung Sumbing. Jika cuaca cerah kita bisa menikmati sunset yang indah. dimana pendaran jingga mentara menyelip dibalik gunung tersebut. Jika keadaan berawan maka pada ketinggian 3/4 tinggi gunung tersebut biasanya terdapat awan yang menyerupai kap topi gunung dan seolah-olah puncak gunungnya adalah kerucut dari topi tersebut.  Awan Topi inilah yang sebenarnya dicari oleh para pendaki yang berekpedisi ke Sindoro. Tapi nasib kami memang kurang beruntung sehingga tidak bisa menikmatinya. 
 Pendakian ini awalnya direncanakan untuk dua gunung sekaligus yaitu SIndoro dan Sumbing. karena posisinya yang memang berdekatan. Tapi karena semua kami kakinya sudah somplak semua maka pendakian ini dicukupkan untuk SIndoro saja dan sisa waktunya kami sempatkan untuk ke Dien dan sekitarnya.
Kayuan matid an kabut sindoro
Whateverlah, yang penting kaki sudah menginjak puncak . Dan perjalanan ini tetap indah bersama sahabat-sahabat luar biasa yang pernah hadir. Kebersamaan yang luar biasa. Canda dan tawa adalah milik bersama yang selalu menghiasi setiap perjalanan kami. 

Pendakian Sindoro ini meninggalkan pelajaran moral buat ku," berfikir ulanglah kembali jika melakukan pendakian pada musim  hujan"

4.8.11

Menapaki keindahan belitung 5: Melihat Sisi Lain Kota Tanjung Pandan

Cerita tentang kota  Tanjung Pandan ini menjadi penuntas perjalanan kami di Pulau Belitung. Tanjung  Pandan adalah kota kecil  pusat pemerintahan dan ekonomi masyarakat di Pulau Belitung. Puanas itulah kata pertama yang keluar dari mulutku ketika menginjakkan kaki di kota ini. Harap makluim, pinggir pantai. Tapi di kota ini kita  bisa menikmati banyak suguhan budaya dan cerita. Dan itu tentu wajib dinikmati terutama bagi para photographer (sunda-aksen: p). Karena banyak spot-spot foto yang siap dijadikan bahan bidikan.
di depan museum Tanjung Pandan

Musem Belitung adalah tujuan pertama kami di kota ini. Museum yang tidak terlalu besar ini merekan jejak sejarah kota belitung dan yang tak kalah penting adalah sejarah penambangan timahnya. berbagai macam bentuk penambangan mulai tradisional sampai berteknologi tinggi dipamerkan di museum ini. Jenis batuan dan timahnya pun tak luput dari perhatian para arkelog pengelola museum ini. sedikit disayangkan museum ini kurang terawat. Debu dimana-mana dan bangunannya terlalu kecil. Dibelakang museum ini terdapat beberapa permainan yang lebih cocok untuk anak-anak menurut saiya.

Pelabuhan
Inilah pusat lalu lintas Bangka-Belitung. Dari sini pun banyak kapal-kapal  kecil yang melayani perjalanan menuju pulau-pulau sekitar  belitung. Bagi anda yang tidak suka kesemrautan maka not recommended ke sini. Jika mencari spot foto terutama bertema human activities tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan.
Gerbang Pelabuhan dan bangunan tuanya
satu sisi pelabuhan tanjung pandan
Rumah adat Belitung
Di kota tanjung pandan kita bisa menikmati dan melihat rumah adat kebanggaan bangsa Belitung. Kebetulan pas kedatangan kami ke rumah adat ini sedang ada ritual keagaaman orang-orang Budha dari  Laos yang konon katanya punya keterkaitan masa lalu yang kuat dengan penduduk belitung yang sebagian besar memang dihuni oleh penduduk Tionhoa.  Lumayan dapat tontonan gratisa karena kebetulan mereka tidak keberatan untuk disaksikan malah boleh di foto.
Rumah Adat Belitung

Ritual Keagamaan di rumah adat belitung
salah satu saprodi pertanian masyarakt belitung


Pusat Oleh-oleh Belitung
Nah ini yang tak boleh ketinggalan jika berkunjung ke tempat wisata, itupun kalo punya budget lebih. Karena dengan membeli oleh-oleh di daerah wisata itu artinya kita membantu membagkitkan roda ekonomi masyarakat setempat. di Kota Tanjung Pandan terdapat pusat UMKM Belitung. Berbagai macam makanan yang tentu terbuat dari ikan tersaji ditempat ini.. Souvenir dan cindera mata pun tersedia termasuk kaos.

Pusat Oleh-oleh di tanjung pandan
cinderamata

WELL.BELITUNG LAYAK DAN HARUS MASUK DALAM SALAH SATU LIST DESTINASI WISATA ANDA....Heee..He....

15.7.11

Menapaki keindahan belitung 4: Menyusuri Cerita Laskar Pelangi di Belitung Timur


Setelah puas mengekplore keindahan pantai belitung di pesisir barat, perjalanan di hari ketiga di Belitung kami lanjutkan menuju belitung timur tepatnya ke daerah manggar.  Bagi anda yang pernah menonton film laskar pelangi tentu tak asing dengan nama daerah yang satu ini. Ya inilah kota kecil dimana Andrea Hirata dilahirkan dan dibesarkan. Jujur alam  belitung timur ini tak seindah belitung di pesisir barat. Tapi memangkedatangan kami ke belitung timur tidak untuk mengekplore alamnya tapi ingin menyusuri jejak film laskar pelangi. Sebagian besar diantara kami memang ke Belitung banyak terinspirasi oleh film ini.

Dari Tanjung Pandan, Manggar kami tempuh selama lebih kurang 3 jam. Tempat pertama yang kami kunjungan tentu adalah sekolah dasar Muhammadiayah gantong. Karena inilah latar  fillm laskar Pelangi. Ternyata di Manggar ada dua sekolah SD ini. Versi asli dan versi  duplikasi yang memang di buat khusus oleh Pemda setempat untuk kunjungan wisata. Karena penasaran kami pun mengunjungi ke dua versi ini. sempat masuk ke dalam kelas dan pura-pura belajar di sini..he.he.. tentu berharap  semangat -semangat anak-anak laskar pelangi menular pada kami. 
New Laskar Pelangi
Original Version
Duplikat SD Muhammadiyah
Perjalanan dilanjutkan menuju ke pertokoan lama yang kondisinya masih asli. sayang pada hari itu toko ini tutup. ya sudah lah  kami pun berfoto saja di sana. Yah inilah toko si alin. di dalam film laskar pelangi.  di Toko inilah mahar membeli kapur tulis  awal dari kisah cintanya pada alin. Cinta memang aneh ya, jatuh cinta bisa hanya dari tangan dan jemari.he..he..
Toko Bapak e Alin
SMU nasional Manggar adalah tempat selanjutnya yang kami pijaki. SMU ini memang tidak ada dalam film laskar pelangi, tapi sekolah ini muncul dalam film sang pemimpi. Sekolahnya masih di rawat untuh dan memang masih di pakai untuk kegiatan belajar mengajar.  Setelah puas jingkrak foto-foto, kami kemudian di ajak ke pabrik timah tempat dimana sang ayah bekerja..he..he...Bangunannya sudah sangat tua..Konon masih di pakai untuk produksi tapi tidak semuanya. karena sudah banyak yang rusak dan tak berfungsi.
Pabrik Timah
Sebelum kembali ke Tanjung Pandang kami sempat mampir ke rumah bu Muslimah yang asli. berharap bisa bertemu dan bercerita dengan si ibuk. Tapi sayang pada hari itu kami tidak bisa menemui beliau karena beliau sedang ke Jakarta. Dan kami hanya bertemu dengan anaknya. oh ya di manggar juga ada  dibangung pasar rakyat laskar pelangi. Tempat ini dulu di bangun sebagai tempat penyelenggaraan  festival laskar pelangi pada tahun 2010.
Tempat merenung seperti di cover novel Laskar Pelangi
Pasar Rakyat Laskar Pelangi
Senang juga berwisata menelusuri jejak para laskar pelangi ini...dan setiap kami pun mencoba merangkai mimpi-mimpi kami di sini. kembali menyusun semangat di sini. he..he...Disamping itu kami pun masih sempat singgah di beberapa tempat yang memang tak ada hubungannya dengan film laskar pelangi. Pantai Burung Mandi ini adalah salah satu pantaii di Belitung Timur. Di Pantai ini banyak burung.  Tapi sayang kami tidak menemuinya karena kami datang siang hari bolong yang terik. Pantai ini memang tak seindah pantai di pesisir barat Belitung tapi lumayan lah. sekedar melepas lelah karena perjalanan panjang  Tanjung pandan-Manggar. Kami pun sempat singgah di sebuah klenteng di Belitung Timur. Usianya klenteng ini sudah sangat tua. dan pemerintahan belitung timur sudah memasukkan klenteng ini dalam salah destinasi wisatanya.
Di klenteng
Pantai Burung Mandi
Perjalanan luar biasa 
benar-benar mendapatkan semangat yang luar biasa..
Kembali merangkai mimpi di negeri Laskar Pelangi
Manggar-Februari 2011

Menapi Keindahan Belitung 3: Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas  wajib anda kunjungi jika ke Belitung. Pulau kecil ini menyimpan banyak keindahan tak hanya alamnya tapi  juga menyimpang sejarah dunia pernavigasian indonesia. Dari pulau kecil ini kita bisa menikmati sunset dan sunrise yang so pasti dilihat dari dua sisi yang berbeda. Hamparan Batuan dan pasirnya yang ciamik pun tak kalah dengan pulau-pulau lain. Dan yang membuat sempurna, di pulau ini terdapat sebuah mercusuar 18 lantai yang usianya ratusan tahun. Dari ketinggian 18 lantai ini kita bisa memangdang lautan lepas nan biru yang dihiasi oleh batuan-batuan granit yang memang menjadi ciri khas pantai-pantai di belitung. Beruntung saat kedatang di Pulau ini kami bertemu dengan beberapa anak  laskar pelangi lagi .Mereka memang sedang mengadakan acara di sana.
kembali bertemu para laskar pelangi
Pulau lengkuas dari kejauhan
Di sinilah kami meghabiskan malam. karena disini memang tidak ada penginapan maka kami memang memilih untuk menenda di pulau ini. di pulau ini ada beberapa orang petugas penjaga mercusuar. Banyak hal yang dapat dilakukan di pulau ini. Memancing so pasti. Beruntung bapak  kapal kami baik sekali. Dengan senang hati bersama anaknya beliau kembali melaut mencarikan ikan untuk kami..dan  tentu kembali dengan membawa ikan yang lumayan banyak. akhirnya kami pun bakar-bakar ikan di sore itu. Setelah perut kenyang, ngantuk pun mendera. Luar biasa nikmaknya ketika tidur dipinggir pantai dengan angin sepoi-sepoi.hm...hm....

Tentang mercusuar
share traveler in lengkuas island
Inilah mahkota dari pulau lengkuas. Bangunan ini konon katanya di bangun pada tahun 1882. Saya tidak mendapatkan dengan pasti berapa ketinggian mercusuar ini. setiap pengunjung yang datang bisa dengan bebas naik menuju puncak mercusuar.Memang agak berat menapaki anak tangga demi anak tangga tapi percayalah kalori dan energi yang dikeluarkan terbayarkan dengan indahnya memandang dari ketinggian 18 lantai. Mata anda bisa menikmati keindahan dari segala penjuru. Angin nan sepoipun menghembuskan kekuatannya pada tubuh. Luar biasa...kadang terlalu susah untuk menceritakan bagaimana keindahan alam hanya dengan kata-kata. 
mercusuar 18 lantai
dari puncak tertinggi mercusuar

batuan dari ketinggina 18 lantai
Tak jauh dari pulau lengkuas ini ada pulau kecil yang bisa diseberangi dari pulau lengkuas. pada pagi hari kedalamannya sekitar sedada saya. tapi kalo sore karena sudah pasang airnya akan tinggi dan susah untuk di seberangi. dari pulau ini kita bisa menyaksikan pulau lengkuas dan mercusuarnya. sensasi keindahan yang berbeda yang harus dinikmati.
pulau di seberang lengkuas
Pagi hari disini, banyak sekali para keturunan tionghoa yang beribadah. mereka berdoa dan menghadap ke arah matahari. yaps suku tioghoa adalah salah satu suku besar  di belitung. Sunrisenya pun tak kalah indah dengan sunsetnya...
sunrise di belitung