12.10.13

Wilkommen in Dresden

Ketika roda pacu berpisah dengan landansan maka episode baru kehidupan dimulai...
Yap episode baru saya sudah dimulai at least for next two years.  Setelah menempuh perjalanan almost 16 jam  flight dan 8 jam transit, sampai juga saya di Dresden, kota di Bagian Timur German ini. Emirat mengantarkan saya sampai ke kota Dussedolf setelah tentunya transit dulu di Dubai International airport. Selanjutnya Dussedolf- Dresden saya tempuh selama 45 menit dengan penerbangan lokal German, Air Berlin.

Saya memutuskan untuk naik Emirat karena beberapa pertimbangan. pertimbangan utama sebenarnya adalah bagasinya. jika lufthasa dan KLM cuma menyediakan 23 kg untuk bagasi dan 7 kg untuk kabin, maka emirat dan beberapa penerbangan timur tengah lainnya seperti Qatar dan Ejtihad  menyediakan 30 kg bagasi. Maklum karena mau pergi jauh dan tidak sebentar maka jumlah Kg bagasi ini menjadi sangat penting. Disamping karena dari dulu, memang pengen naik emirat karena tulisannya biasanya tertulis di jersey competisi liga utama di Eropa..hehehe*lol. 

Sebelum terbang ke Eropa saya sempatkan dulu pulang ke kampung halaman, bertemu dengan keluarga dan pamitan.Alhamdulilah sempat syukuran kecil-kecilan di rumah seraya menghaturkan doa untuk keselamatan dan kelancaran study saya selama di Eropa.  Dalam persiapan keberangkatan, waktu memang terasa berjalan begitu cepat. Pusing dan bahkan sempat nangis dengan ribetnya urusan birokrasi dan dokumen di negara kita tercinta ini, maklumlah akan melanjutkan kuliah di empat negara. Walaupun mereka sudah dibawah naungan Uni Eropa tetap saja tiap negara punya aturan sendiri-sendiri untuk izin permitnya. Belum lagi urusan beberapa pekerjaan di kantor dan Urusan rumah saya di Bogor. Alhamdulilahnya ada teman yang mau menempati rumah saya.Jadi urusan rumah beres hehehe.

Dan pada harinya saya harus berangkat, perasaan benar-benar campur aduk. Terlalu sulit dungkapkan, terlalu sulit untuk didefenisikan. Alhamdulilah kantor menyediakan mobil untuk mengantar saya ke soeta. Dan hari itu saya hanya ditemani sepupu yang kebetulan juga kuliah di IPB dan septi, sinyonya   yang menempati rumah saya. 

Ngek Ngok...kaget juga pas timbang bagasi. Ternyata bagasi saya hampir 35 kg..hehehe.  Dan pihak Emirat tidak mengizinkan kita untuk membawa bagasi lebih. bahkan kelebihan bagasi pun tidak mau dibayar. like it or not, yah terpaksa dibongkar deh tuh koper di bandara. Mengurangi hal-hal dirasa kurang penting. Setelah berfikir agak lama dan bongkar sana-sini akhirnya ketemu juga deh angka 30. Untungnya Ayu dan Septi teman saya belum pulang, sehingga kelebihan bagasi bisa dibawa pulang. 

Perjalanan Panjang pun dimulai,
Hari itu pesawat Emirat terlihat sangat padat sekali...hehehe kalo perjalanan panjang begini berharap kursi disebelah saya kosong jadi bisa agak berleha-leha. Tapi itu ternyata mimpi saudara-saudara. untungnya saya selalu dapat tempat duduk di row. karena kebiasan saya yang memang nga bisa jauh-jauh dari toilet. Disebelah saya ada dua orang wanita bule, yang pada akhirnya saya simpulkan bahwa mereka adalah pasangan sesama jenis. Sempat-sempatnya mereka ciuman hot di atas pesawat. sempat jijik juga melihatnya. Setelah 7 jam lebih pesat pun mendarat dengan sempurna di Dubai International Airport, setelah dalam perjalanannya pesat yang kami tumpangi menghadapi kendala cuaca yang cukup extreme. Baru kali ini naik pesawat yang pramugarinya berlari-lari dan diperintah untuk menghentikan seluruh aktivitasnya. Goncangan pesawat malam itu memang luar biasa dan itu berlangsung cukup lama.  Maklumlah emirat memilih jalur pesisir barat sumatera untuk  penerbangannya. dan setau saya daerah tersebut memang daerah dengan pembentukan awan yang sangat aktif. 

Transit untuk beberapa jam di Dubai International Airport. Wow... Bandara ini memang luar biasa. Jauh lebih besar dari Schipol menurut saya dan tentu dengan segala kemegahanya. saya harus transit beberapa jam di sini. Sebenarnya pengen tidur, merebahkan punggung seperti yang dilakukan banyak orang.  Dengan cueknya mereka bergelatakkan di ruang tunggu bandara. Tapi fasilitas yang disediakan memang cukup nyaman untuk itu. Cuma karena takut  kebabablasan, saya memutuskan untuk tidak tidur. To kill the time, Alhamdulilah ada wifi gratis jadi bisa menghubungi sanak keluarga dulu dan tentu up-date status dulu ciiiiiin.....xixixi...

Perjalanan kembali dilanjutkan untuk lebih kurang 7 jam kedepan. Alhamdulilah perjalanan Dubai_Dussedolf  cuaca sangat cerah dan pesat terbang dengan begitu tenang dan damai. :D.  Ternyata dan ternyata salah satu pramugari kali ini ada yang keturunan Indonesia. tepatnya ibunya orang Indonesia. Karena face saya yang mungkin sudah bisa ditebak dari mana. Makanya sang pramugari langsung bertanya. Setelah tau pasti saya dari Indonesia, sang pramugari tersebut pun menggunakan bahasa Indonesianya yang cukup lancar tapi masih dengan dialeg yang agak aneh hehehe.. Disela-sela pekerjaanya, saya dan sang pramugari sempat bercerita dan sebelum turun saya pun dibekali makanan yang buaaaanyaaak rek. Katanya buat bekal di Dussedolf. Maklum di Dussedolf saya akan transit untuk beberapa jam juga.  " ah...begitu banyak pertolongan, dan yakin Allah bersama saya" guman saya dalam hati. 

Untuk perjalanan selanjutanya Dussedolf-Dresden ditempuh dengan  pesat kecil Air Berlin.  Perjalanan ditempuh hampir 45 menit. Perjalanan Dussedol-Dresden ini saya benar-benar tepar. Jadi selama perjalanan saya tertidur dengan sempurna. Karena cuapek rek dan juga jam biologisnya harusnya sudah tidur karena itu jam 5 sore waktu German yang artinya jam 10 malam WIB. Alhamdulilah  mendarat selamat di Dresden. Hari itu mba astria yang juga EM awardee menjempuku ke Bandara. dan aku juga menginap dulu di asramanya mba astria karena datang pas minggu malam, maka belum bisa masuk asramaku.

Wilkommen in Dresden.. kota paling besar di German Timur..
Over all, aku suka kota ini. Tidak terlalu rame dan cocoklah untuk belajar. Barang-barang pun secara umum lebih murah dibandingkan dengan German Barat sana.  Dan enaknya di German,  dengan student card, transportasi gratis. Jadi lumayan bisa ngirit dan nabung hehhehe...
Tapi bahasa akhirnya menjadi kendala. karena memang tak pernah punya bayangan akan sekolah ke German, maka memang tak satu kosa kata pun yang saya mengerti..Awalnya beberapa bulan sebelum berangkat pengen les german dulu. Tapi nga kesampaian. Maklum ini german timur maka jangan heran jarang-jarang orang di sini menggunakan bahasa Inggris. akhirnya belanja dan aktivitas sehari-hari lainya dijalani dengan  bahasa Tarzan.  Akhirnya mau nga mau ambil kursus bahasa german di sini. Perlahan, satu per satu bisa dimengerti.hehehe... memang semuanya perlu waktu dan proses, so enjoy it.

Semoga enam bulan di sini bisa betah dan semuanya berjalan lancar ...amin 
"Oktober,2013. Lembah Peradaban ELBE"

31.7.13

Desau angin Maatstrich

Desau angin Maatstrich adalah satu dari sekian banyak novel  yang menginspirasi saya untuk menginjakkan kaki ke tanah Belanda.  Yaps Novel ini saya baca  pertama kali beberapa tahun yang lalu,  saat baru menyelesaikan pendidikan  sarjana saya.  Intinya novel ini mengajarkan bahwa dengan melihat dunia luar dengan luas kita akan menemukan banya hal yang lebih penting untuk difikirkan dari pada sekedar urusan cinta dan hati yang taka da ujung pangkal nya…ngenes memang :p.  Ceritanya trip patah hati..:( 


Maka dari itu ketika mendapatkan kesempatan untuk Stay di Holland maka Maatstrich  menjadi kota yang wajib  saya kunjungi.  Maatsrich adalah  Kota diujung  selatan Belanda yang berbatasan langsung dengan German dan Belgia. Bahkan di daearah ini terdapat tugu drailenderec, yang merupakan tugu pertemuan garis batas tiga negara tersebut ( akan diceritakan lengkap pada episode berikutnya). Maka tak heran kota ini masih harus ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Delft.  Mengingat transportasi adalah hal yang sangat mahal di Belanda maka  untuk menempuh kota-kota yang jauh kami berusaha menggunakan dackkart. Dakcard adalah semacam tiket promo seharga 17 euro yang bisa digunakan seharian kemanapun di Belanda ini.  Sayang tiket ini hanya dijual pada waktu-waktu tertentu dan biasanya langsung habis. He..he.. Dan beruntung kami mendapatkan banyak dakcard selama stay di belanda berkat bantuan salah serorang teman yang sedang menempuh pendidikan Phd nya di Utcrect University. 
Secara umum Maatstrich adalah kota yang sepi seperti waganingen dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Belanda. Tapi sebenarnya suasana pedesaan Belanda ini lah yang pengen saiya nikmati. Denyut kehidupan pedesaan modern yang sepi, teratur dan cukup mendamaikan. Sepanjang perjalanan kami disugugi pemandangan yang menakjubkan. Lahan-lahan pertanian tertata dengan baik. Padang gembala yang tertata dengan apik dan  sapi-sapi berwarna hitam putih  yang gemuk dan subur. Serta dilengkapi dengan kastil-kastil yang unik, yang menjadi penciri, It is Holland.
Maatsricht  juga merupakan salah satu tujuan belajar mahasiswa asing karena di kota ini terdapat salah satu universitas terbaik juga yiatu Maatstrich University.  Namun sedikit disayangkan di kota ini penduduknya kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris, terutama generasi tuanya :p
Dan setiap tahun di kota ini dilaksanakan “ The Maastrich Festival” . ini merukan agenda budaya yang  cukup dinanti. Berbagai atraksi dan pergelaran budaya di tampilkan. Tentu dengan nuansa orange nya.  Biasanya pada ajang ini Mahasiswa dari berbagai penjuru Belanda yang dating dari berbagai belahan dunia dating meramaikan. Sangat disayakan saya belum sempat menikmati Festival ini.. Wishing someday.he..he…


11.7.13

Hello Netherland


kinderdijk
 Perjuangan panjang dan berliku, akhirnya membuahkan hasilnya. Tak Tanggung-tanggung 5 tahun berjuang demi sebuah mimpi.. Sebuah keyakinan bahwa Allah  akan bersama Kegigihan hambanya, terus menyemangati. Dan dalam perjalanannya begitu banyak pelajaran yang patut direnungi.  Bahkan ketika mimpi-mimpi itu di tangan,  harus lepas begitu saja. Pelajaran berharga bahwa ketika mimpi itu sudah ditangan masih dibutuhkan usaha dan kekuatan untuk menggemgamnya. huh..... tarik napas dalam-dalam...he..he...


Dan kita akan menuai apa yang kita tanam, ternyata benar adanya. Semakin panjang perjuangan kita, insyallah akan semakin besar hasil yang kita peroleh.  Dan akhirnya kaki kecil ini menginjakk  juga di salah satu negeri impian..Netherland.   “ aku menyapa mu, hi negeri tulip dan kincir angin”. Entahlah sejak duduk di bangku sekolah dasar, Belanda begitu menarik perhatian ku.  Mungkin karena begitu banyak cerita-ceriata  tetang Belanda dari guru-guru sejarah di sekolahan.  Tentang Penjajahan tentunya.   Yaps mimpiku mekar bersama tulip-tulip dan  akan selalu kokoh seiring putaran dan percikan air di kincir2 angin raksasa itu.



Alhamdulilah dapat kesempatan  untuk belajar  walau cuma sebentar di negeri orange ini tepatnya  di Unesco IHE Institute For Water Education, salah satu universitas yang terletak di kota delft.  BTW, ini kampusnya Pangeran Willeam juga lho...he..he.. bangga dong satu almamater dengan orang nomor satu Belanda Saat ini :p.  Dan konon katanya Delft adalah kota Kanal  yang cukup terkenal setelah Venesia tentunya. Yaps kota kecil yang terletak antara Rotterdam dan Den Haag ini memang cukup untuk nyaman ditinggalin.   Apalagi selama stay di Belanda, Saya tinggal di sebuah Apartemen di pinggiran kanal. romantis bo...pokoknya banyak ide dan imajinasi yang mengalir di sini.


salah satu kanal kota Delft

Kadang dalam perjalanan dari apartemen ke kampus  ketika melintasi kanal-kanal yang indah ini, saya  berguman sendiri, luar biasa memang Belanda dalam mendesain kota-kotanya. Makanya tak heran Belanda memang tujuan banyak orang di dunia untuk belajar Water Management. Termasuk saya yang juga belajar  yang nga jauh-jauh dari air dan iklim he..he.... 



Lagi-lagi kesempatan singkat ini tentu tak hanya saya gunakan untuk belajar. Ada misi utama yang lebih utama yaitu Jalan-Jalan he..he... Full time traveler, Part Time Student :P. Apalagi kedatangan saya ke Belanda bertepatan dengan  musim Spring, Udara cukup bersahabat, meskipun masih merasa kedinginan. dan tulip-tulip pun bermekaran indah.  Dan yang lebih penting adalah menemukan travel buddy yang heboh dan asyik..he..he...
Bersama tulip :D

9.7.13

BUSAN


Sebelas tahun yang lalu, tepatnya di kelas tiga SMU, saya hampir menginjakkan kaki di kota ini.  Yaps pada saat itu Olimpiade matematika International diselanggarakan di kota paling selatan Korea Selatan ini. Sayang pada kompetisi olimpiade nasional saya gagal masuk lima besar, akhirnya mimpi menjadi wakil Indonesia diajang bergengsi itu pupus sudah dan artinya mimpi menginjakkan kaki ke kota ini pun pupus juga.

Kota Busan di lihat dari  Busan Tower
Tapi nasib kita memang tak pernah tau, akhirnya saya terdampar juga di kota terbesar nomor dua di korea ini. Kota yang masih harus ditempuh dengan 45 menit penerbangan dari Seoul atau sekitar  5-6 jam  menggunakan kereta.  Kota ini cukup teratur dan bersih, sistem transportasinya juga sudah maju. Dan menurut pengalaman saya, transportasi di korea ini malah lebih baik dibandingkan beberapa negara Eropa Barat yang sempat saya kunjungi.

 Kota busan juga merupakan kota pelabuhan  terbesar di korea karena memang kota ini terletak di semenanjung korea yang berbatasan langsung dengan laut.Terdapat beberapa pantai yang cukup bagus menurut saya. salah satunya adalah Handeu. Kebetulan hotel saya menginap selama belajar di Busan tepat dipinggir pantai ini. Bahkan dari kamar hotel, saya bisa menikmati keindahan pantai ini.  Konon kata teman saya yang penggemar film korea, pantai ini cukup terkenal karena ada film yang mengambil latar pantai ini. Film yang menceritakan tragedi tsunami.   Saya sih bukan penggemar film korea, jadi tidak tau banyak tentang film-film ini he..he... harap maklum :p . 


Handeu Beach
Senja di Handeu
Bercerita tentang film, kota ini memang sangat dikenal. karena setiap tahun di kota ini, diselenggarakan  festival film busan.  Yang lagi-lagi, konon katanya salah satu ajang kompetesi film bergengsi di dunia. Sayang jadwal festivalnya tidak bersesuaian dengan jadwal saya selama  stay di kota ini. 

Kota Busan  konon katanya juga merupakan kota destinasi wisata terbaik di Korea. disamping menyajikan kehidupan modernitas, di kota ini  kita pun masih bisa menyaksikan budaya korea yang unik. Kita masih bisa menemukan traditional market even di kota ini menjamur pusat-pusat perdagangan modern.  Bahkan di kota ini terdapat pusat perbelanjaan yang konon katanya nomor lima terbesar di dunia. yaitu Shinsegae.  walau lagi sale besar-besaran tetep saiya tak  punya daya dan upaya untuk  beli barang-barang di sini.. Bagi anda Pengemar makanan, kota ini pun menyajikan kulineran yang tak boleh ditinggalkan. Bagi anda yang muslim memang sedikit harus berhati-hati. dan saiya pun baru tahu ternyata makanan Kimchi, salah satu makanan korea yang terkenal itu, ternyata  disetiap restoran dapat dinikmati secara cuma-cuma.

Bahasa memang akhirnya menjadi masalah di sini. Karena sangat jarang penduduk Busan yang bisa berbahasa Inggris.Kecuali dari kalangan muda. Tapi satu hal yang patut dibanggakan di kota ini adalah di setiap penjuru kota akses wifi (hotspot) tersedia  bebas  bahkan di bus dan di kereta. Yaps Busan Wajib menjadi desnitasi wisata anda jika ingin menginjakkan kaki di negeri gingseng ini
Di depan Gedung Busan Film Festival

27.11.12

The Spirit From Korea

Huaha, my blog, Finally I come back. Rindu sangat itu pasti, almost 6 bulan tidak bercerita dan berbagi dengan mu. Sedikit agak bingung dengan penampilanmu yang  berubah..
Rutinitas dan segala kesibukan memang harus di akui membuat semangat menulisku  turun drastis  bahkan mungkin sampai titik nadirnya (mengenaskan memang:p). Namun bila diselidiki lebih dalam, alasan mendasar sebenarnya adalah kemalasan. Andaikan kemalasan adalah kertas pasti sudah kuremuk-kuremukan dan kubuang jauh-jauh dari hidup ku. Dan malam ini, ditengah dingin yang benar-benar mencekam (almost 3 Decree Celcius),  mencoba melawan seagala kemalasan di hati, menyapa mu blog ku, merangkai kembali simponi kata yang  sempat terbiarkan begitu saja. walau sebenarnya, nga tau juga mau menulis dari mana.

Banyak tawa, tangis, kecewa, dan keajaiban yang terjadi paling tidak selama 6 bulan belakangan ini. Jalan hidup kita memang tidak akan pernah kita tau.  Banyak harapan dan rencana hidupku berlalu begitu saja. Berbagai kegagalan sempat menumpahkan air mata kecewa.  Kenyataan, memang harus diterima dengan hati yang lapang. "mungkin ini belum yang terbaik", menjadi kata pamungkas untuk membasuh segala luka di hati. Tapi Allah memang maha Adil. Ditengah begitu banyak kekecewaan ternyata ada begitu banyak gelak dan tawa yang menyertai. Banyak ke ajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi. 

Kegagalan untuk menunaikan setengah dien ku di tahun ini, adalah cerita pertama yang sangat menyayat hati. tangis  akhirnya mengekpresikan  rasa  ketika mulut tak mampu lagi mengungkapkannya. belajar banyak dari semua peristiwa yang dijalani ini. Yah dalam pangdangan Allah, mungkin aku memang belum layak dan pantas untuk didampingi oleh seorang pangeran berkuda putih. aku masih punya banyak power dan kekuatan untuk menjalani hidupku sendiri. hiks..hiks..

kegagalan untuk segera memulai masterku adalah bagian kecewa berikutnya. kadang memang apa yang sudah di tangan, belum tentu milik kita, kita masih butuh usaha untuk  menggemgannya. . Diterima di salah satu program beasiswa bergensi di negara impian ternyata belum cukup  untuk memulai impianku. Sangat menyakitkan memang, gagal berangkat setelah mengikuti pre-departure. tapi sekali lagi aku yakin ada hikmah yang tak terkira dibalik semua itu.

Dan saat ini, berada di Busan,  sebuah kota di ujung selatan negri gingseng adalah bagian cerita yang tak pernah terkira sebelumnya.  Alhamdulilah mendapatkan kesempatan training dan semua akomodasi ditanggung oleh penyelenggara yaitu APEC Climate Center (APCC). inilah drama kehidupan yang memang kita tak pernah kukira. Awalnya tak menyangka akan lulus pada program ini karena memang mengapply last minute dan informasinya pun ku dapat dari salah satu teman via facebook. Untunglah persyaratannya tidak terlalu susah, hanya mengisi formulir pendaftaran dan  surat rekomendasi. 

Berada di busan ini, kembali menegakkan kepalaku. Masih banyak harapan-harapan besar kehidupan terbentang ke depan.  Stop thinking about the past and don't worry to much about what's going to happen in the future. Your presence is a present, so live for today, and appreciate everyone and everything you have. Stop thinking about what you don't have, what you wish you had, and who walked out of your life. Think about what you have, who you have in your life and how fortunate you are. Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else.

I have found my new life..
Spirit From Busan, KOrea 




7.6.12

MERBABU; THE HEAVEN OF CLOUD (JULI 2011)


Merbabu Akhirnya tercatat sebagai gunung terakhir yang gue  daki di tahun 2011 dan sampai saat ini pun masih tercatat sebagai yang terakhir. Yaps sejak juli 2011 sampai sekarang  belum ada gunung  yang tertaklukkan karena berbagai alasan dan kesibukan. Jangan ditanya betapa rindunya gue pada maha dahsyatnya udara puncak gunung. Rindu dan sangat merindu.  Mudah-mudahan masih diberikan kesempatan tahun ini, mumpung sudah mulai musim kemarau. Masih banyak list gunung yang menanti; tambora, kerinci, argopuro, papandayan dan gunung-gunung lainnya.

Setiap perjalanan selalu melahirkan cerita berbeda. Merbabu sungguh meracuni hati dan fikiran gue dan gunung ini akhirnya ingin gue taklukkan  untuk kedua kalinya seperti  jatuh hatinya gue pada  Rinjani dan Semeru.  Merbabu, tak ada kata yang sanggup mewakli kemahadahsyatan gunung ini. Dahsyat rutenya, Dahsyat keindahannya dan tentu dahsyat orang-orannya. Seperti biasa, dalam perjalanan ini  gue kembali bergabung dnegan anak-anak share traveller. Tragedi dimana kami harus ketinggalan kereta karena terlalu lambret saat turun adalah cerita hitam yang membuat cerita ini takkan terlupakan.

Gunung Mati yang masuk dalam wilayah  Jawa tengah dan Jogjakarta ini ternyata memiliki 7 puncak dan bisa diakses dari banyak tempat. Karena keterbatasan waktu tidak semua puncak bisa kami jambangi. Tapi Itu pun sudah sangat lebih dari cukup.  Kali ini kami mulai perjalanan dari pintu masuk Koppeng-Salatiga Jawa Tengah dan kami memilih jalur pulang melalui Selo, BoyoLali dan  perjalanan kali ini kami ditemani seorang guide yang ternyata adalah salah satu mahasiswa UGM. Untuk ke Merbabu memang sangat dibutuhkan guide karena jalurnya yang banyak dan sangat beribet. It means resiko kesasar dan tersesat sangat tinggi.

Seperti biasa, sebelum menuju pos pendakian kami mempersiapkan semua bekal dan kebutuhan serta re-chek and re-packing. Kami mulai langkah perjalanan ini dengan langkah-langkah kecil, terengah dan kadang berhenti sejenak sekedar menghirup setetes air,  menarik  napas pelan  atau   kadang menjepretkan kamera mengabadikan jejak perjalanan. Kadang terdengar celoteh dan teriakan. yah itu lah melodi ketika menikmati alam ini.
Sunset dari tanjakan tajam menuju puncak menara
Menjelang Magrib kami baru akan menapaki puncak menara. salah satu puncak di gunung merbabbu. dan rencananya di puncak inilah kami akan menghabiskan malam.  Jalan menuju puncak menara ini tergolong sangat berat karena tanjakannya sangat tajam. Ketika berjuangan dengan napas tersenggal dan dengkul yang rasanya sudah tak bersahabat  menapi tanjakan-tanjakan itu , seketika itu  gue putar arah kepala untuk mengamati apa yang terjadi disekitar... Dan apa yang gue saksikan adalah pemandangan luar biasa. Gumpalan Awan dan percikan lembayung senja mempesona dan dari sisi yang berbeda kami pun bisa menyaksikan puncak gunung slamet, sindoro dan sumbing. Inilah enegergi yang kembali menyemangati perjalanan ini. Keindahan landscape yang  akan selalu dirindu. 
Awan, langit, dan lembayung senja.
Hari kedua perjalanan kami mulai dari puncak menara. dari puncak ini kami harus menempuh jalan tipis kiri kanan jurang. Dan tapi ini lah sensasi dari perjalanan ini.  Di sisi kiri dan kanan ini kami bisa menyaksikan lautan awan yang sangat indah. yaps the heaven of cloud. dan tak tangung-tanggung awan ini menemani  perjalanan kami di hari kedua ini. 
firman and cloud
Lautan awan yang selalu menemani

Puncak selanjutnya yang kami jambangi adalah puncak Syarif.  dari puncak ini kita bisa menyaksikan gunung merapi  dan awan-awannya yang juga tak kalah mempesona.  Disini  kami berfoto bersama menggunakan kostum lebaran. Maklum perjalanan ini seminggu menjelang Ramadhan. Yang cowok mengenakan baju koko, dan yang perempuan cukup menggunakan selendang pasmina.  Tak hanya berfoto, disini kami pun mengabadikan sebuah video ucapan selamat memasuki bulan Ramadhan.
Liatlah Mereka beraksi


Menjelang Sore, setelah bergulat dengan panas, debu dan jalur yang benar-benar tidak bersahabat kami berhasil menapaki kaki di puncak keteng songo. Yaps di puncak ini terdapat batu  (keteng) yang jumlahnya 9 buah. Tapi tunggu dulu, tidak semua orang bisa menghitung keteng ini ada 9. Masing-masing kami pun menghitung dengan hasil yang berbeda. Konon katanya bagi siapa yang menghitung  keteng ini ada 9 maka yang bersangkutan berpotensi untuk diberi kemampuan magic.
Menuju puncak Keteng Songo
Setelah menapaki puncak Keteng Songo ini kami memutuskan untuk turun melewati perkampungan Selo-Boyolali. Dalam perjalanan menuju Selo kami pun masih disuguhkan oleh pemandangan indah lainnya yaitu padang savana. Sejauh mata memandang hijau dan kadang kilatan keemasan, perpaduan antara mentara dan hijaunya rerumputan  sungguh menyejukkan mata. 
Dan perjalanan ini  harus berakhir dengan sedikit kecewa. Yaps kami ketinggalan kereta, padahal sudah beli tiketnya. Tapi bersama anak-anak share traveller, itu tak menjadi masalah. Bersama mereka dalam suka dan duka tetepa aja ketawa...yaps hidup memang ternyata harus dinikmati. 
Tetap bersama kalian dunia indah sahabatku. 
Salam alam, salam ransel dan salam lestari.....


Padang Savana menuju Selo

7.4.12

TORAJA; HIDUP UNTUK KEMATIAN

-->
Terinspirasi menulis cerita ini setelah melihat liputan tentang Toraja di salah tv swasta. Sempat gagal beberapa kali ,akhirnya bulan juni tahun kemaren (2011)  punya kesempatan untuk ber-solo trip menuju segumpal tanah unik yang berjarak sekitar 300 KM dari  kota makasar.  Sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampui itulah kalimat yang tepat menggambarkan trip ini. Yaps perjalanan ini aku lakukan setelah menyelesaikan tugas survey 10 hari di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Rombongan survey yang sebenarnya berjumlah 5 orang memutuskan untuk segera pulang ke Bogor, tapi tidak dengan ku. Dengan tekad bulat dan membaja aku extend dua hari menuju toraja termasuk waktu untuk perjalanan pergi dan pulang menuju makasar. Waktu yang sangat-sangat kurang  sebenarnya, bahkan sebagian temanku menganggapnya sebagai  pekerjaan konyol. :D
Karena hanya 2 hari, aku memutuskan menyewa mobil sendiri menuju Toraja. Menggunakan kendaraan umum tidak memungkin. Dan beruntung, driver, pak Andi,  yang kami gunakan untuk survey sangat mengerti tentang toraja. Tanpa pikir panjang akhirnya aku putuskan pak andi jadi teman dan guide perjalananku selain alasan keamanan tentunya. Karena track recordnya sudah teruji.

Perjalanan di mulai dari makasar. Dalam waktu 8 jam, kami sudah bisa berada di kota rantepao sebagai ibu kota kabupaten toraja utara. Salah satu keuntungan menyewa mobil sendiri adalah bisa mengekplore kota-kota yang  dilewati seperti pare-pare dan engrekang. Dua kota ini cukup berkesan juga buat ku. Dari engrekang perjalanan yang dilalui semakin menanjak dan berkelok-kelok. sampailah di salah satu panorama yang sayang dilewatkan. Orang kebanyakan menyebutnya bukit nona. Konon katanya bukit ini mirip kelamin perempuan. Tapi saya tidak bisa menangkapnya..lemot kali ya. Nah sepanjang jalanan bukit nona ini,  banyak warung-warung yang patut dan harus disinggahi sekedar menyeruput kopi hangat...slurrrrrp nikmatnya.
Bukit nona, Engrekang
Sangat disayangkan juga tidak semua tempat yang di list bisa dikunjungi. Tapi sungguh sangat terkesan dengan budaya toraja. Waw Indonesia itu benar-benar kaya saudara-saudara. Semakin cinta dan cinta deh. Tempat pertama yang aku kunjugi adalah lemo. Karena dari arah makasar ini adalah tempat wisata yang aku temui pertama kali. Siang itu, lemo sangat sepi, maklum lagi gerimis. Hanya bertemu dengan satu turis eropa yang merupakan seorang arkeolog. Jadilah perjalnan semakin asyik dengan cerita-ceritanya.


lemo 
Lemo
Lemo, ini adalah salah satu  karya suku toraja yang kukagumi.  Gambar Lemo ini pertama kali, kulihat di kalender salah satu produk rokok waktu SD puluhan tahun lalu. Dan tak disangka dan diduga sampai juga aku di hadapan pemakaman yang dikenal sebagai rumah para arwah ini. Intinya lemo adalah pemakaman pada sebuah dinding batu konon katanya ada 75 lubang. Dibagian depan dinding lemo ini dipasang replika orang-orang yang dimakamkan di lubang batu itu (disebut tau-tau).  Konon katanya pakaian dari tau-tau akan diganti pada upacara adat  Ma-Nene.


Kettesu
Waw tempat ini yang paling ku suka dari perjalanan ke Toraja ini. Ini adalah komplek perumahan adat toraja yang masih asli yang umurnya tentu sudah sangat tua. Disini kita bisa menyaksikan jejeran rumah adat toraja yang terdiri dari tongkonan dan lumbung padinya. Disini juga ada tempat upacara pemakaman (rante), kuburan purba dan makam-makam modern yang masih tetap menggambarkan budaya tanah toraja. Kuburan purba di belakang kettesu ini merupakan situs pemakaman tebing dengan pemakaman gantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar.

kettesu
kettesu

Kettesu dalam sketsa hitam dan putih
situs pemakaman tebing di belakang kettesu
 
Londa
Hampir mirip dengan lemo, londa adalah salah satu pemakaman purba   dengan dinding berbatu dan tau-tau. Di dalamnya terdapat banyak tengkorak yang berserakan. Konon katanya susunan peti jenazah di susun berdasarkan silsilah keluarga.  Dari beberapa literatur yang sempat ku baca, panjang gowa ini mencapai 1 km, untuk bisa menjelajah sampai 1 km ini diperlukan perizinan dan persyaratan khusus. Tapi jangan cemas, kita bisa kok masuk dalam gua ini tapi hanya sampai kedalaman tertentu. Di depan goa banyak penduduk setempat yang menyewakan lampu sekaligus sebagai guide yang menjelaskan sedikit banyaknya tentang londa. 
Pintu masuk Londa
Seberapa banyak orang yang telah dimakamkan di londa ini bisa diketahui dari jumlah tau-tau yang digantung di depan goa ini. Yang bisa dimakamkan di londa ini adalah petinggi di toraja tentunya dan harus melalui upacara adat Tallulolo. Konon upacara ini sangat menarik dan terkenal seantero.  Dan yang fantastis, untuk upacara adat ini ahli waris harus menyediakan minimal 24 kerbau..wow.....

Tengkorak di dalam londa

Hari kedua di toraja hanya bisa ku explore beberapa jam saja. Karena harus mengejar penerbangan jam 6 sore. Cukup berkesan menikmati malam di kota rantepao..cukup dingin kala itu. Tapi bagi muslim memang harus hati-hati dalam memilih makan. Jika ragu, tanyakan saja rumah makan muslim dimana. Penduduk disana dengan senang hati akan menjawab.
Batutumonga
Pagi hari perjalanan ku lanjutkan menuju puncaknya Toraja, batutumonga. Sayang sekali, cuaca kurang bersahabat. Seharusnya dari batu tumonga ini kita bisa melihat kota toraja dari ketinggian. Tapi hari itu aku hanya melihat kabut dan awan. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat rumah-rumah adat toraja, dan jejeran batuan yang dijadikan sebagai tempat pemakaman.  Di daerah ini terdapat 56 menhir dengan susunan yang sangat unik. Karena waktu, perjalanan yang masih menggantung ini harus diakhiri.


situs pemakaman di batutomonga

hamparan sawah di batutumonga
KAMBIRA
KAMBIRA
Dalam perjalanan pulang menuju makasar, aku masih sempat  mengunjungi kambira (burrial cave). Ternyata tempatnya jauh dan gara-gara kambira ini, aku nyaris ketinggalan pesawat. Untung pak andi sopir yang sangat lihai mampu menembus makasar dalam waktu 6 jam.  But whatever, aku merasa tak rugi mengunjungi tempat ini. Dari salah  satu liputan hotspot trans-tv ku ketahui bahwa kambira adalah salah satu bentuk pemakaman terunik di dunia.
pohon Tarra
Tempatnya hanya sederhana, sebatang pohon yang dipagiri...tapi cerita adat dan budayanya yang menjadikannya unik. Pohon ini ternyata bernama pohon tarra dengan umur hampir 300 tahun. Pemakaman kambira ini hanya ditujukan untuk bayi-bayi meninggal disaat belum tumbuh gigi. Pohon kayu tara ini dilubangi, setelah dimasukkan mayat bayi, pohon ini akan ditutup dengan pelepah enau dan dipasak dengan ijuk, jumlah ijuk ini konon katanya menunjukkan strata sosial. Pemakaman di kambira ini pun dilaksanakan dengan rangkain upacara yang unik pula.
disinilah bayi-bayi itu dimakamkan
Kambira akhrinya mengakhiri perjalanan ku di toraja. Sebelum benar-benar meninggalkannya, ku sempatkan untuk menikmati minumam jus khas toraja, jus terung belanda (Jus tamarella). Sueger rek, walau sedikit kecup:p. Kesimpulan dari perjalananku,  suku toraja  benar-benar unik karena proses pemakaman dan perkuburannya. All about kematin. Yaps ternyata kehidupan ini memang untuk kematian...

jus tamarella

30.1.12

ENTIKONG-TEBEDU; KITA DAN TETANGGA


Perbatasan dari kejauhan
Melanjutkan cerita yang tertunda tengtang negeri batas. Setelah menikmati malam di penginapan sekedarnya yang jauh dari kata layak, pagi itu kami coba mengamati kehidupan sekitar Entikong. Penginapan kami hanya berjarak 50 meter dari perbatasan. Ini sungguh memudahkan kami untuk mengamati kehidupan di negeri batas. Pemandangan pertama yang kami liat adalah kantor imigrasi dan kantor karantina pertanian dimana salah seorang temanku bertugas. Kantor imigrasinya tergolong cukup sederhana dibandingkan kantor imigrasi disebelahnya. Dari wajah dan tampang petugas di sana  secara kasat mata pun terlihat bahwa mereka memang lebih baik dari kita. Tapi cukup disayangkan tempat ini tidak boleh diabadikan dalam bidikan kamera. ketika aku mengeluarkan kamera seorang petugas disana langsung menghampiri ku dan menyampaikan larangannya. sampai saat ini masih belum menemukan jawaban kenapa  tidak diperbolehkan mengabadikan gambar di daerah ini. 


Kantor Karantina Pertanian Entikong
Kantor Imigrasi di perbatasan ENTIKONG-TEBEDU


Setelah mengamati bangunan di negeri batas ini kami pun mengamati masyarakat yang lalu lalang di pintu batas ini. Setelah bertanya-tanya pada beberapa orang ternyata mereka adalah penduduk Entikong yang akan berangkat kerja di negara sebelah. Info lain menyebutkan mereka kebanyakan bekerja pada sektor perkebunan terutama sawit.  Keren yah mereka, kerja aja harus beda negara. :p  Dan yang lebih menyedihkan adalah bahwa di negeri batas ini bahasa melayu malaysia lebih kentara terdengar dibandingkan bahasa indonesia atau bahasa dayak. Transaksi perdagangan pun lebih banyak menggunakan ringgit dibandingkan dengan rupiah. Sebagian dari masyarakatpun lebih memilih untuk berbelanja ke kota Khucing dibandingkan Pontianak. disamping harganya murah, akses ke kota Kuching pun terasa lebih mudah dibandingkan ke kota Pontianak. 
Suasana Perbatasan yang sempat terekam
Yaps inilah yang banyak di alami oleh masyarakat di perbatasan. Tentang rasa Nasionalisme dan tuntutan kehidupan. Negeri-negeri kita di ujung-ujung peradaban memang harus di akui jauh tertinggal dari tetamgga sebelah. Jauh dari kata layak secara kemanusiaan. ketika mereka mencoba mencari penghidupan ke negeri tetangga mereka pun diklaim tidak nasionalis. Dilema penduduk perbatasan kelangsungan hidup atau hidup dalam keterbatasan demi sebuah kata nasionalisme?

Pada negeri batas inilah sejatinya kita bisa melihat siapa dan bagaimana kita dibandingkan tetangga. Yang pasti jika berdiri di garis batas Entikong ke arah kota Kuching, kita bisa melihat jalanan yang rapi, mulus dan indah  tapi jika kita coba memutar badan ke arah Pontianak pemandangan sebaliknyalah yang akan kita lihat. Inilah cerita yang harus menjadi pelajaran terutama buat ku bahwa kita ternyata masih sangat jauh tertinggal dari negeri tetangga ini. Dan saya akhirnya memahami mengapa orang-orang di negeri batas ini lebih memilih menghabiskan hidupnya untuk negara tetangga. 
Menju Entikong
Dan tiba-tiba aku pun tertegun siapakah yang peduli mereka? kapankah peradaban di perbatasan ini akan berubah...hmmmmmm saat ini hanya  cuma bisa mereniung. belum bisa lebih dari itu...:D
(catatan perbatasan, April 2011)
Armada Tua Pontianak_ENTIKONG

27.1.12

DIALOG KECIL DENGAN MEREKA

Huaha waktu sudah mengalir saja ke tahun 2012. Tiba-tiba aku  tersentak dan sedikit terkaget. Begitu cepat dan teramat cepat. Sementara masih banyak ceceran mimpi, tugas, hutang dan tanggung jawab yang masih harus diselesaikan. Lagi-lagi hanya berguman andaikan waktu yang kita miliki lebih banyak dari tugas dan tanggung jawab yang kita punya. hu..hu...berdoa dan berharap semoga menjadi manusia yang lebih bijak dan efektif memanfaatkan waktu... toh dalam kitab suciku Allah pun telah menyampaikan pesannya untuk kita...tapi lagi- lalai dan lalai.

Lalu suatu siang beberapa waktu yang lalu, profesorku  tiba-tiba bertanya, bagaimana tahun 2011 bagi hidupmu. Tertegun sebentar mencoba menelaah pertanyaan pak prof. karena nga nyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya.  biasanya selalu bertanya nga jauh-jauh tentang report dan paper.   kujawab pertanyaan yang masih terasa asing itu, sebenarnya lebih ke curcol sih..he..he..(aji mumpung ...ada yang dengarin gundahan hati :P ).  "Jika ku coba mengkalkulasi hanya 30 % dari mimpi dan harapan yang terwujud di tahun 2011. sempat kecewa dan   bahkan sempat sedikit berputus asa. but come what may, i would do the best. Tapi luar biasa pak , aku mendapatkan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini akhirnya mampu menghapus kekecewaan dihati. Akhirnya saya percaya akan kata-kata keadilan pak, gagal di satu bagian,  insyallah dipermudah dibagian yang lain".Si bapak hanya manggut-manggut mendengarkan curhatan nga jelas dari ku. Tapi setelah itu si bapak kembali bertanya report yang selalu membuatku pusing...hu..hu....

Tak lama setelah itu tiba-tiba si bapak melanjutkan pertanyaannya...then what next plan?  dan tidakkah kamu memikirkan untuk segera menikah?. Huaha pertanyaan ini terasa lebih memusingkan dari report dan paper. Hanya bisa tersenyum dan terdiam menanggapi pertanyaan si bapak. "semua akan datang, jika kamu dinilai sudah siap untuk menjalaninya"  si bapak menimpali. Timpalan si bapak  mengakhiri pertemuan siang itu...Dalam hati aku berguman; berarti aku memang belum siap yah untuk menjalaninya... 

Dialog kecil inilah yang kadang dibelakannya membawa ku pada pikiran panjang. termasuk dengan orang-orang yang setia dan tulus membimbingku. celoteh sederhana yang kadang hanya disampaikan dengan kata singkat dan sulit dimengerti. Tapi itulah cara mereka mengajariku.

6.12.11

ENTIKONG_TEBEDU;CERITA NEGERI BATAS


-->
Entah mengapa Garis batas bagiku adalah sesuatu yang menarik. Sedikit terinspirasi oleh  kumpulan catatan perjalanan "Garis Batas" kang Agustinus Wibowo yang bercerita tentang garis batas di Timur Tengah . Dahsyat memanng.. Buku ini bercerita tentang dunia yang utuh namun tercerai berai oleh politik, perang, budaya, geografi bahkan kadang agama. Sempat berhayal dan berimajinasi konyol tentang dunia yang tak terkotak  dalam bentuk negara dan bangsa. everyone can go anywhere without passport  and  visa..he..he...(visa: masalah  utama para traveler)

Garis Batas Tepedu Entikong

Lalu bagaimana dengan garis batas di negera kita tercinta ini.  Perbatasan laut mungkin tidak se unik perbatasan darat. Laut telah  menjadi pembatas yang nyata bagi negara kita  dan negara tetangga. Namun sebaliknya pada Garis batas darat kita  menyaksikan secara nyata sebuah aris yang benar-benar memisahkan manusia dalam budaya dan aturan yang sungguh berbeda.  Bahkan di pulau sebatik Kalimantan Timur ada sebuah rumah penduduk  masuk dalam administrasi 2 negara. unikya..he..he..Sebuah sensasi yang memang harus ku rasakan. Setidaknya  ada tiga garis batas darat yang telah  masuk  dalam daftar tempat yang harus ku kunjungi, Entikog-Tepedu, Papua-PNG dan Atambua-timor leste. Semoga terkabul Amin.

Dan Akhirnya Bulan April 2011 kemaren saya merasakan salah satu sensasi garis batas  itu  Entikong-Tepedu. Berbekal Informasi dari Pak Wawan, seorang teman prajabatan yang  bertugas di karantina pertanian Entikong, Aku dan seorang teman yang kebetulan bernama yeli juga tapi beda spelling 'Yelly (duo yeli je..) memulai perjalanan ini. Sayang pada saat kedatangan ke Entikong Pak Wawan sedang training di Bandung. Tapi itu tak masalah bagi kami.

Perjalanan yang sudah kami rencanakan ini ternyata tak berjalan mulus. Yellly, my buddy ternyata ketinggalan tiket pesawatnya...Alhamdulilah masalah itu teratasi karena Yelly masih ingat kode bookingnya. Di itinerary yang kami buat,  Kami  terbang ke Pontianak dengan penerbangan sore dan berencana malam harinya pukul 21.00 langsung menuju Entikong dengan pilihan beberapa armada bis (prefer menggunakan Damri). Tapi rencana tinggal rencana. Setelah masuk boarding gate, Yelly  baru sadar bahwa pasportnya ketinggalan.  Beruntung pesawat delay 1 jam, Yelly nekat untuk kembali ke kosan untuk mengambil pasporntya itu. Nasib memang belum berkata baik, sampai pesawat take off yelly pun  tak muncul. sesat sebelum take off  ku sempat menghubungi Yelly . Informasi yang kudapat Yelily terjebak macet parah. Tapi yelly meyakinkan ku bahwa dia akan menyusul dengan penerbangan yang paling pagi esok harinya.
Sudah Jatuh Tertimpa tangga pula, itulah kata yang tepat menggambarkan nasib Yelly Inilah pelajaran moral kehidupan bahwa kelalain sekecil apapun itu fatal akibatnya. Yelliy telah mengeluarkan uang 150 ribu untuk menyewa sebuah ojeg dan terpaksa membayar harga tiket 2 kali  harga tiket semula. Dan mungkinn yang tak terlupakan adalah malam itu harus tidur di Bandara. Pengalaman yang tak terlupakan. Akhirnya aku pun harus iklas dan rela menunggu Yelliy esok harinya.

Tepat pukul 9 malam aku mendarat di Supadio. Setelah  tanya sana-sini akhirnya aku menginap di hotel sederhana Hotel Khatulistiwa  tepatnya. Beruntung menemukan sopir taksi yang sangat baik. seorang bapak yang akhirnya menjadi guide.  Tak banyak yang kulakukan malam itu, berbersih, SHolat dan langsung istirahat.  

Esok harinya  Jam 9  pagi  yelly sampai di hotel tempatku menginap. Wajahnya terlihat amat dan teramat kucel. maklum malam itu yeli memilih untuk tidak tidur demi kesalamatan katanya. Dan ternyata tak sempat mandi pula..Senyum dan iba dua ekspresi itu akhirnya muncul setelah Yelly menceritakan semuanya. Pelajaran paling berharga dalam hidup kadang  memang terlahir dari pengalaman konyol. semoga kejadian ini tak terulangi...

Dan kekonyolan belum selesai. Demi tiket murah untuk kembali ke Jakarta, kami  membeli tiket atas nama orang lain yang batal berangkat.. Sempat bimbang awalnya karena salah satunmya atas nama laki-laki.  karena tak lagi punya money kami pun sepakat membelinya. Maklumlah  harganya setengah dari harga tiket resmi saat itu. Demi keamanan,  Mba-mba penjaga travel itu akhirnya mencity cek in kan tiket kami.  Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh jua.  Kami berhasil masuk bandara dengan selamat...tapi jeng..jeng ketika masuk boarding gate, seorang petugas memperhatikan dengan seksama boarding pass ku, dan dengan tatapan aneh sang petugas pun bertanya. "lho ini kok namanya laki-laki"...dalam hati ku berguman " tamat deh riwayatku". Dewi fortuna masih berpihak pada ku  Sang petugas mengizinkan setelah tiba-tiba aku mengatakan bahwa tiket itu adalah tiket suamiku yang batal berangkat dan sayang kalo tidak digunakan. Konyol dan benar-benar konyol. Merasa teramat berdosa melakukan ini.. semoga Allah mengampuniku. Amin

Menuju Entikong

Karena semua armada darat menuju Entikong beroperasi malam hari, maka siang itu kami habiskan untuk mengexplore kota Pontianak dan menikmati beberapa kulinernya. Es nona dan es lidah buaya salah duanya. Tak banyak memang yang bisa di nikmati di kota khatulistiwa ini. Tempat yang pertama  kami tuju tentu dan jelas adalah tugu khatulistiwa. Konon katanya nga afdhal kalo ke pontianak  jika tidak  bertandang ke tugu khatulistiwa.  killing the time, kami pun sempat mengunjungi beberapa museum.. Bada' magrib kami kembali menjadi gelandang di sebuah mesjid. Beristirahat sejenak  menunggu Travel yang akan menjemput kami.

Dan perjalanan Pontianak_Entikong dimulai. Tak banyak yang bisa kami nikmati dalam perjalanan ini. Maklum sudah malam. Menelusuri jalanan panjang yang sebagian besar masih jauh dari kata layak. Hamparan perkebunan sawit adalah pemandangan utamanya. Yaps lahan gambut kita memang telah dirubah secara besar-besaran menjadi lahan sawit. Dengan kondisi jalan seperti itu, susah sekali memang untuk tidur nyenyak. Akhirnya kucoba menikmati perjalanan dengan  bercerita dan  mendengarkan   seksama percakapan penumpang lainnya. Aku pun berkesimpulan bahwa 2 orang  di dalam travel itu adalah TKW dan satu lainnya penyalurnya. Aku pun mulai mecoba mengali informasi lebih banyak tentang  dunia perte KWAan. Mereka kelihatan sangat hati-hati sekali menjawab setiap pertanyaanku.  Kesempatan baik untuk melihat bagaimana  hitam dan putihnya cerita TKW  yang  memang tak pernah habis.

Setelah menerima telpon dari rekannya, Sopir travel yang kami tumpangi tiba-tiba gelisah dan mewanti-wanti penumpangnya agar waspada. Ternyata ada razia TKW di salah satu kantor kepolisian. Bila ketauan membawa TKW ilegal maka penyalur  dan sopir akan berurusan dengan yang namanya duit dan penjara. Jika mereka bisa memberikan uang sesuia yang diminta para aparat itu maka mereka di bebaskan dan jika tidak maka para TKW tidak diizinkan oleh pihak kepolisian menuju negara tetangga. Mereka akan di tahan dan  setelah itu terserah polisinya. Mobil sang sopir pun akan di tahan. dan harus ditebus dengan tebusan yang aduhai...keserakahan manusia atas harapan dan mimpi-mimpi orang lain (TKW tepatnya). Kasian sekali mereka sudah diperas penyalur, pun harus diperas oleh oknum polisi.

Dan ternyata benar adanya. Ada razia. dan demi melindungi penumpangnya yang TKW ini, aku lah yang diminta pak sopir untuk menghadapi sang polisi. Karena sopir itu memang tau bahwa tujuanku hanyalah akan melancong bukan untuk menjadi TKW. Berhadapan dengan polisi  intinya aku ditanya mau kemana dan mengapa. setelah ku jawab jujur pak polisi tak percaya. Eh pak sopir malah tiba-tiba menyeletuk bahwa saya adalah orang kementan yang sedang dinas ke Karantina Entikong. Faktanya adalah orang orang kementan yang sedang melancong (he..he..) Pak polisi akhirnya memaksa ku untuk  menujukkann surat  penugsana .  bingung, memang tidak ada surat tugas karena memang bukan perjalanan dinas. Setelah mampu menunjukkan bahwa aku adalah PNS dan memperlihatkan tiket pulang kejakarta  mereka akhinya pun percaya.. 

Dini hari kami sampai di Entikong. Letih luar biasa. Merasa masih butuh istirahat kami pun menyewa sebuah kamar yang jauh dari kata layak  berjarak  sekitar  200 meter dari pintu perbatasan. Tak ada pilihan lain , ini satu-satunya penginapan yang kami  tau ada di sini. Desa ini terasa kota mati memang. Tak ada kasur tebal je, cuma ada kasur palembang yang tipis dan dinding kamar yang masih belum di plester , ruat dan kasarnya batako harus kami nikmati dalam lelah malam itu\.  Tapi sebandinglah dengan harga yang  hanya Rp.25.000 untuk dua orang. Penginapan ini menjadi cerita pertama kami di Entikong ...cerita kedua, ketiga dan seterusnya???? tunggu cerita selanjutnya :D
kompleks keimigrasian Tepedu Malaysia.

24.11.11

Menanti Tunainya sebuah Janji

Huaha...malam ini tiba-tiba ingin membahas ini. " kapan nikah?"mungkin ini adalah pertanyaan yang saat ini paling menakutkan, paling sulit dijawab dan paling tidak ingin ku dengar. Tapi malah intensitasnya semakin meningkat. (menyedihkan memang). Sampai terbesit untuk mencoba menghitung berapa kalinya dan mencoba memnbuat analisis statistiknnya he.he....(ide gila).

Kadang  terpaksa  pertanyaan itu kuangap sebagai angin lalu.  dan  kadang membawa ku untuk berfikir panjang. Sadar-se sadarnya, usiaku yang telah 28 tahun ini memang dinilai banyak orang adalah usia yang seharusnya sudah menikah( tapi nasib baik memang belum berpihak pada saya :(( ). Dan jauh di lubuk hati ini pun sudah sangat ingin  menyudahi drama kesendirian yang kadang cukup mendera ini.  Tapi lagi-lagi takdir belum mengantarkan saya ke magligai ini.  Mungkin memang Allah simpan ia  (pangeran berkuda  putih:p) dengan mesranya dariku untuk menguji seberapa taat, dan sabarnya aku mendapat anugrah ini.  

dan selalu ada getar aneh ketika membicarakan hal ini dengan ibu.  Selalu ada harap yang dalam dari setiap tutur katanya.  Harap yang tak pernah ku tau akan ku penuhi atau tidak. Lagi-lagi kita tak pernah tau.
Jodoh adalah misteri. Tak pernah tau siapa, kapan dan dengan cara apa datangnya. Yah kemungkinan terburuk  adalah memang tidak ada jodoh ku di dunia ini. Dan aku harus bersiap dengan kemungkinan terjelek itu.

Di belakang sana,  sudah pasti banyak mengalir ejekan, cibiran dan  bahkan sedikit cercaan, mulai dari yang terlalu pilih-pilih sampai statement  nga laku. Jadi ingat lagunya wali band..he..yang belum nikah pasti pada hapal nih kayaknya…atau jangan-jangan jadi lagu kebangsaan :p.  Masalah memilih,  Salahkah jika aku memilih. Ini bukan keputusan sembarang, sebuah keputusan besar yang akan dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat.  Masalah laku, mungkin saat ini  aku sedang menunggu pembeli yang tepat  (lha memang barang dagangan??).

Ya Allah lewat tulisan ini aku tak pernah berputus harapan dari menanti dan menanti tunai JanjiMU, tentang seseorang, tentang dia tempat tulang rusukku bersandar. Jika sudah sampai saatnya nanti, Tuntunlah aku untuk memulainya dan menjalaninya  dalam kesucian ajaran MU. Karena ia suci, penyempurna Dienku maka  harus ditempuh dengan cara yang suci pula.

Yang tercinta ku puja Kau dalam setiap sujudku
dan dalam menunggu kuurai pengertianku
lewat beragam kisah
hingga nanti saat telah engkau sampaikan langkahnya kepadaku

Galau,Tuban, 23 November 2011