Fakta hubungan iklim dan durian
Disinilah semua rasa berpadu, semua warna menyatu. Disinilah catatan-catatan itu kukumpulkan. berharap semuanya bisa menjadi inspirasi dan spirit bagiku untuk menjalani kehidupan yang tentu tidak mudah..... dan semoga lebih dari itu halaman-halam ini pun bisa memberi semangat dan inspirasi buat semua........
26.10.10
BERBURU DATA DURIAN DI KAKI GUNUNG UNGARAN
Fakta hubungan iklim dan durian
19.8.10
Melihat Perubahan Iklim dari Puncak Jaya
Kisah seorang peneliti Belanda Jan Cartensz, tahun 1623 mengejutkan orang-orang Eropa. Bahwa ia melihat gletser dan salju di sebuah puncak gunung Papua yang terletak pada garis Khatulistiwa. Nama Cartensz pun di abadikan sebagai nama puncak ini. Namun kini setelah 387 tahun, gletser Puncak Jaya itu bakal sirna 4-5 tahun lagi, karena perubahan iklim yang sangat ekstrem sejak tahun 1970an. Perubahan iklim sejak tahun 1970 an ini tidak hanya menyusutkan gletser di puncak jaya tapi juga di zona-zona lain.
Kisah hampir serupa juga datang dari glacilog Lonnie Thompson asal Ohio University, Amerika Serikat. Pertengahn Juni 2010 ia memimpin proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 yang dilakukan atas kerja sama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar Research Center (BPRC) The Ohio State University, beranggotakan sejumlah peneliti dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan Indonesia.
Satu gletser adalah massa es yang bertahun-tahun bergerak di atas tanah. Satu gletser terbentuk pada wilayah yang akumulasi massa salju es melebihi ablasi selama bertahun-tahun. Kata gletser berasal dari bahasa latin Glacia atau glacies yang berarti es.
Es gletser adalah reservoir air segar di daratan, selain lautan sebagai reservoir terbesar air. Gletser adalah indicator iklim, perubahan permukaan laut dan menjadi sumber air. Gletser ada pada sekitar 47 negara seperti di Antartika, Patagonia Cile, Kanada, Alaska, Greenland, dan Iceland. Geletser di puncak gunung terdapat di Andes, Himalaya, rocky Mountains, Caucasus, dan Alpen.
Salju Puncak Jaya dapat dicapai peneliti Belanda Hendrik Albert Lorentz tahun 1909. Ia dipandu oleh penunjuk jalan asal dayak Kenyah, Apo Kayan, Kalimantan. Sejak itu sampai tahun 1962, tidak ada ekspedisi ke Puncak Jaya, kecuali ekspedisi yang dipimpin oleh ahli pendaki gunung asal Austria, Heinrich Harrer, bersama rekannya Temple, Kippax dan Huizenga.
Meskipun tidak ada es di puncak Jaya, namun ada beberapa gletser di lerengnya seperti Cartensz Glacier dan Northwall Firn. Letaknya di garis khatulistiwa dengan sedikit variasi suhu rata-rata pertahuan sekitar 0,5 derajat celcius sedangkan gletsernya berubah musiman.
Hasil analisis catatan sejarah gletser yang langka di garis khatulistiwa ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan besar gletser puncak Jaya sejak tahun 1850. Gletser di puncak Trikora Gunung Maoke sirna natara tahun 1936-1962. Sejak tahun 1970an data image satellite menunjukkan bahwa gletser Puncak Jaya mencair sangat cepat. Gletser Leren Mencair antara tahun 1994-2000.
Kelompok peneliti pimpinan Lonnie Thompson selama 13 hari tinggal di tiga titik gletser yang masih ada di Papua yaitu gletser Cartensz, E.Nortwall Firs dan W.Northwall Firs yang hampir habis atau hilang.Menurut pengakuan Lonnie Thompson, selama 13 hari berada di kawasan gletser Papua, gletser setempat mengalami penurunan sekitar 30 centimeter. Ia memperkirakan, setiap tahun gletser Papua hilang beberapa meter.
Lonnie Thompson mengatakan, proses pencairan es pada gletser Papua sangat cepat akibat dari faktor iklim, di mana setiap hari di kawasan itu selalu turun hujan.
"Benar kalau gletser di sini kemungkinan akan cepat habis karena setiap hari turun hujan. Hujan merupakan salah satu faktor cuaca yang paling cepat menghabiskan gletser," katanya.
Selama berada di kawasan gletser Papua, Lonnie dan rekan-rekannya mengambil sampel 88 meter Ice Core dengan mengebor enam inti es sampai dasar es, lalu dipotong-potong menjadi satu meter dan dimasukan ke dalam freezer untuk diteliti lebih lanjut di Ohio State University Amerika Serikat.
Thompson telah memimpin 57 misi riset gletser pada 16 negara dari Cina sampai Peru. Namun gletser di Puncak Jaya, sangt istimewa baginya. Karena gletser ini berada sepanjang tepi lautan pasifik yang paling panas di dunia dan dapat member petunjuk tentang pola cuaca kawasn yang merupakan misiing link yang belum dipelajari. Dari kawasn inilah asal badai elnino, pemanasn periodic di timur dan tengah pasifik dapat bergerak ke Asia Tenggara dan Australia sehingga mempengaruhi musim Glester puncak Jaya adalah satu-satunya arsip tentang kisah fenomena khatulistiwa. Es penutup sebagian besar puncak Jaya ribuan tahun silam, kini hanya seluas 1 mil persegi laurnya dan 32 yar kedalamannya. Gletser dunia telah menyusut sepanjang Alaska, Alpen, Andes dan zona lainnya.
Sample es yang di ambil dikirim ke gudang dingin di Columbus, Ohio. Ahli gletser akan menganalisa lapisan-lapisan e situ. Serpihan debu yang jatuh musiman memudahkan peneliti menghitung tahun-tahun. Isotop-isotop oksigen yang terperangkap di lapisan es membantu peneliti memamhami cuaca. Tim Thompson berharap dapat m menemukan abu vulkanik dari letusan gunung Karakatau dan gunung Tambora.
yeli sarvina dari berbagai sumber,
1. www. antaranews.com
2. Fierra setyawan, M.Si. Research Program on Puncak Jaya ice Core Climate History: Premilinary result, disampaikan dalam International Symposium on equatorial Monson System 28-29 Juli 2010
3. Dinas Kehutanan Papua
12.8.10
Penyimpangan Iklim 2010
28.4.10
PENGALAMAN KEDUA MENJADI PEMBICARA IKLIM
Pukul 10.30 bersama mobil dan driver dari kantor, serta mengajak salah satu mahasiswa dari universitas Gorontalo yang sedang PL di kantorku, akupun berangkat. Waktu perjalananlah yang kugunakan untuk menyusun materi dan slide presentasi yang bertemakan "Upaya antisipasi dan Mitigasi Perubahan Iklim pada sektor Pertanian". Materi ini kususun berdasarkan saran-saran dari pak Dr. Aris Pramudia. Pak Aris makasih..makasih atas segala bimbingan mu....
Benar seperti dugaan, perjalanan ini pun menemukan titik buntu he..macet madsudnya. pukul 12.00 kami masih di Ciawi. Berada di Sukabumi pukul 13.00 adalah sebuah kemustahilan. Pulang kembali kekantor pun tak mungkin. Menghubungi panitia, nga punya no contac, karena semua mendadak jadi tak sempat berfikir tentang itu. Finally, Kami sampai ditempat acara pukul 14.30..ho..ho.. 1,5 jam molor dari jadwal yang telah ditetapkan. Beruntunglah panitia berinisiatif memajukan jadwal. pembicara yang seharusnya berbicara di sesi terakhir, mengisi jadwalku. dan akhirnya aku menjadi pembicara disesi terakhir.
Alhamdulilah presentasi kusampaikan dengan lancar.pada sesi diskusi ada beberapa pertanyaan. Yah kucoba menjawab sesuai dengan kemampuanku. Pengalaman-pengalaman yang menjadi bagian-bagian kecil dari mozaik hidupku. sungguh menjadi penyemangat dan pembuktian bahwa aku bisa..he..siap menunggu aksi-aksi dan karya-karya berikutnya...
semoga aku bisa memberikan manfaat untuk orang lain...amin
20.11.09
PENGALAMAN PERTAMA MENJADI PEMBICARA TENTANG IKLIM
13.10.09
REALITAS DATA IKLIM SAAT INI
Di indonesia tercatat beberapa lembaga yang terlibat dan berperan dalam dunia iklim dan cuaca diantaranya:
1. BMKG, ini jelas. karena memang BMKG adalah lembaga yang telah diberikan tugas pokok dan fungsi untuk itu. BMKG berkembang sangat pesat setelah ia menjadi lembaga pemerintah non departemen, keluar dari struktur Departemen Perhubungan. Dulu mungkin banyak yang bertanya apa itu BMG dan apa itu meteorologi. Tapi saat ini coba tanya siapa yang tak kenal BMKG? he...apalagi kalau ada bencana banjir, kekeringan, gempa, badai, maka informasi dari lembaga ini paling dicari. terlepas dari akurat atau tidaknya informasi tersebut. Tentu ini menjadi tantangan bagi lembaga ini.
2. LAPAN. disamping BMKG Lapan pun mempunya record data iklim. bahkan lembaga ini pun mengeluarkan prediksi cuaca harian. Tapi metode yang digunakan berbeda dengan BMKG. Sesuai dengan tugas dan fungsinya juga sepertinya mereka lebih banyak menggunakan data dari citra satelit dan inderaja.
3. Depertemen Pekerjaan Umum. Departemen pekerjaan umum juga memiliki stasiun cuaca dan stasiun hujan yang menyebar di seluruh indonesia. Data-data ini tentu sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air yang menjadi tanggung jawabnya.
4. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian juga memiliki stasiun iklim dan pos hujan yang menyebar di sentra-sentra pertanian di Indonesia. Informasi ini sangat penting untuk penentuan waktu tanam, pola tanam, kalender tanam, perkiraan hama dan penyakit dll
5. Perguruan Tinggi. Beberapa perguruan tinggi yang juga mempunyai record data iklim dan cuaca adalah ITB dan IPB. Yups inilah dua perguruan tinggi yang mempunyai jurusan Meteorology. Record data mereka ini tentu lebih banyak digunakan untuk proses belajar
Realitas Stasiun Cuaca saat ini.
Pemerintah indonesia sejak dulu kala (kayak lagu...he..) telah menghabiskan anggaran yang lumayan besar untuk pengadaaan stasiun iklim maupun pos hujan. bahkan kadang itupun didapat dari hibah luar negeri yang itu artinya adalah hutang bangsa ini. Tapi sayang stasiun yang ada tidak dirawat dan dijaga. akibatnya stasiun tak lagi punya record data. informasi dan data hilang dan terputus tentu ini akan mempengaruhi hasil analisis iklim.
Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi adalah adanya beberapa pihak yang mencuri beberapa komponen stasiun cuaca. Konon katanya adalah masyarakat sekitarnya untuk dijual diloakan dengan harga yang tentu bisa kita tebak..Sayang sekali....padahal biaya yang dikeluarkan sangat besar.
Sebelum lebaran kemaren saya, beberapa orang balitklimat dan pak budi, perekayasa dari BPPT melakukan survey untuk pemasangan AWS telemetri, yaitu AWS yang datanya bisa di akses setiap jam melalui telepon gengam. AWS ini diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan tentang data iklim dan cuaca. Kegiatan ini dibiayai dari SINTA (sinergisitas penelitian Pertanian dan DikTI). Kami mensurvey daerah Indramayu. Daerah ini menjadi titik yang dipilih di Jawa Barat. Selanjutnya akan dilakukan di Jawa Tengah, Banten dan Jawa Timur. Bahkan dalam survey ke Jawa tengah kemaren, melibatkan tim dari BMKG.


BMKG sendiri pun telah memasang banyak AWS. Tapi sebarannya masih dominan di pulau jawa. AWS ini menghasilkan data perjam yang bisa diakses oleh semua orang dengan internet dengan alamat http://aws-online.bmg.go.id/bmg/aws/. AWS ini belum menggunakan prinsip telemetri.
9.6.09
METODE PERAMALAN OPT DENGAN MENGGUNAKAN UNSUR IKLIM
Tersedinya inventarisasi data iklim dan OPT hasil pemgamatan jangka panjang sangat bermanfaat dalam pengembangan model peramalan. Adanya data ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana keterkaitan antara cuaca/iklim terhadap perkembangan
- Tentukan periode musim tanam
- tentukan fase tanaman yang peka terhadap serangan OPT
- susun indeks kerusakan tanaman dan indeks iklim selama periode yang dijadikan perhatian menurut segmen waktu yang ditentukan
- lakukan analasis korelasi antara indeks kerusakan tanaman akibat serangan organsime pengganggu tanaman tertentu denga indeks ikllim untuk menentukan peubah iklim yang pentimng dlam penentuan perkembangan OPT.
penyusunan indeks kerusakan tanaman dan indeks iklim dilakukan menurut segmen waktu yang telah ditentukan. Penentuna panjang segmen waktu dapat didasarkan kepada perkiraan lamanya fase pertumbuhan yang sensitive terhadap serangan OPT. setelah segmen waktu di buat maka lakukan perhitungan indeks iklim dan indeks OPT pada masing-masing segmen setiap tahun dan lakukan analaisis korelasi.
2.6.09
NERACA AIR DAN MANFAATNYA DALAM PERTANIAN

Pada suatu areal pertanian penyediaan air tanaman berasal dari curah hujan dan irigasi. Sedangkan kehilangan air dapat berupa drainase, limpasan permukaan, evaporasi, dan transpirasi. Sebagian air disimpan sebagai cadangan makanan dalam tanah. Keseluruhan masukan (input) dan keluaran (output) air dapat dirumuskan sebagai neraca air (Handoko, 1994).
Perhitungan neraca air lahan merupakan salah satu informasi penting untuk menentukan langkah kegiatan usaha tani dari hari ke hari. Hal ini disebabkan karena tingkat ketersediaan air mampu mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Jika tanaman pernah mengalami tekanan, maka pertumbuhan dan produksinya akan turun. Penurunan ini akan semakin tajam jika kejadian iklim dan cuaca yang mengganggu terjadi pada saat fase pertumbuhan tanaman peka terhadap ketersediaan air. Peristiwa tersebut jika terjadi pada intensitas yang tinggi dan daerah yang luas akan menurunkan produksi dalam jumlah yang besar.
Menurut Nasir (2002) berdasarkan cakupan ruang dan manfaat untuk perencanaan pertanian, disusun neraca air agroklimat dengan tiga model analisis sebagai berikut :
1. Neraca air umum, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama air secara umum.
2. Neraca air lahan, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama dinamika kadar air tanah untuk perencanaan pola tanam secara umum.
3. Neraca air tanaman, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama dinamika kadar air tanah dan penggunaan air tanaman untuk perencanaan tanaman tiap kultivar.
Analisis pada neraca air lahan berguna terutama untuk penggunaan dalam pertanian secara umum. Nasir (2002) mengatakan secara umum manfaat neraca air lahan terutama untuk :
- Mengetahui kondisi agroklimat terutama dari segi kondisi air
- Mengetahui periode musim kemarau dan musim hujan berdasarkan perimbangan antara hujan dan ETP.
- Memilih jenis tanaman dan mengatur jadwal tanam dan panen serta mengatur kombinasi tanaman tumpang sari bila diperlukan.
- Mengatur pemberian air irigasi baik jumlah maupun waktu sesuai dengan keperluan. Informasi terpenting dari neraca air lahan adalah untuk mengetahui dinamika perubahan kadar air tanah sehingga berguna untuk menyusun strategi pengelolaan usaha tani tersebut.
Dimana:
CH :Curah hujan
I :Irigasi
D :Drainase
Runoff :Aliran permukaan
ETP :Evapotranspirasi
∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah
CH :Curah hujan
ETP :Evapotranspirasi
∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah
Ro :Aliran permukaan
CH :Curah hujan
I :Irigasi
Ro :Aliran permukaan
ETP :Evapotranspirasi
∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah
Pc :Perkolasi
1. Mengisi curah hujan (CH)
2. Mengisi kolom evapotranspirasi potensial (ETP)
3. APML (Accumulation of Potensial Water Loss).
Nilai APWL merupakan akumulasi CH-ETP dari waktu ke waktu. Akumulasi air yang hilang secara potensial ini akan menentukan kandungan air tanah pada saat curah hujan lebih kecil dari evapotranspirasi potensial.
4. Kadar air tanah.
Kandungan air tanah dapat maksimum pada suatu periode dimana CH-ETP bernilai positif. Sedangkan apabila CH-ETP bernilai negatif maka kandungan air tanah akan ditentukan:

AT= KL- TLP
5. dKAT (Perubahan Kandungan Air Tanah)
Perubahan kandungan air tanah merupakan selisih kandungan air tanah antara satu periode dengan periode sebelumnya secara berurutan. Nilai dKAT yang positif menunjukkan terjadinya penambahan kandungan air tanah. Penambahan ini akan terhenti setelah kapasitas lapang terpenuhi.
6. ETA (Evapotranspirasi aktual)
Bila curah hujan lebih besar dari nilai evapotranspirasi maka nilai ETA sama dengan nilai ETP. Namun bila curah hujan jauh lebih kecil dari nilai ETP maka tanah akan mulai mengering dan ETA menjadi lebih rendah dari nilai potensialnya. Pada kondisi ini maka nilai ETA akan sama dengan nilai CH+dKAT.
7. Defisit
Defisit berarti berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial sehingga defisit air adalah perbedaan atau selisih antara nilai ETP dan ETA. Nilai defisit merupakan jumlah air yang perlu ditambahkan untuk memenuhi keperluan ETP tanaman.
8. Surplus
Setelah simpan air mencapai kapasitas lapang maka kelebihan curah hujan akan dihitung sebagai surplus. Air ini merupakan kelebihan setelah air tanah terisi kembali. Dengan demikian surplus dihitung sebagai nilai curah hujan dikurangi dengan nilai ETP dan perubahan kadar air tanah (CH-ETP-dKAT)
Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. PT. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.
Hillel,D. 1972. The Field Water Balanced and Water Use Efesiensy. In: D hillel (ed) Optimizing the soil physical Enviroment Toward Greater Crop Yields. Academic Press. New York.
Nasir, A.2002. Neraca Air Agroklimatik. Makalah Pelatihan Bimbingan Pengamanan Tanaman Pangan dan Bencana Alam.Bogor
1.6.09
PENGUJIAN KESESUAIN IKLIM DAN TANAMAN MENGGUNAKAN ANALISIS KLIMOGRAM
Salah satu cara yang dilakukan untuk mengentahui kesesuain iklim dan tanaman adalah dengan analis klimogram dari data empiris. Dasar analisisnya adalah dengan mencari data iklim dari sentra produksi tamanan yang akan dikembangkan, terutama data iklim yang merupakan factor pengendali utama bagi pertumbuhan, perkembang dan produksi suatu tanaman.
Klimogram merupakan grafik yang menunjukkan interaksi (perpotongan) antara dua buah unsur iklim rata-rata bulanan dalam satu siklus (setahun). Sebagai contoh untuk membuat grafik klimogram tanaman tebu dapat digunakan unsur iklim suhu udara dan curah hujan. Kedua unsur iklim tersebut dipilih karena diantara unsur yang lain yang merupakan unsur yang paling besar pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman tebu.
Klimogram dibuat untuk menguji apakah kondi suatu daerah sesuai untuk pengembangan suatu tanaman dengan bahan kultivar dan pengelolaan yang sama dengan daerah-daerah yang merupakan sentra/pusat produksi daerah tanaman tersebut. Suatu daerah yang merupakan sentra produksi dalam jangka waktu yang panjang mengindikasikan bahwa daerah tersebut secara iklim cocok untuk pertanaman tersebut atau dengan kata lain kondisi iklim berada pada titik optimum sehingga menunjang pertumbugan dan perkembangan tanaman.
Klimogram juga dapat di buat untuk dijadikan pola penentu early warning system dalam bidang
Selain digunakan pada bidang pertanian dan perkebunan, klimogram juga dapat digunakan pada bidang peternakan. Sebagian besar hewan ternak memerlukan kondisi unsur-unsur iklim yang optimum untuk berkembang biak dan berproduksi. Dengan mengasumsikan bahwa benih, panen dan perlakuan berada pada kondisi optimum.
Tahapan dalam pembuatan klimogram adalah:
- Tentukan tanaman pertanian atau perkebunan yang akan dicari kesesuainnya
- Carilah tiga atau lebih daerah yang telah menjadi sentra produksi selama lebih dari sepuluh tahun dari tanaman yang akan ditentukan.
- Tentukan unsur iklim yang paling berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman tersebut
- lakukan inventarisasi data iklim harian terutama unsur iklim yang paling berpengaruh selama minimal 10 tahun.
- Kemudian plotkan dalam bentuk grafik garis yang saling berhungan dari bulan januari sampai bulan desember
- lakukan overlay antara grafik klimogram daerah sentra produksi dengan grafik daerah yang diuji
- dari hasil overlay tersebut dapat dilihat bahwa jika antara grafik klimogram sentra produksi dengan grafik daerah yang diuji berhimpit maka daerah yang diuji tersebut scara iklim cocok dikembangkan untuk budidaya tanaman tersebut.
CUACA DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

Perkembangan hama dan penyakit mempunyai hubungan yang erat dengan keadaan lingkungan habitatnya. Keadaan lingkungan selalu berubah-ubah, organisme penggangu yang hidup di dalamnyapun selalu berubah menyesuaikan diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua (Little, 1971) yaitu:
1. Faktor dalam adalah faktor yang berada dalam tubuh orgnisme seperti organ tubuh dan keadaan fisiologisnya.
2. Faktor luar adalah faktor yang berada di luar tubuh organisme yang mempengaruhinya langsung dan tidak langsung yaitu faktor fisik, biotik dan makanan.
Kedua kelompok tersebut bekerjasama membentuk corak lingkungan hidup yang berbeda yang bersifat menekan atau merangsang perkembangan OPT. kelompok factor luar dapat dibedakan lagi menjadi factor fisik, biotic dan factor makanan.
Faktor fisik dapat dibedakan menjadi unsur cuaca dan topografi suatu daerah merupakan faktor penghambat atau sekurang-kurangnya mempengaruhi penyebaran OPT. Hal ini disebabkan oleh perbedaan topografi yang menyebabkan terjadinya perbedaan faktor iklim dan secara tidak langsung menimbulkan perbedaan tumbuhan yang tumbuh.
Faktor biotik adalah semua faktor yang pada dasarnya bersifat hidup dan berperan dalam keseimbangan populasi OPT. Termasuk dalam faktor biotik adalah parasit, predator, kompetisi dan resistensi tanaman.
Faktor cuaca mempunyai peranan penting dalam siklus kehidupan serangga. Dalam batas yang luas, cuaca mempengaruhi penyebarannya, kelimpahanya, dan sebagai salah satu faktor utama penyebab timbulnya serangan hama.
Kelimpahan serangga berhubungan erat dengan perbandingan antara kelahiran dan kematian pada suatu waktu tertentu. Kelahiran dipengaruhi antara lain oleh cuaca, makanan dan taraf kepadatannya. Kematian terutama dipengaruhi oleh cuaca dan musuh alami. Kepadatan dapat mengakibatkan emigrasi yang dapat berarti sebagai kurangnya individu di suatu lokasi yang dianggap suatu kematian. Cuaca berpengaruh langsung terhadap tingkat kelahiran dan kematian, secara tidak langsung cuaca mempengaruhi hama melalui pengaruhnya terhadap kelimpahan organisme lain termasuk musuh alaminya.
Organisme, khususnya serangga mempunyai daya menahan pengaruh faktor lingkungan fisik sehingga menjadi kebal. Organisme serangga dapat mengatasi keadaan yang ekstrem berupa adaptasi yang berhubungan dengan faktor genetis atau penyesuain yang sifatnya fisiologis. Serangga sesuai dengan sifatnya mempunyai kemampuan meyesuaikan diri dengan lingkungan tetapi karena serangga juga mempunyai sayap, serangga dapat pindah menghindari tempat yang ekstrim mencari tempat yang lebih sesuai.
Faktor cuaca dapat mempengaruhi segala sesuatu dalam sistem komunitas serangga anatara lain fisiologi, perilaku, dan ciri-ciri biologis lainnya baik langsung maupun tidak langsung. Faktor cuaca dapat dipisahkan menjadi unsur-unsur cuaca: suhu, kelembaban, cahaya dan pergerakan udara/angin.
1. suhu
Pengaruh suhu terhadap kehidupan serangga banyak dipelajari di negara beriklim dingin/sedang, dimana suhu selalu berubah menurut musim. Di negara tropika seperti Indonesia keadaanya berbeda, iklimnya hampir sama sehingga variasi suhu relatif kecil. Perbedaan suhu yang nyata adalah karena ketinggian. Serangga adalah organisme yang sifatnya poikilotermal sehingga suhu badan serangga banyak dipengaruhi dan mengikuti perubahan suhu udara.
Beberapa aktifitas serangga dipengaruhi oleh suhu dan kisaran suhu optimal bagi serangga bervariasi menurut spesiesnya. Secara garis besar suhu berpengaruh pada (nayar et al, 1981) kesuburan/produksi telur, laju pertumbuhan dan migrasi atau penyebarannya.
Mengukur kecepatan pertumbuhan serangga dalam hubungannya dengan suhu dapat dilakukan sengan thermal constant. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa terdapat hubungan antara perkembangan serangga dengan jumlah thermal constant biasanya dinyatakan dengan hari derajat (day degree accumulation). Walaupun kurang tepat namun sering digunakan untuk perkiraan perkembangan serngga. Potter dan Timmons melaporkan bahwa log-degree day mempunyai korelasi yang tinggi dengan kumulatif persentase tangkapan
Kematian serangga dalam hubungannya dengan suhu terutama berkaitan dengan pengaruh batas-batas ekstrim dan kisaran yang masih dapat ditahan serangga (suhu cardinal). Suhu yang sangat tinggi mempunyai pengaruh langsung terhadap denaturasi/ merusak sifat protein yang mengakibatkan serangga mati. Pada suhu rendah kematian serangga terjadi karena terbentukknya kristal es dalam sel.
2. Kelembaban
Serangga seperti juga hewan yang lain harus memperhatikan kandungan air dalam tubuhnya, akan mati bila kandungan airnya turun melewati batas toleransinya. Berkurangnya kandungan air tersebut berakibat kerdilnya pertumbuhan dan rendahnya laju metabolisme. Kandungan air dalam tubuh serangga bervariasi dengan jenis serangga, pada umumnya berkisar antara 50-90% dari berat tubuhnya. Pada serangga berkulit tubuh tebal kandungan airnya lebih rendah.
Agar dapat mempertahankan hidupnya serangga harus selaluu berusaha agar terdapat keseimbangan air yang tepat. Beberapa serangga harus dilingkungan udara yang jenuh dengan uap air sedang yang lainnya mampu menyesuaikan diri pada keadaan kering bahkan mampu menahan lapar untuk beberapa hari.
Kelembaban juga mempengaruhi sifat-sifat, kemampuan bertelur dan pertumbuhan serangga.
3. Cahaya
Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, perkembangannya dan tahan kehidupannya serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Cahaya mempengaruhi aktifitas serangga, cahaya membantu untuk mendapatkan makanan, tempat yang lebih sesuai.
Setiap jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda untuk aktifitasnya. Berdasarkan hasl di atas serangga dapat digolongkan
o Serangga diurnal yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi aktif pada siang hari
o Serangga krepskular adala serangga yang membutuhkan intensitas cahaya sedang aktif pada senja hari.
o Serangga nokturnal adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya rendah aktif pada malam hari
o
Penelitian menunjukkan bahwa cahaya bulan berpengaruh nyata pada tangkapan lampu perangkap terhadp serangga nokturnal.
4. pergerakan udara
pergerakan udara merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran kehidupan serangga. Penyebaran arah serangga kadang mengikuti arah angin.






