Tampilkan postingan dengan label agroklimatologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agroklimatologi. Tampilkan semua postingan

26.10.10

BERBURU DATA DURIAN DI KAKI GUNUNG UNGARAN


kembali membahas Durian. Maklum tergabung dalam sebuh project yang menjadikan durian sebagai objek kajiannya. yaps seperti tulisanku tentang durian jatuhan haji arief di banten, penyusuran sentra-sentra durian di Provinsi Banten,  kali ini aku dan beberapa rekan menyusuri sentra-sentra durian di Jawa Tengah. Dalam project ini kami akan melakukan kajian dan analisis se Pulau Jawa, maka mau tak mau kami harus mengelilingi pulau ini untuk mendapatakan data.


Daerah  Jawa Tengah yang kami susuri adalah  Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Boyolali, Klaten , Jepara dan purworejo.  mengulang kembali memori setahun yang lalu menelusuri hampir semua kota/kabupaten di Jawatengah. Tapi yang menarik perhatianku adalah sebuah sentra durian di daerah Gunung Pati  Semarang. Yah kawasan ini berada di kaki Gunung Ungaran.  Selama ini perkebunan durian di daerah ini dikelola secara perorangan oleh penduduk lokal setempat, tapi ada sebuah kawasan pengembangan durian yang ditata dan dikelola dengan apik. setelah mengobrol dengan salah satu petani durian di kawasan itu, diperoleh informasi bahwa kawasan itu akan dijadikan agrowisata yang dikelola dan dikembangkan oleh para inverstor dari  Jepang. Gilee..jepang tidak hanya akan mengusai dunia industri kita tapi juga mulai merambah pertanian.



Daerah Gunung Pati menurutku memang layak dijadikan salah satu kawasan wisata agro. Kesejukan udara dan sketsa gunung ungaran yang indah adalah nilai lebihnya. Nuansa pedesaan terasa sangat kental disini. Lokasinya yang tak terlalu jauh dari pusat jauh dari kota semarang, menjadikan tempat ini sebagai list destinasi wisata di kota semarang. 
 suasana pedesaan di kaki gunung ungaran 


Durian-durian di kawasan ini dikelola dengan cukup baik. Durian sudah ditanam 4-5 tahun yang lalu. diperkirakan dua sampai tigga tahun lagi, durian-durian ini akan berbuah.  Durian di anam dengan jarak tanam  5 meter,  disela-selanya ditanam buah lengkeng yang sudah berbuah ketika kami datang. 


Fakta hubungan iklim dan durian


Dari obrolan dengan beberapa petani di sentra durian di dapatkan informasi bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara produksi durian dengan curah hujan. seperti tahun 2010 ini bisa diprediksi produksi durian akan turun drastis. Yaps seperti kita tau, tahun ini di negara kita ini tak ada musim kemarau, hujan turun sepanjang tahun.  informasi ini mengalirkan banyak ide dikepalaku untuk melihat hubungan curah hujan dengan produksi durian ini secara matematis sehingga nanti akan didapatkan sebuah model hubungan curah  (intensitas dan hari hujan) hujan dan produksi baik kualitas maupun kuantitas. Tapi yang terpenting tahun ini kami baru akan menyelesaikan peta/atlas potensi pengembangan durian berdasrkan dinamika musim.

19.8.10

Melihat Perubahan Iklim dari Puncak Jaya

Puncak Jaya: Dok. Zadrak Herman

Kisah seorang peneliti Belanda Jan Cartensz, tahun 1623 mengejutkan orang-orang Eropa. Bahwa ia melihat gletser dan salju di sebuah puncak gunung Papua yang terletak pada garis Khatulistiwa. Nama Cartensz pun di abadikan sebagai nama puncak ini. Namun kini setelah 387 tahun, gletser Puncak Jaya itu bakal sirna 4-5 tahun lagi, karena perubahan iklim yang sangat ekstrem sejak tahun 1970an. Perubahan iklim sejak tahun 1970 an ini tidak hanya menyusutkan gletser di puncak jaya tapi juga di zona-zona lain.


Kisah hampir serupa juga datang dari glacilog Lonnie Thompson asal Ohio University, Amerika Serikat. Pertengahn Juni 2010 ia memimpin proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 yang dilakukan atas kerja sama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar Research Center (BPRC) The Ohio State University, beranggotakan sejumlah peneliti dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan Indonesia.

ekspedisi  Thompson

Thompson mengebor bongkahan es di puncak Jaya 4.884 meter. Puncak jaya adalah gunung tertinggi di Ocenia dan satu-satunya tempat di kawasan Asia Pasifik Tropis dengan es gletser yang dapat dipelajari oleh para ahli untuk melihat bagaimana iklim berubah selama berabad-abad. Usai mengobar bongkahan es Thompson melihat bahwa gletser di Puncak Jaya sekarat” these Glacier are dying” (reuters,2010)

Satu gletser adalah massa es yang bertahun-tahun bergerak di atas tanah. Satu gletser terbentuk pada wilayah yang akumulasi massa salju es melebihi ablasi selama bertahun-tahun. Kata gletser berasal dari bahasa latin Glacia atau glacies yang berarti es.

Es gletser adalah reservoir air segar di daratan, selain lautan sebagai reservoir terbesar air. Gletser adalah indicator iklim, perubahan permukaan laut dan menjadi sumber air. Gletser ada pada sekitar 47 negara seperti di Antartika, Patagonia Cile, Kanada, Alaska, Greenland, dan Iceland. Geletser di puncak gunung terdapat di Andes, Himalaya, rocky Mountains, Caucasus, dan Alpen.

Salju Puncak Jaya dapat dicapai peneliti Belanda Hendrik Albert Lorentz tahun 1909. Ia dipandu oleh penunjuk jalan asal dayak Kenyah, Apo Kayan, Kalimantan. Sejak itu sampai tahun 1962, tidak ada ekspedisi ke Puncak Jaya, kecuali ekspedisi yang dipimpin oleh ahli pendaki gunung asal Austria, Heinrich Harrer, bersama rekannya Temple, Kippax dan Huizenga.

Meskipun tidak ada es di puncak Jaya, namun ada beberapa gletser di lerengnya seperti Cartensz Glacier dan Northwall Firn. Letaknya di garis khatulistiwa dengan sedikit variasi suhu rata-rata pertahuan sekitar 0,5 derajat celcius sedangkan gletsernya berubah musiman.
Hasil analisis catatan sejarah gletser yang langka di garis khatulistiwa ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan besar gletser puncak Jaya sejak tahun 1850. Gletser di puncak Trikora Gunung Maoke sirna natara tahun 1936-1962. Sejak tahun 1970an data image satellite menunjukkan bahwa gletser Puncak Jaya mencair sangat cepat. Gletser Leren Mencair antara tahun 1994-2000.

Kelompok peneliti pimpinan Lonnie Thompson selama 13 hari tinggal di tiga titik gletser yang masih ada di Papua yaitu gletser Cartensz, E.Nortwall Firs dan W.Northwall Firs yang hampir habis atau hilang.Menurut pengakuan Lonnie Thompson, selama 13 hari berada di kawasan gletser Papua, gletser setempat mengalami penurunan sekitar 30 centimeter. Ia memperkirakan, setiap tahun gletser Papua hilang beberapa meter.

Lonnie Thompson mengatakan, proses pencairan es pada gletser Papua sangat cepat akibat dari faktor iklim, di mana setiap hari di kawasan itu selalu turun hujan.
"Benar kalau gletser di sini kemungkinan akan cepat habis karena setiap hari turun hujan. Hujan merupakan salah satu faktor cuaca yang paling cepat menghabiskan gletser," katanya.
Selama berada di kawasan gletser Papua, Lonnie dan rekan-rekannya mengambil sampel 88 meter Ice Core dengan mengebor enam inti es sampai dasar es, lalu dipotong-potong menjadi satu meter dan dimasukan ke dalam freezer untuk diteliti lebih lanjut di Ohio State University Amerika Serikat.

Thompson telah memimpin 57 misi riset gletser pada 16 negara dari Cina sampai Peru. Namun gletser di Puncak Jaya, sangt istimewa baginya. Karena gletser ini berada sepanjang tepi lautan pasifik yang paling panas di dunia dan dapat member petunjuk tentang pola cuaca kawasn yang merupakan misiing link yang belum dipelajari. Dari kawasn inilah asal badai elnino, pemanasn periodic di timur dan tengah pasifik dapat bergerak ke Asia Tenggara dan Australia sehingga mempengaruhi musim Glester puncak Jaya adalah satu-satunya arsip tentang kisah fenomena khatulistiwa. Es penutup sebagian besar puncak Jaya ribuan tahun silam, kini hanya seluas 1 mil persegi laurnya dan 32 yar kedalamannya. Gletser dunia telah menyusut sepanjang Alaska, Alpen, Andes dan zona lainnya.
Sample es yang di ambil dikirim ke gudang dingin di Columbus, Ohio. Ahli gletser akan menganalisa lapisan-lapisan e situ. Serpihan debu yang jatuh musiman memudahkan peneliti menghitung tahun-tahun. Isotop-isotop oksigen yang terperangkap di lapisan es membantu peneliti memamhami cuaca. Tim Thompson berharap dapat m menemukan abu vulkanik dari letusan gunung Karakatau dan gunung Tambora.

yeli sarvina dari berbagai sumber,
1. www. antaranews.com
2. Fierra setyawan, M.Si.  Research Program on Puncak Jaya ice Core Climate History: Premilinary result, disampaikan dalam International Symposium on equatorial Monson System 28-29 Juli 2010
3. Dinas Kehutanan Papua

12.8.10

Penyimpangan Iklim 2010

“Sekarang musim apa mba?’, “ Kenapa hujan di musim kemarau ? “, “ Ada apa dengan musim di Indonesia Saat ini?”. Itulah tiga pertanyaan yang banyak ditanyakan ketika aku berada di pameran Pekan Serelia Nasional I di Maros akhir pekan lalu. Wajarlah mereka menanyakan itu padaku , maklum aku berdiri di bawah sebuah banner bertuliskan iklim. Tell the truth, pertanyan ini tak hanya menjadi pertanyaan masyarakat, tapi pun di pertanyakan oleh sebagian besar climatologist dan meteorologist di dunia ini. Fenomena sampai Juli 2010, di luar prakiraan. Ini lah salah satu indicator bahwa saat ini pola iklim telah berubah sehingga sangat sulit untuk diprediksi. Frekwensi Anomali dan kondisi ekstrim semakin sering terjadi.

Sampai Juli 2010 ini curah hujan masih sangat tinggi di sebagian wilayah Indonesia. BMKG melalui info berjalan di TV One menyebutkan pada bulan Juli ini tercatat 150 kali Kejadian hujan Ekstrim. Tapi sayang kita tidak bisa mengetahui dimana hujan ekstrim itu terjadi dan berapa intensitas keekstrimannya. Info terakhir mengenai hujan ekstrim di web site resmi BMKG yang tersedia adalah bulan Juni. Saya sendiri memberikan apresiasi bagi teman-teman di Stasiun Klimatologi Pondok Betung yang membahas setiap kejadian iklim ekstrim di wilayah kerjanya dan di publish di websitenya. Tapi di website stasiun klimatologi Bogor , dimana saya berada, keadaan tersebut tidak dibahas. Harapan saya dan tentu harapan sebagian masyarakat Indonesia, setiap stasiun UPT BMKG melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Staklim Pondok Betung. Membahas iklim ke kinian di web site resminya. Sehingga masyarakat mendapatkan info yang tepat dari orang yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan dan dibahas secara spesifik lokasi.

Sebenarnya ada beberapa lembaga lain yang melakukan pemantaun iklim di Indonesia, Tapi jika hasil pantaun ini di publish ke kalangan umum maka menyalahin UU BMKG. Sehingga BMKG benar-benar diharapkan dapat memberikan infomasi dan ulasan lebih akurat dan lebih cepat (real time).

Prakiraan musim Kemarau 2010

Pada kompas edisi Rabu, 10 Maret 2010 pada sebuah berita bertajuk “El Nino dan Tiga Indikator Pengaruhi Musim Kemarau” disebutkan bahwa hasil pemantauan El Nino pada akhir Februari 2010 masih berlangsung dengan intensitas moderat. Sementara prediksi Maret hingga Juni 2010, El Nino melemah hingga berubah netral. Nilai indeks Dipole Mode pada Februari 2010 berkisar antara minus 0,4 dan 0,4. Ini mengindikasikan pergerakan uap air Samudra Hindia dari arah selatan India atau timur Afrika menuju wilayah Indonesia dalam intensitas normal. Intensitas Madden Julian Oscillation (MJO) pada Februari 2010 terpantau 0,8 yang terus melemah hingga minggu pertama Maret 2010. Kondisi demikian mengindikasikan tidak ada penambahan awan hujan. ”Kesimpulannya, kemarau akan normal,” kata Sri Woro. Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Humas BMKG Edison Gurning, musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia—sebagian besar di wilayah Jawa Timur—mulai lebih awal.

Sebuah sumber lain menyebutkan: El Nino telah terjadi sejak Juni 2009, diprediksi berlangsung hingga pertengahan musim kemarau 2010 dan cenderung menyebabkan musim kemarau datang lebih cepat, meskipun demikian intensitasnya lemah-moderat karena lautan di sekitar wilayah Indonesia masih cukup hangat. Sampai akhir Januari 2010 perpindahan massa udara dan uap air telah terjadi dari wilayah Indonesia menuju ke samudera pasifik equator. Ini terlihat dari pola angin udara atas paras 850 mb. Model iklim “Decadal Prediction System” yang dikembangkan Meteorologi Office, Inggris memprakirakan tahun 2010 merupakan tahun dengan suhu global terpanas dalam sejarah meteorologi dunia, melampaui suhu panas El Nino 1998.

Dalam buku prakiraan Musim Kemarau Indonesia 2010 yang dikeluarkan BMKG pada Maret 2010, untuk pulau Jawa disebutkan sebanyak 27 ZOM, awal musim kemarau (MK) antara dasarian 1-III April 2010, 53 ZOM, awal MK antara dasarian I-III Mei 2010 dan 14 ZOM, Awal MK dasarian I-III Juni 2010. Prakiraan ini pun pada beberapa bulan berikutnya di Update bahwa awal MK akan jatuh pada pertengahan dan akhir Juli 2010. Tapi realitas dilapangan Musim hujan masih berlansung hingga awal agustus ini.

peta awal MK Jabar-Banten_DKI

Kondisi Saat ini.
Secara sederhana hasil prakiraan musim kemarau tahun 2010 bisa dikatakan tidak tepat . Sampai saat ini hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Bulan Juni dan Juli biasanya adalah puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia terutama di daerah monsunal. Tapi tahun 2010 menunjukkan penyimpangan. Mengapa ini terjadi dan apa penyebabnya? Berikut saya kutip hasil Jumpa pers BMKG tentang iklim ekstrim dan penyimpangan iklim pada 11 Agustus 2010

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan,cuaca yang terjadi sepanjang tahun ini merupakan terekstrem selama 12 tahun terakhir.
Penyimpangan musim kemarau serta ditandai memanasnya suhu permukaan laut hampir di seluruh wilayah Indonesia merupakan bukti ekstremitas cuaca tahun ini. “Kondisi seperti ini mirip 1998 tapi intensitasnya jauh lebih tinggi. Bisa dikatakan,2010 ini unik sekali karena lebih ekstrem,”kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Soeroso Hadiyanto di Jakarta kemarin. Menurut Soeroso,fenomena ini bukan terjadi secara periodik dalam 12 tahun sebab sebelum 1998 tidak terjadi cuaca seekstrem 2010. menurut dia, hal itu terjadi tergantung fenomena global yaitu arah angin maupun curah hujan.

“Saya tidak bisa mengatakan kalau ini sebuah fenomena periodik karena sangat tergantung dari tekanan udara, curah hujan, dan lainnya,” tambahnya. Berdasarkan hasil pantauan BMKG maupun sejumlah badan cuaca seperti NOAA milik Amerika Serikat,BOM Australia, dan Jamsfe Jepang,prediksi El Nino atau La Nina menunjukkan indeks negatif. Pada Agustus hingga September 2010 diprediksi terjadi La Nina moderat sedangkan pada Oktober 2010 hingga Januari 2011 berupa La Nina kuat.

“Saat ini, pada Agustus 2010 terjadi fenomena global La Nina dengan intensitas moderat. Dampak El Nino sangat memengaruhi suhu perairan di Indonesia,” katanya. Kondisi tersebut memengaruhi cuaca pada Agustus 2010 yaitu memasuki masa pancaroba atau transisi dari musim kemarau ke musim hujan.Pada masa tersebut terjadi kemarau namun disertai dengan hujan atau dinamakan kemarau basah. “Mungkin menjadi pertanyaan bagi masyarakat kenapa musim kemarau juga terjadi hujan.Hal ini karena memasuki masa pancaroba. Meskipun kemarau, tapi terjadi hujan,” ujarnya.

Faktor lain penyebab hujanterusmenerusdengan curah hujan ekstrem yaitu di atas 150 mm/hari karena memanasnya suhu permukaan laut yang berdampak pada tingginya intensitas penguapan sehingga membentuk awan dan menyebabkan hujan. Di sisi lain,BMKG memprediksi puncak musim hujan di Indonesia akan terjadi pada Oktober mendatang. Soeroso mengatakan, sebanyak 42,3% daerah di Indonesia akan mengalami hujan. “Musim hujan akan mulai masuk pada September namun pada bulan tersebut hanya 19,1% daerah yang akan mengalami hujan. Selanjutnya, puncak musim hujan akan terjadi pada Oktober dengan 42,3%, sedangkan pada November terjadi 33,3%,”jelasnya.

Dia menjelaskan,pada Agustus hingga September mendatang dipastikan akan terjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, serta gelombang tinggi. Kondisi tersebut menjadi bagian yang harus diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Sejak Juli lalu BMKG sudah mencatat terjadinya hujan ekstrem sebanyak 125 kali di beberapa tempat di Indonesia. Sedangkan pada Agustus, meski baru memasuki 10 hari pertama,BMKG sudah mencatat 52 hujan ekstrem yang terjadi. “Juli lalu hujan ekstrem terjadi sebanyak satu kali di Jakarta, sedangkan Agustus ini belum terjadi sama sekali,” paparnya.

Dengan adanya cuaca ekstrem seperti ini, BMKG kembali mengingatkan kepada masyarakat di wilayah selatan Pulau Jawa karena di kawasan ini gelombang yang terjadi bisa mencapai 2,5 hingga 4 meter. Sedangkan di wilayah utara Jawa, gelombang akan terjadi 2,5 hingga 3 meter.“Karenanya,para awak kapal dari Surabaya menuju Kalimantan harus meningkatkan kewaspadaan mereka,”tukasnya. Sedangkan untuk saat ini hingga 16 Agustus mendatang, beberapa wilayahyangakanmengalamihujan adalah Aceh,Sumatera Utara,Riau, Lampung,Jawa Barat,DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan sekitar Kepulauan Seram.

“Daerah-daerah itu masih akan mengalami hujan karenanya tetap harus waspada,” tandas Soeroso. Analis Cuaca dan Iklim BMKG Yogyakarta Sigit Hadi Prakoso mengatakan, musim kemarau tahun ini akan berlangsung singkat, sekitar empat bulan, dimulai awal Juni hingga akhir September. Dari Agustus hingga awal September merupakan puncak kemarau. “Meski puncak kemarau, tapi kondisinya cerah berawan. Ada awandilangittapibukanmendung,” kata Sigit saat dihubungi kemarin terkait kondisi cuaca di Yogyakarta.

Menurut Sigit,masyarakat tidak perlu khawatir dengan kondisi cuaca yang terjadi selama bulan Ramadan. Sebab, cuacanya masih dalam kondisi normal sehingga tidak akan mengakibatkan dehidrasi akibat suhu yang panas.Cuaca dikatakan ekstrem jika suhunya melebihi35derajatCelsius.Meskidi puncak musim kemarau, masih dimungkinkan hujan turun dengan intensitas rendah. (megiza/ abdul malik mubarak/ant)
Source:Seputar-indonesia

28.4.10

PENGALAMAN KEDUA MENJADI PEMBICARA IKLIM

Kesempatan  tak datang dua kali, itulah statemen yang muncul dalam benakku ketika aku di minta hadir sebagai pembicara dalam acara "bimbingan teknis desain prasarana irigasi dan validasi data cuaca dan iklim, bagi kepala UPTD dan PTCD se Kabupaten Sukabumi yang diadakan oleh Dinas pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sukabumi. Tapi sisi lain batinku berteriak, aku diinformasikan pukul 10.00 Wib dan harus hadir dalam acara tersebut Pukul 13.00 Wib di Hotel Pondok Asri, Selabintana Sukabumi. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku, masalah materi dan slide presentasi yang belum di buat, perjalanan Bogor-Sukabumi yang tidak bisa diprediksi karena merupakan jalur macet. Tapi lagi-lagi Pak Aris meyakinkan aku bisa, bismilah tawaran penuh tantangan ini ku terima.

Pukul 10.30 bersama mobil dan driver dari kantor, serta mengajak salah satu mahasiswa dari universitas Gorontalo yang sedang PL di kantorku, akupun berangkat. Waktu perjalananlah yang kugunakan untuk menyusun materi dan slide presentasi yang bertemakan  "Upaya antisipasi dan Mitigasi Perubahan Iklim pada sektor Pertanian". Materi ini kususun berdasarkan saran-saran dari pak Dr. Aris Pramudia. Pak Aris makasih..makasih atas segala bimbingan mu....


Benar seperti dugaan, perjalanan ini pun menemukan titik buntu he..macet madsudnya. pukul 12.00 kami masih di Ciawi. Berada di Sukabumi pukul 13.00 adalah sebuah kemustahilan. Pulang kembali kekantor pun tak mungkin. Menghubungi panitia, nga punya no contac, karena semua mendadak jadi tak sempat berfikir tentang itu. Finally, Kami sampai ditempat acara pukul 14.30..ho..ho.. 1,5 jam molor dari jadwal yang telah ditetapkan. Beruntunglah panitia berinisiatif memajukan jadwal. pembicara yang seharusnya berbicara di sesi terakhir, mengisi jadwalku. dan akhirnya aku menjadi pembicara disesi terakhir.
Alhamdulilah presentasi kusampaikan dengan lancar.pada sesi  diskusi ada beberapa pertanyaan. Yah kucoba menjawab sesuai dengan kemampuanku. Pengalaman-pengalaman yang menjadi bagian-bagian kecil dari mozaik hidupku. sungguh menjadi penyemangat dan pembuktian bahwa aku bisa..he..siap menunggu aksi-aksi dan karya-karya berikutnya...
semoga aku bisa memberikan manfaat untuk orang lain...amin

20.11.09

PENGALAMAN PERTAMA MENJADI PEMBICARA TENTANG IKLIM

Selasa Malam tanggal 17 November 2009, ketika hendak keluar dari ruang sidang simposium PERHIMPI,  Pak Dr. Aris Pramudia memanggilku. Setelah kuhampiri, ternyata pak aris memintaku untuk menggantikan beliau menjadi pembicara pada rapat tahunan Dewan Teh Nasional Indonesia Di Bandung. Aku kaget, karena ini  menjadi pembicara  bo...dan saat itu aku langsung menyatakan ,"aku belum bisa pak". Tapi pak Aris meyakinkan ku bahwa aku bisa menjadi pembicara dalam acara itu. Setelah berfikir sejenak, kesempatan takkan pernah datang untuk kedua kalinya, lalu dengan keberanian yang dipaksakan akupun mengatakan ia.


Pak Arispun menyampaikan hal-hal yang nanti harus aku presentasikan. dan memperlihatkan beberapa slide yang telah beliau buat. lalu aku pun memohon kepada pak aris agar  jam 11 malam slide yang telah jadi dikirim ke emailku. Agar aku bisa mempelajarinya lebih dulu sebelum presentasi. Pak Aris langsung menyatakan ketidaksanggupannya menyelesaikan slidenya malam itu. tapi berjanji akan mengirimkannya esok paginya.


Malamnya sesampai dirumah semua persiapan aku lakukan. termasuk membaca kembali beberapa buku, dan mendownload beberapa hal tentang tanaman teh. Beruntunglah kameraku menggunakan macro fokus sehingga teori -teori  di beberapa buku bisa kufoto halaman demi halamannya, dan bisa kubaca dalam perjalanan menuju Bandung. Jadi aku tidak perlu lagi memboyong buku-buku yang tebal-tebal itu."Hmmmm teknologi itu benar-benar luar biasa telah membantu ku, my camera, thanks very much" he...


Perjalanan menuju Bandung
Tepat jam 5 pagi akupun dijemput oleh Travel Cipaganti. Travel inilah yang akan mengantarkan ku ke Hotel Horison, Buah Batu Bandung. Di dalam travel ini pulalah aku akhirnya mendowload email slide presentasi yang dikirim oleh pak aris. Untung aku membawa modem,sehingga slide-slide itu segera kupelajari.


Pengalaman Pertama itu



 Bersama dengan dua pembicara lainnya akhirnya akupun hadir di depan para  pengurus/anggota dewan teh nasional, para pengusaha-pengusaha teh dan pihak terkait lainnya.  Benar-benar semuanya serasa mimpi.  Pengalaman pertama sebagai pembicara tentang prediksi iklim dan hubungannya dengan tanaman teh, langsung didepan para pejabat dan didepan direktur berbagai perusahaan teh nasional.

Pembicara pertama adalah direktur PTPN yang membawakan materi tentang rencana dan taget PTPN kedepan. pembicara kedua adalah dari BPOM yang membawakan materi tentang prosedur pengurusan sertifikasi pangan. Dan aku pun membawakan materi tentang iklim tentunya.

kata pembuka 

Inilah kata pembuka yang kusampaikan hari itu, benar-benar takkan terlupakan
Bapakdan Ibu Pengurus dan Anggota Dewan Teh Nasional yang saya Hormati
Perkenankan saya menyampaikan permintaan maaf dari bapak Dr. Aris yang tidak bisa hadir hari ini di tengah bapak/ dam ibu semua karena hari ini beliau harus mengikuti rapat dan arahan dari wakil menteri.  AKhirnya sayalah, yang masih seumur jagung ini yang hadir di depan Bapak/ dan Ibu semua.


Bapak dan Ibu semua, rasanya benar-benar sebuah mimpi bagi saya bisa berdiri di depan ibu dan bapak. Saya belum menjadi apa-apa harus berdiri ditengah bapak dan ibu yang kaya pengalaman dan benar-benar luar biasa. Tapi apapun itu inilah tantangan dan pengalaman berharga bagi saya. Mohon maaf jika apa yang saya sampaikan jauh dari sempurna.




Hari itu pun terlewati
Setelah selesai presentasi dan diskusi, benar-benar plong dan lega rasanya. Sebuah Sukses besar untuk diriku pun telah kuukir hari ini sambil berkata, " hari ini pun terlewati". Bahkan ketika makan siang aku pun dihampiri oleh beberapa pengusaha teh menanyakan banyak hal tentang iklim kepadaku. yah kujawab semampuku. dan Banyak juga dari mereka yang  meminta slide presentasi dan kartu namaku.

Pulang akhirnya aku pun dapat tumpangan dari seorang ibu-ibu peserta rapat tahunan dewan teh itu. Aku pun bercerita panjang lebar dengan si ibu. Banyak hal yang kami diskusikan, pun dengan gaya bicaraku yang apa adanya. Tiba-tiba si ibu memberiku kartu nama, dari situ aku baru tau ternyata si ibu adalah General  Manajer perusahaan yang menaungi teh botol sosro. Pun Hari ini tak menyangka bisa berinteraksi dengan seorang  GM. Dan si Ibupun  menanyakan, "punya teman nga yang bisa marketing, kalo punya langsung kirim lamaran via email saya". "Yah bu nanti akan ku cuba tanya", jawabku

13.10.09

REALITAS DATA IKLIM SAAT INI

Berbicara iklim maka kita akan bebicara dimensi waktu yang panjang dan dimensi keruangan/spasial yang sangat besar pula. Data panjang unsur-unsur iklim yang juga merupakan unsur cuaca menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. Semakin panjang data yang tersedia maka diyakini akan menghasilkan analisis iklim yang semakin baik pula. Sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang iklim dan cuaca, saya sangat sedih dan prihatin melihat record data iklim di Indonesia. Bahkan untuk mendapatkan 30 tahun data terakhirpun kadang terlalu sulit. ini tentu berbeda dengan negara-negara yang memang aware terhadap iklim dan cuacanya, mereka punya record data yang sangat panjang bahkan ratusan tahun. Nah lo?

Di indonesia tercatat beberapa lembaga yang terlibat dan berperan dalam dunia iklim dan cuaca diantaranya:

1. BMKG, ini jelas. karena memang BMKG adalah lembaga yang telah diberikan tugas pokok dan fungsi untuk itu. BMKG berkembang sangat pesat setelah ia menjadi lembaga pemerintah non departemen, keluar dari struktur Departemen Perhubungan. Dulu mungkin banyak yang bertanya apa itu BMG dan apa itu meteorologi. Tapi saat ini coba tanya siapa yang tak kenal BMKG? he...apalagi kalau ada bencana banjir, kekeringan, gempa, badai, maka informasi dari lembaga ini paling dicari. terlepas dari akurat atau tidaknya informasi tersebut. Tentu ini menjadi tantangan bagi lembaga ini.

2. LAPAN. disamping BMKG Lapan pun mempunya record data iklim. bahkan lembaga ini pun mengeluarkan prediksi cuaca harian. Tapi metode yang digunakan berbeda dengan BMKG. Sesuai dengan tugas dan fungsinya juga sepertinya mereka lebih banyak menggunakan data dari citra satelit dan inderaja.

3. Depertemen Pekerjaan Umum. Departemen pekerjaan umum juga memiliki stasiun cuaca dan stasiun hujan yang menyebar di seluruh indonesia. Data-data ini tentu sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air yang menjadi tanggung jawabnya.

4. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian juga memiliki stasiun iklim dan pos hujan yang menyebar di sentra-sentra pertanian di Indonesia. Informasi ini sangat penting untuk penentuan waktu tanam, pola tanam, kalender tanam, perkiraan hama dan penyakit dll

5. Perguruan Tinggi. Beberapa perguruan tinggi yang juga mempunyai record data iklim dan cuaca adalah ITB dan IPB. Yups inilah dua perguruan tinggi yang mempunyai jurusan Meteorology. Record data mereka ini tentu lebih banyak digunakan untuk proses belajar

Realitas Stasiun Cuaca saat ini.

Pemerintah indonesia sejak dulu kala (kayak lagu...he..) telah menghabiskan anggaran yang lumayan besar untuk pengadaaan stasiun iklim maupun pos hujan. bahkan kadang itupun didapat dari hibah luar negeri yang itu artinya adalah hutang bangsa ini. Tapi sayang stasiun yang ada tidak dirawat dan dijaga. akibatnya stasiun tak lagi punya record data. informasi dan data hilang dan terputus tentu ini akan mempengaruhi hasil analisis iklim.

Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi adalah adanya beberapa pihak yang mencuri beberapa komponen stasiun cuaca. Konon katanya adalah masyarakat sekitarnya untuk dijual diloakan dengan harga yang tentu bisa kita tebak..Sayang sekali....padahal biaya yang dikeluarkan sangat besar.
Kondisi sebuah stasium iklim,
Hasil Survey lokasi AWS di Indramayu Jawa Barat


AWS Telemetri

Sebelum lebaran kemaren saya, beberapa orang balitklimat dan pak budi, perekayasa dari BPPT melakukan survey untuk pemasangan AWS telemetri, yaitu AWS yang datanya bisa di akses setiap jam melalui telepon gengam. AWS ini diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan tentang data iklim dan cuaca. Kegiatan ini dibiayai dari SINTA (sinergisitas penelitian Pertanian dan DikTI). Kami mensurvey daerah Indramayu. Daerah ini menjadi titik yang dipilih di Jawa Barat. Selanjutnya akan dilakukan di Jawa Tengah, Banten dan Jawa Timur. Bahkan dalam survey ke Jawa tengah kemaren, melibatkan tim dari BMKG.


BMKG sendiri pun telah memasang banyak AWS. Tapi sebarannya masih dominan di pulau jawa. AWS ini menghasilkan data perjam yang bisa diakses oleh semua orang dengan internet dengan alamat http://aws-online.bmg.go.id/bmg/aws/. AWS ini belum menggunakan prinsip telemetri.

9.6.09

METODE PERAMALAN OPT DENGAN MENGGUNAKAN UNSUR IKLIM

Kondisi cuaca yang tidak baik akan berpengaruh secara langsung (banjir, kekeringan) dan tidak langsung ( meledaknya populsai hama dan penyakit) akan mempengaruhi hasil tanaman secara tajam. Oleh karena itu menurut Coakelay, 1988 pemahaman terhadap peranan iklim dan cuaca terhadap perkembangan hama dan penyakit sangat penting dalam pengelolaan tanaman sehingga dapat berproduksi secara optimal.

Tersedinya inventarisasi data iklim dan OPT hasil pemgamatan jangka panjang sangat bermanfaat dalam pengembangan model peramalan. Adanya data ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana keterkaitan antara cuaca/iklim terhadap perkembangan hama dan penyakit. Salah satu teknik analisis yang digunakan adalah teknik yang dikembangkan Coakley (1990). Tahapan analisis adalah:

  1. Tentukan periode musim tanam
  2. tentukan fase tanaman yang peka terhadap serangan OPT
  3. susun indeks kerusakan tanaman dan indeks iklim selama periode yang dijadikan perhatian menurut segmen waktu yang ditentukan
  4. lakukan analasis korelasi antara indeks kerusakan tanaman akibat serangan organsime pengganggu tanaman tertentu denga indeks ikllim untuk menentukan peubah iklim yang pentimng dlam penentuan perkembangan OPT.

penyusunan indeks kerusakan tanaman dan indeks iklim dilakukan menurut segmen waktu yang telah ditentukan. Penentuna panjang segmen waktu dapat didasarkan kepada perkiraan lamanya fase pertumbuhan yang sensitive terhadap serangan OPT. setelah segmen waktu di buat maka lakukan perhitungan indeks iklim dan indeks OPT pada masing-masing segmen setiap tahun dan lakukan analaisis korelasi.

2.6.09

NERACA AIR DAN MANFAATNYA DALAM PERTANIAN


Pada suatu areal pertanian penyediaan air tanaman berasal dari curah hujan dan irigasi. Sedangkan kehilangan air dapat berupa drainase, limpasan permukaan, evaporasi, dan transpirasi. Sebagian air disimpan sebagai cadangan makanan dalam tanah. Keseluruhan masukan (input) dan keluaran (output) air dapat dirumuskan sebagai neraca air (Handoko, 1994).


Menurut Hillel (1972) neraca air lahan sebagai rincian tentang masukan (input), keluaran (output) dan perubahan simpanan air yang terdapat pada suatu lingkungan tertentu selama periode waktu tertentu. Nasir (1999) mengemukakan bahwa analisis neraca air lahan memerlukan input data curah hujan (CH), evapotranspirasi potensial (ETP), kandungan air tanah pada kapasitas lapang (KL), dan kandungan air pada titik layu permanen (TLP).


Perhitungan neraca air lahan merupakan salah satu informasi penting untuk menentukan langkah kegiatan usaha tani dari hari ke hari. Hal ini disebabkan karena tingkat ketersediaan air mampu mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Jika tanaman pernah mengalami tekanan, maka pertumbuhan dan produksinya akan turun. Penurunan ini akan semakin tajam jika kejadian iklim dan cuaca yang mengganggu terjadi pada saat fase pertumbuhan tanaman peka terhadap ketersediaan air. Peristiwa tersebut jika terjadi pada intensitas yang tinggi dan daerah yang luas akan menurunkan produksi dalam jumlah yang besar.


Menurut Nasir (2002) berdasarkan cakupan ruang dan manfaat untuk perencanaan pertanian, disusun neraca air agroklimat dengan tiga model analisis sebagai berikut :

1. Neraca air umum, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama air secara umum.

2. Neraca air lahan, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama dinamika kadar air tanah untuk perencanaan pola tanam secara umum.

3. Neraca air tanaman, untuk mengetahui kondisi agroklimatik terutama dinamika kadar air tanah dan penggunaan air tanaman untuk perencanaan tanaman tiap kultivar.


Analisis pada neraca air lahan berguna terutama untuk penggunaan dalam pertanian secara umum. Nasir (2002) mengatakan secara umum manfaat neraca air lahan terutama untuk :

  1. Mengetahui kondisi agroklimat terutama dari segi kondisi air
  2. Mengetahui periode musim kemarau dan musim hujan berdasarkan perimbangan antara hujan dan ETP.
  3. Memilih jenis tanaman dan mengatur jadwal tanam dan panen serta mengatur kombinasi tanaman tumpang sari bila diperlukan.
  4. Mengatur pemberian air irigasi baik jumlah maupun waktu sesuai dengan keperluan. Informasi terpenting dari neraca air lahan adalah untuk mengetahui dinamika perubahan kadar air tanah sehingga berguna untuk menyusun strategi pengelolaan usaha tani tersebut.

Untuk menyederhanakan sistem neraca air yang terjadi di lapang maka digunakanlah suatu persamaan. Persamaan neraca air yang umum pada suatu lahan pertanian adalah sebagai berikut:


CH + I = D + Ronoff+ ETP+ Δ KAT.........(1)

Dimana:

CH :Curah hujan

I :Irigasi

D :Drainase

Runoff :Aliran permukaan

ETP :Evapotranspirasi

∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah


Thornhtwaite dan Mather (1957) membuat persamaan yang sederhana menggunakan input hanya dari curah hujan saja. Pada metode ini semua aliran masuk dan keluar air serta nilai kapasitas cadangan air tanah pada lokasi dengan kondisi tanaman tertentu digunakan untuk mendapatkan besarnya kadar air tanah, kehilangan air, surplus, dan defisit.


CH=ETP+∆ KAT+Ro………...(2)

Dimana:

CH :Curah hujan

ETP :Evapotranspirasi

∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah

Ro :Aliran permukaan


Sedangkan persamaan neraca air menurut Chang (1974) sebagai berikut :

CH+ I = ETP+∆ KAT + Pc +Ro……(3)

Dimana:

CH :Curah hujan

I :Irigasi

Ro :Aliran permukaan

ETP :Evapotranspirasi

∆ KAT :Perubahan kandungan air tanah

Pc :Perkolasi


Prosedur perhitungan neraca air menurut Thornthwaite and Mather (1957) menggunakan sistem tata buku yaitu dengan membuat sebuah tabel dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mengisi curah hujan (CH)

2. Mengisi kolom evapotranspirasi potensial (ETP)

3. APML (Accumulation of Potensial Water Loss).

Nilai APWL merupakan akumulasi CH-ETP dari waktu ke waktu. Akumulasi air yang hilang secara potensial ini akan menentukan kandungan air tanah pada saat curah hujan lebih kecil dari evapotranspirasi potensial.

4. Kadar air tanah.

Kandungan air tanah dapat maksimum pada suatu periode dimana CH-ETP bernilai positif. Sedangkan apabila CH-ETP bernilai negatif maka kandungan air tanah akan ditentukan:

AT= KL- TLP

5. dKAT (Perubahan Kandungan Air Tanah)

Perubahan kandungan air tanah merupakan selisih kandungan air tanah antara satu periode dengan periode sebelumnya secara berurutan. Nilai dKAT yang positif menunjukkan terjadinya penambahan kandungan air tanah. Penambahan ini akan terhenti setelah kapasitas lapang terpenuhi.

6. ETA (Evapotranspirasi aktual)

Bila curah hujan lebih besar dari nilai evapotranspirasi maka nilai ETA sama dengan nilai ETP. Namun bila curah hujan jauh lebih kecil dari nilai ETP maka tanah akan mulai mengering dan ETA menjadi lebih rendah dari nilai potensialnya. Pada kondisi ini maka nilai ETA akan sama dengan nilai CH+dKAT.

7. Defisit

Defisit berarti berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial sehingga defisit air adalah perbedaan atau selisih antara nilai ETP dan ETA. Nilai defisit merupakan jumlah air yang perlu ditambahkan untuk memenuhi keperluan ETP tanaman.

8. Surplus

Setelah simpan air mencapai kapasitas lapang maka kelebihan curah hujan akan dihitung sebagai surplus. Air ini merupakan kelebihan setelah air tanah terisi kembali. Dengan demikian surplus dihitung sebagai nilai curah hujan dikurangi dengan nilai ETP dan perubahan kadar air tanah (CH-ETP-dKAT)


DAFTAR PUSTAKA

Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. PT. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Hillel,D. 1972. The Field Water Balanced and Water Use Efesiensy. In: D hillel (ed) Optimizing the soil physical Enviroment Toward Greater Crop Yields. Academic Press. New York.

Nasir, A.2002. Neraca Air Agroklimatik. Makalah Pelatihan Bimbingan Pengamanan Tanaman Pangan dan Bencana Alam.Bogor







1.6.09

PENGUJIAN KESESUAIN IKLIM DAN TANAMAN MENGGUNAKAN ANALISIS KLIMOGRAM

Tanaman membutuhkan kondisi iklim yang cocok (optimal ) untuk tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan produksi yang diharapkan. Maka perlu berbagai cara dilakukan untuk menguji dan mengetahui kesesuian iklim dan tanaman pada suatu wilayah. Diantaranya adalah dengan mengumpulkan data tentang kebutuhan fisiologi tanaman terhadap berbagai factor lingkungan iklim.

Salah satu cara yang dilakukan untuk mengentahui kesesuain iklim dan tanaman adalah dengan analis klimogram dari data empiris. Dasar analisisnya adalah dengan mencari data iklim dari sentra produksi tamanan yang akan dikembangkan, terutama data iklim yang merupakan factor pengendali utama bagi pertumbuhan, perkembang dan produksi suatu tanaman.


Klimogram merupakan grafik yang menunjukkan interaksi (perpotongan) antara dua buah unsur iklim rata-rata bulanan dalam satu siklus (setahun). Sebagai contoh untuk membuat grafik klimogram tanaman tebu dapat digunakan unsur iklim suhu udara dan curah hujan. Kedua unsur iklim tersebut dipilih karena diantara unsur yang lain yang merupakan unsur yang paling besar pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman tebu.


Klimogram dibuat untuk menguji apakah kondi suatu daerah sesuai untuk pengembangan suatu tanaman dengan bahan kultivar dan pengelolaan yang sama dengan daerah-daerah yang merupakan sentra/pusat produksi daerah tanaman tersebut. Suatu daerah yang merupakan sentra produksi dalam jangka waktu yang panjang mengindikasikan bahwa daerah tersebut secara iklim cocok untuk pertanaman tersebut atau dengan kata lain kondisi iklim berada pada titik optimum sehingga menunjang pertumbugan dan perkembangan tanaman.


Klimogram juga dapat di buat untuk dijadikan pola penentu early warning system dalam bidang hama dan penyakit. Klimogram dapat digunakan pada skala titik/daerah ataupun wilayah. Hasil analisis klimogram nantinya dapat digunakan untuk membuat peta potensi agroklimat suatu wilayah.

Selain digunakan pada bidang pertanian dan perkebunan, klimogram juga dapat digunakan pada bidang peternakan. Sebagian besar hewan ternak memerlukan kondisi unsur-unsur iklim yang optimum untuk berkembang biak dan berproduksi. Dengan mengasumsikan bahwa benih, panen dan perlakuan berada pada kondisi optimum.


Tahapan dalam pembuatan klimogram adalah:

  1. Tentukan tanaman pertanian atau perkebunan yang akan dicari kesesuainnya
  2. Carilah tiga atau lebih daerah yang telah menjadi sentra produksi selama lebih dari sepuluh tahun dari tanaman yang akan ditentukan.
  3. Tentukan unsur iklim yang paling berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman tersebut
  4. lakukan inventarisasi data iklim harian terutama unsur iklim yang paling berpengaruh selama minimal 10 tahun.
  5. Kemudian plotkan dalam bentuk grafik garis yang saling berhungan dari bulan januari sampai bulan desember
  6. lakukan overlay antara grafik klimogram daerah sentra produksi dengan grafik daerah yang diuji
  7. dari hasil overlay tersebut dapat dilihat bahwa jika antara grafik klimogram sentra produksi dengan grafik daerah yang diuji berhimpit maka daerah yang diuji tersebut scara iklim cocok dikembangkan untuk budidaya tanaman tersebut.

CUACA DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN


Cuaca dapat mempengaruhi setiap organisme di alam ini tidak terkecuali organisme pengganggu tanaman. Proses kehidupan yang penting seperti pertumbuhan, perkembangan, daya tahan hidup dan juga perilakunya secara langsung ataupun tidak langsung dipengarahi oleh perubahan lingkungan.


Penyebaran hewan dan tumbuhan di alam ini bukanlah terjadi secara kebetulan namun sebagai hasil interaksi dari pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadapnya. Sebaran geografis suatu organisme antara lain dibatasi oleh faktor-faktor fisik yaitu suhu, kelembaban udara, cahaya dan tersedianya air.


Perkembangan hama dan penyakit mempunyai hubungan yang erat dengan keadaan lingkungan habitatnya. Keadaan lingkungan selalu berubah-ubah, organisme penggangu yang hidup di dalamnyapun selalu berubah menyesuaikan diri.


Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua (Little, 1971) yaitu:

1. Faktor dalam adalah faktor yang berada dalam tubuh orgnisme seperti organ tubuh dan keadaan fisiologisnya.

2. Faktor luar adalah faktor yang berada di luar tubuh organisme yang mempengaruhinya langsung dan tidak langsung yaitu faktor fisik, biotik dan makanan.


Kedua kelompok tersebut bekerjasama membentuk corak lingkungan hidup yang berbeda yang bersifat menekan atau merangsang perkembangan OPT. kelompok factor luar dapat dibedakan lagi menjadi factor fisik, biotic dan factor makanan.


Faktor fisik dapat dibedakan menjadi unsur cuaca dan topografi suatu daerah merupakan faktor penghambat atau sekurang-kurangnya mempengaruhi penyebaran OPT. Hal ini disebabkan oleh perbedaan topografi yang menyebabkan terjadinya perbedaan faktor iklim dan secara tidak langsung menimbulkan perbedaan tumbuhan yang tumbuh.


Faktor biotik adalah semua faktor yang pada dasarnya bersifat hidup dan berperan dalam keseimbangan populasi OPT. Termasuk dalam faktor biotik adalah parasit, predator, kompetisi dan resistensi tanaman.Faktor makanan adalah unsur utama yang menentukan perkembangan OPT. tersedianya inang(tanaman dan hewan) yang menjadi sumber makanan merupakan factor pembatas dalam menentukan taraf kejenuhan populasi (carryng Capacity) lingkungan atas OPT.


Faktor cuaca mempunyai peranan penting dalam siklus kehidupan serangga. Dalam batas yang luas, cuaca mempengaruhi penyebarannya, kelimpahanya, dan sebagai salah satu faktor utama penyebab timbulnya serangan hama.


Kelimpahan serangga berhubungan erat dengan perbandingan antara kelahiran dan kematian pada suatu waktu tertentu. Kelahiran dipengaruhi antara lain oleh cuaca, makanan dan taraf kepadatannya. Kematian terutama dipengaruhi oleh cuaca dan musuh alami. Kepadatan dapat mengakibatkan emigrasi yang dapat berarti sebagai kurangnya individu di suatu lokasi yang dianggap suatu kematian. Cuaca berpengaruh langsung terhadap tingkat kelahiran dan kematian, secara tidak langsung cuaca mempengaruhi hama melalui pengaruhnya terhadap kelimpahan organisme lain termasuk musuh alaminya.


Organisme, khususnya serangga mempunyai daya menahan pengaruh faktor lingkungan fisik sehingga menjadi kebal. Organisme serangga dapat mengatasi keadaan yang ekstrem berupa adaptasi yang berhubungan dengan faktor genetis atau penyesuain yang sifatnya fisiologis. Serangga sesuai dengan sifatnya mempunyai kemampuan meyesuaikan diri dengan lingkungan tetapi karena serangga juga mempunyai sayap, serangga dapat pindah menghindari tempat yang ekstrim mencari tempat yang lebih sesuai.


Faktor cuaca dapat mempengaruhi segala sesuatu dalam sistem komunitas serangga anatara lain fisiologi, perilaku, dan ciri-ciri biologis lainnya baik langsung maupun tidak langsung. Faktor cuaca dapat dipisahkan menjadi unsur-unsur cuaca: suhu, kelembaban, cahaya dan pergerakan udara/angin.


1. suhu


Pengaruh suhu terhadap kehidupan serangga banyak dipelajari di negara beriklim dingin/sedang, dimana suhu selalu berubah menurut musim. Di negara tropika seperti Indonesia keadaanya berbeda, iklimnya hampir sama sehingga variasi suhu relatif kecil. Perbedaan suhu yang nyata adalah karena ketinggian. Serangga adalah organisme yang sifatnya poikilotermal sehingga suhu badan serangga banyak dipengaruhi dan mengikuti perubahan suhu udara.


Beberapa aktifitas serangga dipengaruhi oleh suhu dan kisaran suhu optimal bagi serangga bervariasi menurut spesiesnya. Secara garis besar suhu berpengaruh pada (nayar et al, 1981) kesuburan/produksi telur, laju pertumbuhan dan migrasi atau penyebarannya.


Mengukur kecepatan pertumbuhan serangga dalam hubungannya dengan suhu dapat dilakukan sengan thermal constant. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa terdapat hubungan antara perkembangan serangga dengan jumlah thermal constant biasanya dinyatakan dengan hari derajat (day degree accumulation). Walaupun kurang tepat namun sering digunakan untuk perkiraan perkembangan serngga. Potter dan Timmons melaporkan bahwa log-degree day mempunyai korelasi yang tinggi dengan kumulatif persentase tangkapan hama penggerek tanaman hortikultura. Ternyata hubungan tersebut dapat digunakan untuk menduga saat penerbangan pertama seranga penggerek tersebut.


Hama wereng batang coklat untuk menyelesaikan siklus hidupnya dari telur sampai dewasa/mati membutuhkan total konstanta panas efektif sebesar 500 hari derajat. Untuk mencapai jumlah tersebut diperlukan waktu sebulan (30 hari) untuk generasi musim panas dengan suhu rata-rata harian 27 derajat celcius dan membutuhkan waktu 42 hari untuk generasi musim gugur dengan suhu rata-rata harian 22 derajat celcius (Kisimoto, 1981)


Kematian serangga dalam hubungannya dengan suhu terutama berkaitan dengan pengaruh batas-batas ekstrim dan kisaran yang masih dapat ditahan serangga (suhu cardinal). Suhu yang sangat tinggi mempunyai pengaruh langsung terhadap denaturasi/ merusak sifat protein yang mengakibatkan serangga mati. Pada suhu rendah kematian serangga terjadi karena terbentukknya kristal es dalam sel.


2. Kelembaban

Serangga seperti juga hewan yang lain harus memperhatikan kandungan air dalam tubuhnya, akan mati bila kandungan airnya turun melewati batas toleransinya. Berkurangnya kandungan air tersebut berakibat kerdilnya pertumbuhan dan rendahnya laju metabolisme. Kandungan air dalam tubuh serangga bervariasi dengan jenis serangga, pada umumnya berkisar antara 50-90% dari berat tubuhnya. Pada serangga berkulit tubuh tebal kandungan airnya lebih rendah.


Agar dapat mempertahankan hidupnya serangga harus selaluu berusaha agar terdapat keseimbangan air yang tepat. Beberapa serangga harus dilingkungan udara yang jenuh dengan uap air sedang yang lainnya mampu menyesuaikan diri pada keadaan kering bahkan mampu menahan lapar untuk beberapa hari.


Kelembaban juga mempengaruhi sifat-sifat, kemampuan bertelur dan pertumbuhan serangga.

3. Cahaya

Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, perkembangannya dan tahan kehidupannya serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Cahaya mempengaruhi aktifitas serangga, cahaya membantu untuk mendapatkan makanan, tempat yang lebih sesuai.


Setiap jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda untuk aktifitasnya. Berdasarkan hasl di atas serangga dapat digolongkan

o Serangga diurnal yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi aktif pada siang hari

o Serangga krepskular adala serangga yang membutuhkan intensitas cahaya sedang aktif pada senja hari.

o Serangga nokturnal adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya rendah aktif pada malam hari

o


Penelitian menunjukkan bahwa cahaya bulan berpengaruh nyata pada tangkapan lampu perangkap terhadp serangga nokturnal.


4. pergerakan udara

pergerakan udara merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran kehidupan serangga. Penyebaran arah serangga kadang mengikuti arah angin.